Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) menyebutkan uang palsu yang berhasil diungkap oleh Ditreskrimsus Polda Metro Jaya di Bogor, Jawa Barat, pada Senin (30/3), berkualitas rendah.
"Berdasarkan pemeriksaan awal Bank Indonesia atas sampel barang bukti, teridentifikasi bahwa barang bukti tersebut merupakan uang palsu dengan kualitas yang sangat rendah dan sangat mudah diidentifikasi dengan kasat mata melalui metode 3D (Dilihat, Diraba, dan Diterawang)," kata Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Budi Sudaryono saat konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Budi menyebutkan uang palsu tersebut dicetak dengan menggunakan teknik cetak biasa, menggunakan mesin printer biasa, tidak ada unsur pengaman uang yang berhasil dipalsukan, antara lain benang pengaman, watermark, electrotype, dan blind code.
"Dengan demikian, dapat dikatakan uang palsu tersebut berkualitas sangat rendah seperti temuan uang palsu pada kasus-kasus sebelumnya," katanya.
Bank Indonesia siap mendukung Polri untuk melakukan penelitian lebih lanjut terhadap seluruh barang bukti dugaan uang palsu tersebut.
"Sejalan dengan best practice (metode) internasional, Bank Indonesia terus berupaya melakukan penguatan kualitas uang Rupiah sebagai bagian dari strategi preemptive dalam penanggulangan uang palsu agar desain uang Rupiah semakin mudah dikenali dan menyulitkan pemalsuan," katanya.
Budi juga mengajak masyarakat untuk mengenali ciri keaslian uang Rupiah dan mengimbau masyarakat untuk memastikan keaslian uang Rupiah melalui metode 3D diiringi penguatan koordinasi dengan seluruh unsur Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu (Botasupal) dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan uang palsu.
"Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga dan merawat uang Rupiah dengan baik agar keasliannya lebih mudah dikenali," ucapnya.
Untuk itu Budi mengingatkan masyarakat agar senantiasa menerapkan 5 'Jangan': Jangan dilipat, Jangan dicoret, Jangan distapler, Jangan diremas, dan Jangan dibasahi.





