Renungan Harian Katolik Kamis 2 April 2026: Kaki yang Ia Basuh- dari Ziarah ke Pertobatan
Dion DB Putra April 02, 2026 07:19 AM

Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen pada Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Egeria, seorang peziarah perempuan berkebangsaan Spanyol dari abad ke-4(±350–384 M), meninggalkan kepada Gereja sebuah kesaksian yang sangat berharga melalui Itinerarium Egeriae. 

Dalam catatan perjalanannya (381–384), ia mengisahkan pengalaman ziarah ke Yerusalem untuk merayakan sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus langsung di tempat peristiwa-peristiwa itu terjadi. 

Ziarah ini menjadi mungkin setelah Kaisar Konstantinus mengeluarkan Edict Milan (313), yang memberi kebebasan bagi umat Kristen untuk beribadah secara terbuka di aeluruh wilayah imperium Romawi. 

Baca juga: Doa Harian Katolik: Mohon Kesetiaan  di Tengah Godaan Pengkhianatan   

Dalam pengalaman Egeria, liturgi bukan sekadar ritual, melainkan sebuah ziarah konkret. 

Minggu Palma dirayakan di gerbang kota; Perjamuan Tuhan dikenangkan di tempat yang diyakini sebagai ruang perjamuan terakhir; sengsara Kristus diikuti sepanjang jalan menuju Golgota; dan Vigili Paskah dirayakan di sekitar makam Yesus. 

Seluruh perayaan itu membentuk satu kesatuan misteri: perjalanan iman yang menyatukan ruang, waktu, dan keselamatan. Namun sejarah tidak selalu berjalan searah dengan semangat awal ini. 

Memasuki abad ke-11, ziarah ke Tanah Suci mengalami perubahan dramatis. Dalam konteks konflik antara dunia Kristen dan Islam, terutama di bawah kekuasaan Turki, ziarah perlahan berubah menjadi perang. 

Pada tahun 1095, dalam Konsili Clermont, Paus Urbanus II menyerukan Perang Salib pertama. 

Apa yang semula merupakan gerakan kerendahan hati menuju Allah, berubah menjadi gerakan yang dipenuhi ambisi, ketakutan, dan kekerasan, hingga hari ini. 

(Sebagai catatan: Pada perayaan Minggu Palma 29 Maret baru-baru ini, Pierbattista Pizzaballa Kardinal- PatriarkLatin Yerusalem- sempat tidak diizinkan masuk ke Gereja Makam Suci untuk memimpin misa). 

Akibatnya, akses ke Tanah Suci menjadi terbatas. Liturgi yang dahulu dirayakan secara konkret di tempat-tempat suci kini mengalami pergeseran. 

Di Gereja Barat, perayaan menjadi semakin simbolis. Bahkan Vigili Paskah yang seharusnya dirayakan pada malam hari, sempat dipindahkan ke pagi hari. 

Dalam situasi ini, umat mencari bentuk-bentuk baru untuk tetap menghayati sengsara Kristus. 

Maka lahirlah devosi Jalan Salib, yang dipopulerkan oleh Ordo Fransiskan, sebagai “ziarah rohani” bagi mereka yang tidak dapat pergi ke Yerusalem. 

Berabad-abad kemudian, pada tahun 1884, naskah Itinerarium Egeriae ditemukan kembali oleh Gian Francesco Gamurrini di Biara Monte Cassino, Italia.

Penemuan ini membuka kembali kesadaran Gereja akan bentuk asli perayaan Tri Hari Suci. 

Pembaruan liturgi pun dimulai, terutama oleh Paus Pius XII pada tahun 1951melalui dokumen Dominicae resurrectionis vigiliam, memulihkan vigili paskah di malam hari dan Tahun 1955 melalui dokumen Maxima redemptionis Nostrae Mysteria berisi reformasi menyeluruh seluruh perayaan pekan suci. 

Pembaruan ini kemudian ditegaskan oleh Konsili Vatikan II melalui Sacrosanctum Concilium, yang menegaskan bahwa Triduum adalah satu perayaan yang berlangsung dari Kamis Putih hingga Minggu Paskah. 

Dalam terang pembaruan ini, Gereja mengajak kita untuk memahami bahwa Tri Hari Suci bukan sekadar peringatan, melainkan partisipasi dalam misteri keselamatan: sebuah gerak dari penyerahan diri menuju kehidupan baru. 

Di tengah seluruh dinamika sejarah ini, liturgi Kamis Putih menghadirkan satu tindakan yang sangat sederhana namun radikal: pembasuhan kaki. 

Dalam Yohanes 13:1–15, Yesus membungkuk, mengambil air, dan membasuh kaki para murid-Nya. 

Ia, Tuhan dan Guru, memilih menjadi pelayan. Ia mengambil kotoran dari kaki mereka, memulihkan mereka, dan menyucikan langkah hidup mereka. 

Ia menjadi hina agar manusia dimuliakan; Ia menderita agar martabat manusia dipulihkan. Tindakan ini bukan sekadar simbol. Ia adalah inti dari seluruh misteri Paskah.

Dalam pembasuhan kaki, kita melihat arah sejati dari ziarah iman menuju kerendahan hati dan pelayanan. 

Di sinilah kita menemukan kontras yang tajam. Ziarah yang dahulu merupakan jalan menuju Allah dalam kerendahan hati, dalam sejarahnya pernah berubah menjadi perang yang penuh kekerasan. 

Tanah suci yang seharusnya menjadi ruang perjumpaan dengan Allah, justru menjadi medan konflik yang tak kunjung selesai. 

Hingga kini perang masih berkecamuk. Sejarah adalah cermin yang jujur bagi kita: Iman dapat engan mudah berubah arah dan kehilangan roh pelayanan. 

Perayaan Kamis Putih mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang kita: Kaki siapa yang harus saya “basuh” hari ini? Dalam hal apa saya harus bertindak seperti Yesus, menanggalkan jubah kehormatan dan mengenakan kain pelayanan?

Di sinilah ziarah kita dimulai Kembali bersama Yesus Sang Juru selamat. 

Seperti ajakanNya: “Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat padamu” (Yoh.13:15) Amin. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.