Geger Pengobatan dengan Mantra Tak Senonoh, Dukun di Sinjai Minta Maaf
Alfian April 01, 2026 07:21 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, SINJAI - Seorang pria bernama Risal yang diduga berprofesi sebagai dukun di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, menjadi sorotan publik setelah dua video ritual pengobatannya viral di media sosial.

Dalam video pertama berdurasi 59 detik, Risal terlihat mengajarkan mantra kepada sejumlah ibu-ibu untuk mengatasi tulang ikan yang tersangkut di tenggorokan.

Namun, isi mantra tersebut menuai kritik karena mengandung kata-kata tidak pantas dalam bahasa Bugis.

Dalam video kedua berdurasi 1 menit 27 detik, Risal kembali melakukan ritual serupa.

Ia tampak berkomat-kamit di depan baskom berisi air dengan gerakan menyerupai tata cara salat, seperti mengangkat tangan hingga rukuk.

Terlihat pula seseorang memegang ayam jantan di dekatnya.

Baca juga: Dua Video Dukun di Sinjai Viral, Ajarkan Mantra Tak Senonoh hingga Tirukan Gerakan Salat

Menanggapi viralnya video tersebut, Risal menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.

Ia menegaskan tidak memiliki tujuan lain selain membantu proses pengobatan alternatif.

“Mengenai video saya yang viral, saya minta maaf. Tidak ada tujuan lain kecuali khusus dalam pengobatan saja,” kata Risal saat ditemui Tribun-Timur di Rumahnya di Desa Era Baru, Kecamatan Tellulimpoe, Rabu (1/4/2026).

Desa Era Baru berjarak 28 kilometer dari Ibu Kota Sinjai dengan waktu tempuh 45 menit.

Risal yang didampingi istrinya menjelaskan praktik pengobatan alternatif tersebut telah dilakukan sebelum dirinya bersama Risal, namun baru rutin dijalankan dalam tujuh tahun terakhir.

“Sekitar tujuh tahun mulai pengobatan,” ujarnya. 

Ia menyebut, dalam sehari Risal dapat menangani sekitar 25 pasien yang mendaftar melalui admin.

Terkait tarif, ia mengaku tidak mematok harga tertentu dan bergantung pada kondisi pasien.

“Tidak ada tarif khusus, tergantung penyakit pasien,” katanya. 

Menurutnya, metode pengobatan yang dilakukan beragam, mulai dari menggunakan air, bawang merah, hingga ritual mandi, disertai pembacaan mantra.

Ia juga mengklaim sebagian besar pasien yang datang mengalami penyakit nonmedis.

Meski demikian, beberapa pasien disebut datang dengan keluhan medis seperti sakit lambung, sakit kepala, dan pusing.

“Pengobatan yang kita lakukan untuk medis dan non medis,” ujarnya. 

Ia juga mengaku sering menerima pesan ucapan terima kasih dari pasien yang merasa terbantu setelah menjalani pengobatan.

“Bahkan salah satu pasien asal Makassar memberikan klarifikasi karena merasa bersyukur telah sembuh dari penyakit gula,” katanya. 

Proses pengobatan biasanya dilakukan mulai pukul 11.00 Wita hingga selesai.

Risal ungkap dirinya kerap mengalami efek samping setelah melakukan pengobatan, terutama untuk kasus yang dianggap nonmedis.

“Saya sering mengalami mimpi aneh hingga gangguan saat beristirahat,” katanya.

Ia menceritakan pengalaman saat mengobati pasien dari Parepare.

“Saya mendengar suara batu di atap rumah, rumah bergoyang, hingga suara bayi menangis pada malam hari,” ujarnya. 

Ketua I MUI Sinjai, Fadhlullah Marzuki, mengatakan konten tersebut tidak pantas dan tidak seharusnya disebarluaskan di ruang publik. 

“Yang disampaikan dalam video tersebut tidak etis, apalagi mengaitkan asma Allah dengan kata-kata yang tidak senonoh. Hal seperti ini tidak dibenarkan,” kata Fadhlullah kepada Tribun-Timur, Selasa (31/3/2026).

Ia menyebut praktik yang ditampilkan dalam video tersebut telah menyimpang dari ajaran Islam dan berpotensi melanggar syariat.

Fadhlullah mengungkapkan, setelah video tersebut viral, yang bersangkutan telah mendatangi pihaknya untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung.

“Kami sudah menyarankan agar yang bersangkutan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik dan bertaubat,” ujarnya, 

Ia menegaskan Indonesia adalah negara hukum, sehingga jika ada pihak yang melaporkan kasus tersebut, maka proses hukum tetap harus dijalani.

“Dalam Islam ada pengobatan yang sesuai syariat dan ada yang menyimpang,” katanya.

Lanjut Fadhlullah mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih metode pengobatan dan tidak mudah tergiur praktik yang tidak sesuai dengan syariat.

“Masyarakat harus bisa memilah agar tidak terjebak pada praktik yang bertentangan dengan ajaran agama,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk mengutamakan pengobatan medis di fasilitas kesehatan, serta memilih metode pengobatan alternatif yang sesuai dengan ajaran agama.

“Kami tetap percaya bahwa ikhtiar melalui pengobatan medis dan doa adalah jalan yang benar. Penyakit datang dari Allah, dan kesembuhan juga dari-Nya,” katanya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.