Warga Kurra Tana Toraja Cegah Anemia hingga Stunting Pakai Kelor
Imam Wahyudi April 01, 2026 10:47 PM

TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Pemanfaatan daun kelor sebagai sumber pangan bergizi menjadi fokus dalam kegiatan edukasi yang digelar di Gereja Toraja Sion Tanete, Lembang (Desa) Lipungan Tanete, Kecamatan Kurra, Kabupaten Tana Toraja, Sulsel.

Dalam kegiatan tersebut, praktisi kesehatan Desyanti Tandirerung memperkenalkan berbagai olahan kreatif berbahan dasar daun kelor, seperti puding kelor dan rempeyek kelor, yang langsung dipraktikkan oleh panitia dan peserta.

Usai proses pembuatan, puding kelor dibagikan kepada para orang tua dan anak-anak yang hadir. 

Terlihat para peserta antusias mencicipi olahan tersebut dan menikmati rasanya.

Desyanti menjelaskan, daun kelor memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.

Di antaranya mencegah anemia, meningkatkan produksi ASI, serta memperkuat daya tahan tubuh.

“Kelor mengandung protein, zat besi, dan kalsium yang sangat baik untuk kesehatan, termasuk mendukung kesehatan reproduksi dan kesiapan generasi muda,” ujar Desyanti, Rabu (1/4/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pusat Pengembangan Anak (PPA) ID 0809 Kecamatan Kurra yang mengusung pendekatan edukasi holistik, menggabungkan aspek rohani, kesehatan reproduksi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dalam sesi edukasi, Desyanti juga menyampaikan materi tentang pencegahan kekerasan seksual dan pernikahan dini dengan pesan utama “Anakku adalah Titipan Tuhan”, yang bertujuan membekali orang tua agar mampu melindungi anak-anak mereka.

Tak hanya itu, kegiatan juga melibatkan mahasiswa Fakultas Teologi Kristen IAKN Tana Toraja yang tergabung dalam Kelompok Maelo.

Para mahasiswa, yakni Sintike Sapan, Nafa Intarti, Putri Harta, Suryani Rante Tasik, Sem Pratama Tanngdiong, dan Arianto Sael, tidak hanya belajar teori, tetapi langsung terjun memberikan edukasi kepada masyarakat melalui inovasi pangan lokal.

“Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga mempraktikkan bagaimana teologi dan kewirausahaan bisa menjawab persoalan masyarakat seperti stunting dan perlindungan anak,” kata Desyanti.

Kelompok Maelo juga membagikan puding kelor secara gratis serta memperagakan cara pembuatan rempeyek dan puding kelor, sebagai bentuk edukasi bahwa kelor atau marungga merupakan “emas hijau” yang mudah didapat namun kaya gizi.

Salah satu perwakilan mahasiswa menyebutkan, olahan berbahan kelor tidak hanya sehat, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa makanan sehat pencegah stunting bisa diolah secara kreatif dan memiliki nilai jual,” ujarnya.

Ia juga berharap melalui kegiatan PPA ID 0809 khususnya orang tua, tidak hanya memahami pentingnya perlindungan anak, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan gizi anak untuk menciptakan generasi yang sehat dan tangguh menuju Indonesia Emas 2045.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.