TRIBUNNEWS.COM - Sikap tak sabar adik Valentino Rossi, Luca Marini perlahan mirip dengan kebiasaan buruk Fabio Quartararo pada MotoGP 2026.
Pasca-balapan MotoGP Amerika 2026 di Circuit of The Americas (COTA) akhir pekan lalu, Luca Marini tak bisa menyembunyikan kekesalannya terhadap motor Honda Racing Corporation (HRC), RC213V.
Balapan campur aduk dirasakan oleh pembalap Honda HRC bernomor #10 ini.
Bagaimana tidak, di hari Sabtu ia mampu finis lima besar pada sesi sprint. Sedangkan pada hari Minggu, semua berjalan berubah drastis dengan finisnya yang harus terdampar di posisi kesembilan.
Memang sekilas itu masih 10 besar. Namun adik Valentino Rossi ini tertinggal 14,5 detik dari pembalap tercepat alias pemenangnya, Marco Bezzecchi (Aprilia).
Tidak cuma itu saja, awal balapan Marini juga berlangsung buruk.Diperparah dengan starter Honda yang katanya sangat tidak enak.
"Saya rasa semuanya terjadi di awal," jelas Marini dikutip dari laman Speedweek.
"Saya tidak mendapatkan posisi start sebaik hari Sabtu, tetapi yang terpenting, saya mengalami start yang sangat buruk."
"Itu sangat aneh karena biasanya kami selalu memulai dengan sangat baik."
Meski tidak secara spontan membuka ketidakpuasan dalam pengembangan RC213V, mantan pembalapa Mooney VR46 Racing Team ini tidak sabar untuk mendapatkan progres signifikan.
"Kita bahkan tidak bisa berpikir untuk mengakhiri musim dengan hasil seperti ini. Kami ingin meningkatkan performa dan setidaknya berjuang untuk podium di beberapa balapan."
"Dengan Honda, feeling terhadap kopling biasanya fantastis, tetapi tidak kali ini. Ada sesuatu yang salah, dan kita perlu memahaminya," tambahnya.
Baca juga: Mode Darurat Menyala, Bos Ducati Sebut Hasil MotoGP Amerika 2026 sebagai Alarm Bahaya
"Tapi ini bukan langkah maju yang besar dibandingkan dengan versi standar, tetap saja, ini lumayan," ucapnya memungkasi.
Keluh kesah Luca Marini tak ubahnya dengan Fabio Quartararo yang mulai doyan yapping atau berbicara terus-menerus. Bahkan sejak musim lalu.
Puncaknya terjadi di MotoGP 2026 yang akhirnya memicu komentar paling keras dari Fabio Quartararo.
Juara dunia 2021 itu secara terbuka mengakui bahwa timnya saat ini kebingungan mencari solusi atas berbagai masalah yang membelit motor mereka.
Dalam tiga seri awal musim ini, Yamaha kesulitan bersaing dengan para rival. Penggunaan mesin V4 terbaru yang diharapkan menjadi titik balik justru belum menunjukkan hasil signifikan di lintasan.
Pada MotoGP Amerika Serikat di Circuit of the Americas (COTA), performa Yamaha kembali mengecewakan. Quartararo hanya mampu memulai balapan dari posisi ke-16, tertinggal hampir enam persepuluh detik dari catatan terbaik di sesi kualifikasi Q1.
Dalam laporan laman MotoGPNews, sikap Quartararo yang terlalu arogan dalam mengkritik Yamaha, mendapatkan banyak kritikan tajam dari penikmat balap MotoGP.
Mereka memandang Quartararo memperlihatkan sikap yang tak seharusnya dipertontonkan seorang pembalap. Apalagi statusnya dia adalah pembalap dengan bayaran tertinggi di grid MotoGP kini.
Tugasnya bukan sekadar untuk menjadi juara dunia, namun juga menjadi acuan utama dalam memberikan feedback untuk pengembangan M1.
Jika Luca Marini mulai tertular kebiasaan buruk Quartararo yang doyan mengeluh, lain cerita dengan Joan Mir.
Juara dunia MotoGP 2020 ini justru memandang positif pengembangan motor Honda, meski dirinya gagal merampungkan balapan utama MotoGP Amerika 2026 akibat crash berujung DNF (Did Not Finish).
"Yah, hasil ini (di Amerika-red) sedikit banyak merupakan konsekuensi dari memacu motor hingga batas maksimalnya," tegas Joan Mir, dikutip dari laman Crash.
“Itulah intinya. Kita harus menganalisis dengan baik apa yang terjadi karena itu cukup tak terduga, sedikit mirip dengan kemarin.”
“Seperti yang bisa Anda bayangkan, saya kecewa karena kami menunjukkan potensi yang sangat bagus," sambung mantan pembalap Suzuki Ecstar.
Ketimbang mengkritik pengembangan motor, Joan Mir memilih mawas diri dan berpandangan dirinya belum siap dengan daya ledak tinggi motor RC213V.
“Dalam tiga balapan ini, kami selalu menunjukkan potensi yang baik, dan secara konsisten berada di lima besar. Tapi, kami belum siap untuk itu," ujar Mr.Miraculous mengakhiri.
(Tribunnews.com/Giri)