WARTAKOTALIVE.COM - Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD meyakini bahwa penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus hanya bisa kelar apabila tidak ada campur tangan politik.
Hal itu diungkapkan Mahfud MD setelah dua pekan kasus penyiraman air keras Andrie Yunus terkatung-katung.
Melalui siaran podcast resmi Terus Terang yang diunggah di akun Youtube Mahfud MD pada Selasa (31/3/2026), mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menjabarkan praduganya dalam kasus penyiraman air keras ini.
Mahfud MD secara gamblang menyebut insiden tersebut bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan sebuah operasi intelijen hitam terstruktur untuk melemahkan demokrasi.
Kasus yang kini memasuki hari ke-18 tanpa kejelasan aktor intelektualnya ini, menurut Mahfud, menjadi ujian krusial bagi kelangsungan demokrasi di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Mahfud memberikan apresiasi tinggi terhadap kemampuan teknis Polri yang sebenarnya telah berhasil mengidentifikasi pelaku dalam waktu singkat.
Namun, ia menyisipkan pesan peringatan yang tajam.
Yakni Polri hanya akan mampu mengungkap tuntas kasus ini jika tidak ada intervensi atau "gangguan" dari institusi lain maupun kepentingan politik.
“Saya meyakini Polri itu jagonya kalau soal teknis reserse. Masalahnya, sering kali ada hambatan berupa politisasi atau keterlibatan institusi lain yang membuat kasus tersendat," ujar Mahfud seperti dimuat Wartakotalive.com.
Ia juga menyinggung ketidaksinkronan yang sering terjadi antara Polri, TNI, dan Kejaksaan sebagai hambatan klasik dalam penegakan hukum di Indonesia.
"Hubungan Polri dengan TNI memang terasa tidak bisa ditutupi, ada tarik-menarik. Sejago-jagonya reserse Polri, hambatan terbesarnya adalah politisasi," ujar Mahfud.
Sementara itu Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel masih merasa janggal dengan keterlibatan BAIS TNI dalam peristiwa teror penyiraman air keras aktivis KontraS Andrie Yunus.
Pasalnya apabila kasus kriminal terencana tersebut dilakukan oleh anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, pengerjaannya terlalu berantakan.
Pakar psikologi forensik lulusan Melbourne University itu menyoroti berantakannya jejak yang ditinggalkan oleh para eksekutor saat melakukan aksi teror penyiraman air keras tersebut.
Baca juga: Pangkat dan Matra Anggota TNI, Eksekutor Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
Misalnya saja mulai dari tidak memakai sarung tangan, tidak pakai masker atau penutup wajah, hingga meninggalkan barang bukti di tempat kejadian perkara (TKP).
Menurut Reza Indragiri, hal itu terlihat janggal sebab yang dilibatkan seorang intelijen.
"Bisa lihat, ini orang katanya dari Bais (Badan Intelijen Strategis). Tapi betapa joroknya operasi mereka gitu. Enggak pakai tutup muka, enggak pakai sarung tangan, barang bukti dilempar begitu saja," jelas Reza dihubungi Rabu (18/3/2026).
Maka Reza menduga, jangan-jangan operasi tersebut sengaja dibuat kotor agar mudah terungkap ke publik.
Tujuannya bisa saja untuk menyudutkan satu lembaga tertentu.
Dalam kriminologi kata Reza, hal itu disebut False Flag Operation atau Operasi bendera palsu.
False Flag Operation adalah tindakan rahasia—seringkali berupa kekerasan atau tindakan yang mengganggu—yang direkayasa oleh pemerintah, perusahaan, atau kelompok untuk membuat seolah-olah pihak lain yang bertanggung jawab, sehingga menyamarkan sumber sebenarnya.
Kata ini berasal dari peperangan laut, operasi ini dirancang untuk memanipulasi opini publik, membenarkan perang, atau menjebak musuh.
Reza melihat joroknya operasi teror terhadap Andrie Yunus seperti mengesankan agar pelaku bisa segera ditangkap sehingga sesuai dengan tujuan adanya teror tersebut.
"Dan sejak awal saya katakan bahwa dua orang ini menyerahkan diri saja. Itu eksplisit saya kemukakan bahwa dua orang ini seperti menyerahkan diri saja,"
"Kenapa? Karena kalian ini dipekerjakan agar kalian itu ditangkap," tutur Master di bidang Psikologi Forensik itu.