Ketua AWMI Sebut Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon Adalah Pahlawan Kemanusiaan
Muhammad Fatoni April 01, 2026 07:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gugurnya tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan memantik simpati mendalam. 

Salah satu Prajurit TNI yang gugur dalam misi tersebut adalah Praka Farizal Rhomadhon (28), warga Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Ketua Asosiasi World Muaythai Indonesia (AWMI), Dewanto P Siregar, menyampaikan duka cita mendalam atas pengorbanan para Prajurit TNI di garis depan.

​Ia pun mengapresiasi Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, yang telah memberikan atensi penuh, termasuk menyiapkan investigasi bersama PBB dan langkah-langkah kontingensi demi keamanan prajurit lainnya.

​"Panglima TNI memberikan penghormatan tertinggi kepada prajurit yang gugur dalam latihan maupun tugas operasi," ujar Dewanto, Rabu (1/4/2026).

​Menurutnya, para prajurit yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL tersebut memikul tanggung jawab besar di wilayah konflik.

Mulai dari patroli keamanan di sepanjang blue line hingga menjaga stabilitas bagi warga sipil, sehingga risiko yang dihadapi pun tidak dapat dianggap sepele.

​"Mereka adalah pahlawan yang berjuang jauh dari tanah air demi kemanusiaan. Pengorbanan mereka akan selalu dikenang dalam sejarah diplomasi pertahanan Indonesia," tambahnya.

Baca juga: Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Dosen UMY: Pelanggaran Serius Hukum Internasional

Sri Sultan HB X Turut Sampaikan Duka Cita 

​Sebelumnya, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, turut menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya prajurit TNI Praka Farizal Rhomadhon.

​Meski menyadari sepenuhnya, bahwa penugasan di daerah konflik membawa risiko besar, Ngarsa Dalem berharap agar peristiwa tragis ini jangan sampai terulang kembali.

"Yang namanya penugasan itu memang dari awal juga sudah disadari, pasti ada pengorbanan. Jadi, risiko-risiko itu ada," katanya, di Balai Kota Yogyakarta, Selasa (31/3/2026).

Sri Sultan menekankan, setiap prajurit yang dikirim ke daerah konflik sejatinya sudah dibekali pemahaman mengenai konsekuensi terburuk yang bisa terjadi. 

Kendati demikian, secara kemanusiaan, hilangnya nyawa seorang prajurit ketika bertugas tetap menjadi luka bagi keluarga, maupun daerah asalnya.

​"Yang namanya (tugas) di daerah konflik itu konsekuensinya akan jauh lebih mungkin ada korban, daripada tempat yang aman dan nyaman," ungkapnya.

​Lebih lanjut, Ngarsa Dalem memberi desakan tersirat agar pengamanan dan prosedur penugasan di masa depan dapat lebih meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa.

Dirinya berharap, dalam misi-misi berikutnya, jangan sampai ada lagi keluarga di DIY maupun di Indonesia yang harus menerima kabar duka serupa dari medan tugas.

"Harapan saya ini (insiden) yang terakhir, jangan ada korban lagi, kan gitu," pungkas Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.