TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Barat merilis data inflasi Sulbar periode Maret 2026.
Hasilnya, tak ada lonjakan inflasia meski permintaan pasar tinggipada momentum puasa dan idulfitri 1447 Hijriah.
Justru sebaliknya, tren pasar cenderung tenang dan kondusif.
Baca juga: BREAKING NEWS: Bendahara Perumda Majene Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi Rp1,83 Miliar
Baca juga: Celengan di Ruko Banua Baru Polman Dibobol OTK Tabungan Rp11 Juta Raib
Inflasi bulanan (month-to-month) pada Maret 2026 hanya menyentuh angka 0,08 persen.
Stabilitas harga kali ini terlihat pada kelompok komoditas Barito (bawang, rica/cabai, dan tomat).
Secara historis, kelompok ini sering kali menjadi biang kerok inflasi yang bisa melonjak hingga dua digit.
"Alhamdulillah, tahun ini inflasinya hanya nol koma sekian (untuk Barito). Ini menjadi kesyukuran kita semua. Masyarakat kita yang gemar sambal bisa menikmati hidangan Lebaran sesuai selera tanpa ada gejolak harga," ujar Kepala BPS Sulbar, Suri Handayani saat press conference di aula BPS Sulbar, Jl RE Martadinata, Keluruhan Simboro, Kabupaten Mamuju, Rabu (1/4/2026).
Suri menuturkan, ketersediaan stok yang mencukupi membuat harga di pasar tetap terjangkau, sehingga masyarakat dapat mengakses kebutuhan pangan sehari-hari dengan tenang.
Selain bumbu dapur, komoditas protein seperti daging ayam dan telur biasanya juga menjadi kekhawatiran menjadi penyumbang inflasi utama saat Lebaran.
Suri mengakui sempat ada dinamika pada pasokan telur dan ayam karena masa panen peternak lokal yang belum mencukupi.
Tetapi langkah antisipatif pemerintah daerah dalam mendatangkan pasokan dari provinsi tetangga terbukti efektif meredam gejolak.
"Memang sempat ada kenaikan harga ayam dari Rp 55.000 ke Rp 65.000, tapi secara andil terhadap inflasi keseluruhan tetap kecil. Artinya, teori supply and demand tertangani dengan baik lewat gerakan cepat pemerintah daerah," jelas Suri.
Meski inflasi bulanan sangat terkendali, secara tahunan (year-on-year), Sulbar mencatatkan inflasi sebesar 2,94 persen.
Berdasarkan pantauan BPS, sebaran inflasi di tingkat kabupaten Mamuju 3,80 persen (IHK 111,40) dan Majene 2,38 persen (IHK 110,12).
Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan harga signifikan (y-on-y) seperti perawatan pribadi dan Jasa lainnya naik 8,66 persen.
Kemudian perumahan, air, listrik, dan bahan bakar naik 5,59 persen, serta makanan, minuman, dan tembakau naik 3,68 persen.
Dengan berakhirnya masa libur Lebaran, BPS berharap kondisi harga yang kondusif ini tetap terjaga.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Suandi