TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Persiapan PSIM Yogyakarta menantang tuan rumah Dewa United Banten FC, Jumat (3/4/2026), dibayangi dengan krisis kelengkapan skuad.
Selain harus kehilangan Fahreza Sudin akibat akumulasi kartu dan Anton Fase yang cedera panjang, Laskar Mataram terancam tidak diperkuat bek asal Tajikistan, Rahmatsho Rahmatzoda, yang mengalami memar saat sesi latihan rutin.
Kabar mengenai kondisi Rahmatsho muncul setelah pemain bertahan tersebut tidak terlibat penuh dalam aktivitas fisik pada sesi latihan di Yogyakarta, Selasa (31/3/2026).
Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul Van Gastel, menyatakan bahwa dirinya masih harus menunggu rekomendasi dari tim medis klub untuk memastikan kesiapan sang pemain sebelum bertolak ke Banten.
“Rahmatsho mengalami sedikit memar dalam sesi latihan kemarin. Jadi dokter bilang, lebih baik dia tidak melakukan latihan fisik hari ini (31/3/2026),” ujar Van Gastel saat ditemui usai memimpin latihan tim.
Ketidakpastian kondisi Rahmatsho menambah beban di lini pertahanan, mengingat PSIM Yogyakarta sebelumnya sudah dipastikan kehilangan dua penggawa lainnya.
Baca juga: Gelandang PSIM Yogyakarta Fahreza Sudin Absen Tiga Laga, Ini Penyebabnya
Fahreza Sudin harus absen karena menjalani hukuman akumulasi kartu merah, sementara proses pemulihan Anton Fase berjalan di luar ekspektasi tim pelatih.
“Anton masih belum tersedia karena memang proses penyembuhannya bisa dibilang lambat. Saya belum tahu pasti kapan dia (Anton) akan kembali,” ungkap pelatih asal Belanda tersebut.
Meski dihantam masalah absensi pemain, Van Gastel melaporkan bahwa secara umum kebugaran tim dalam level yang memuaskan.
Jeda libur Lebaran selama beberapa hari terakhir dimanfaatkan para pemain untuk memulihkan kondisi fisik dan psikologis sebelum memasuki jadwal padat kompetisi.
“Kondisi mereka bagus. Mereka kembali dengan baik dari liburan guna menyegarkan pikiran dan tubuh mereka,” kata Van Gastel.
Terkait persiapan teknis, Van Gastel menegaskan tidak melakukan perubahan radikal atau strategi khusus untuk merespons kekuatan lawan.
Ia memilih untuk mematangkan fondasi permainan internal timnya sendiri melalui repetisi prinsip-prinsip taktis dasar.
“Prinsip-prinsip bertahan dan menyerang, itu ada di semua latihan kami hari ini. Kalau persiapan melawan Dewa, saya fokus pada tim saya sendiri dan cara kami ingin bermain,” tuturnya.
Di sisi lain, kewaspadaan tinggi tetap ditekankan mengingat Dewa United Banten FC telah melakukan pembenahan besar-besaran.
Selain pengalaman bertanding di level kontinental, hadirnya tenaga baru di bursa transfer paruh musim dinilai membuat kekuatan tuan rumah semakin sulit diprediksi.
“Saya pikir, mereka sudah memiliki tim amat tangguh. Mereka melangkah jauh di Liga Asia, sayangnya tersingkir dari kompetisi itu, tapi mendapat bala bantuan tambahan pemain baru di bursa transfer sehingga membuat Dewa menjadi tim lebih kuat sekarang,” jelas Van Gastel.
Van Gastel menyadari bahwa mengamankan poin di kandang Dewa United bukanlah pekerjaan mudah.
Ia memprediksi laga tersebut akan berjalan sengit sebagaimana karakter kompetisi di tanah air.
“Jadi ini akan menjadi pertandingan yang sulit bagi kami. Tapi, saya pikir setiap pertandingan di Indonesia itu sulit,” tandasnya. (*)