Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO – Penulis sekaligus seniman Panji Sukma membantah tuduhan pelecehan dan kekerasan seksual yang dilaporkan oleh perempuan berinisial SS.
Meski demikian, Panji mengakui memiliki kedekatan dengan SS, yang awalnya bermula dari interaksi profesional terkait karya tulis.
Panji menjelaskan, perkenalan dengan SS dimulai melalui pesan langsung (DM) di Instagram.
SS menghubunginya untuk berkonsultasi mengenai tulisan yang sedang dibuat.
“Awalnya SS mengirim DM ke saya, menanyakan soal tulisannya. Lalu kami bertemu untuk membahas karya tersebut,” ujar Panji, Rabu (1/4/2026).
Dalam pertemuan itu, Panji meminta SS membawa karya tulisnya untuk bahan diskusi.
Namun, pertemuan tersebut hanya terjadi sekali dan tidak berlanjut.
“Ketika mau konsultasi, saya minta membawa karya. Tapi hanya sekali, di pertemuan pertama. Setelah itu dia tidak melanjutkan menulis, jadi tidak ada lagi pembahasan soal penulisan maupun sastra,” jelas Panji.
Meski konsultasi karya hanya sekali, hubungan keduanya disebut Panji semakin dekat.
Kondisi tersebut terjadi saat Panji tengah putus hubungan dengan kekasihnya.
“Setelah itu kami jadi dekat. Dia sering datang ke rumah, bahkan menginap. Aktivitasnya juga biasa saja, seperti pulang kerja, mandi, makan, lalu ke kamar saya,” ungkap Panji.
Panji menyoroti tuduhan pelecehan yang disebut terjadi pada 5 November 2025.
Ia menilai tuduhan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.
“Kalau disebut ada kejadian pada 5 November, setelah itu dia masih sering datang dan menginap di rumah saya. Aktivitasnya normal saja seperti biasa,” kata Panji.
Ia menambahkan, selama SS berada di rumahnya, ada anggota keluarga lain termasuk ibunya, sehingga tuduhan pelecehan menurut Panji sulit diterima.
“Di rumah ada ibu saya. Jadi kalau ada tuduhan pelecehan atau pemerkosaan itu sangat aneh. SS juga orang yang pintar dan berkuliah dengan baik,” lanjutnya.
Baca juga: Kuasa Hukum Panji Sukma Siapkan Langkah Hukum Terhadap Akun Penyebar Fitnah Dugaan Pelecehan di Solo
Panji menilai konflik muncul ketika SS mengetahui dirinya kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasih.
Menurut Panji, sempat terjadi ketegangan antara SS dan pasangannya.
“Ketika dia tahu saya balikan dengan pacar saya, dia sempat menemui pacar saya dan ada saksi. Bahkan sempat menghasut agar meninggalkan saya,” terangnya.
Selain itu, Panji menyebut bahwa ia sempat membantu dan merawat SS saat kondisi kesehatannya menurun, termasuk mendampinginya di rumah sakit.
Namun, setelah kasus dugaan pelecehan mencuat, Panji mengaku tidak lagi berkomunikasi dengan SS.
Ia juga mengklaim diminta membuat pengakuan publik sebelum kasus menjadi viral.
“Sebelum memviralkan, dia meminta saya membuat pengakuan publik di media sosial bahwa saya melakukan pelecehan. Jika tidak, akan dibawa ke jalur hukum. Saya memilih tidak menanggapi karena merasa tidak melakukan itu,” pungkas Panji.
Baca juga: Kuasa Hukum Ungkap Relasi Panji Sukma dan Terduga Korban Pelecehan di Solo : Sebatas Diskusi Tulisan
Di sisi lain, pelapor SS menegaskan adanya relasi kuasa antara dirinya dan Panji, di mana Panji berperan sebagai guru sekaligus investor, sementara ia berada di posisi murid dan pelaksana proyek.
Ia menyebut peristiwa paling berat terjadi pada 5 November 2025, yang diklaim sebagai hubungan seksual tanpa persetujuan.
“Saat itu saya dalam kondisi rapuh setelah menjalani perawatan dari psikiater. Saya tidak memiliki konsen yang jelas, dan terlapor memanfaatkan kondisi tersebut dengan manipulasi psikologis,” ungkap korban.
Panji kini jadi sorotan media setelah muncul dugaan kasus pelecehan dan kekerasan seksual.
Pada akhir Maret 2026, korban membuat unggahan di media sosial (X) yang memuat cerita pengalaman pahitnya, menyebut bahwa Panji Sukma melakukan kekerasan seksual dan beberapa bentuk perlakuan abusif terhadapnya.
Selain itu, korban juga menuding Panji meminta foto bagian tubuh sensitif pada April 2025 dan mengirim foto tidak senonoh pada November 2025.
Akibat peristiwa ini, korban mengalami dampak psikis serius, kehilangan fokus kerja, hingga akhirnya kehilangan pekerjaan.
(*)