Wamenkes Sebut Pelaksanaan Imunisasi Campak untuk Nakes Tunggu Persetujuan BPOM
Erik S April 01, 2026 09:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah mempertimbangkan, pemberian vaksin campak bagi kelompok dewasa khususnya tenaga medis (named) dan tenaga kesehatan (nakes), termasuk dokter internship.

Hal ini mencuat pasca meninggalnya dokter internship di Cianjur, Jawa Barat karena terpapar campak saat bertugas di RS. 

Selama ini, vaksin campak lebih dikenal sebagai bagian dari imunisasi program untuk anak-anak. 

Namun karena ada risiko tinggi terpapar di fasilitas kesehatan, mendorong pemerintah untuk mengkaji kemungkinan pemberian vaksin serupa kepada orang dewasa, terutama bagi nakes dan named.

Terkait pelaksanaannya, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil uji klinis dari BPOM terkait efikasi vaksin campak untuk dewasa.

"Kami masih meminta dari klarifikasi dari BPOM terlebih dahulu bahwa vaksinasi ini memang ada studi efikasinya untuk orang dewasa. Setelah mendapat surat itu maka akan langsung diselenggarakan untuk para nakes yang mempunyai potensi tinggi untuk tertular," kata Dante ditemui di Jakarta Selatan, Rabu (1/4/2026). 

Adapun vaksin yang akan diberikan kepada nakes, kata Dante, nantinya tidak berbeda atau sama dengan vaksin campak untuk anak-anak.

"Vaksinasi itu yang paling penting kan sebenarnya surat indikasinya. Yang ada sekarang kan untuk anak-anak, untuk yang dewasa kami minta kepada BPOM," tegas dia.

Dalam pelaksanaannya nanti, pemberian imunisasi campak bagi nakes akan dilakukan bertahap.

Diawali dengan 10 daerah dengan tingkat risiko penularan campak kepada nakes tinggi.  

"Kami pilih 10 daerah prioritas dulu yang paling tinggi (berhadapan) dengan kasus campak. Setelah itu, kami evaluasi apakah ada potensi untuk menyebarkan ke daerah yang lain," jelas dia.

Baca juga: Muncul Ruam yang Mirip, Ini Beda Campak Biasa dan Campak Jerman atau Rubella 

Meski demikian, Dante menegaskan perlu ada kombinasi antara vaksinasi dan protokol kesehatan dalam pencegahan penularan campak di lingkungan layanan kesehatan.

“Yang paling penting bukan hanya vaksinasi, tetapi bagaimana disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan dengan benar dan selalu menggunakan masker saat melakukan pemeriksaan,” jelasnya.

Data Kasus Campak di RI

Terpisah, Kemenkes melaporkan penurunan signifikan kasus suspek dan terkonfirmasi campak di Indonesia. 

Hingga minggu ke-12 tahun 2026, kasus harian turun drastis sebesar 93 persen, dari puncak 2.220 kasus pada minggu pertama menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret.

Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kemenkes, dr. Andi Saguni, dalam jumpa pers daring di Jakarta, Senin (30/3).

Baca juga: Dokter Muda di Cianjur Meninggal Diduga Campak, Pakar: Ada Risiko Fatal Jarang Disadari Dewasa

“Tren penurunan ini terpantau konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota dengan riwayat lonjakan kasus pada akhir 2025 dan awal 2026,” ujar dr. Andi.

Secara nasional, sekitar 8 persen kasus campak menginfeksi kelompok dewasa (di atas 18 tahun), di mana faktor komorbid dan tingginya intensitas paparan menjadi pemicu risiko keparahan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.