TRIBUN-MEDAN.com - Terjadi gempa di wilayah Bitung, Sulawesi Utara (Sulut) Kamis(2/4/2026).
Gempa mengakibatkan gelombang tsunami.
Tsunami merembet ke wilayah Halmahera Barat, Maluku Utara.
Gelombang Tsunami dikabarkan setinggi 0,3 meter.
Tsunami tersebut imbas dari gempa bumi magnitudo 7,6 yang terjadi di Bitung, Sulawesi Utara
"Pemutakhitan tsunami akibat gempa bumi mag 7,6 telah terdeteksi tsunami 0,3 meter di Halmahera Barat," tulis akun resmi BMKG di X dikutip Kamis(2/4/2026).
Selain di Halmahera Barat, tsunami juga terjadi di Bitung setinggi 0,2 meter pada pukul 07.15 WITA.
Sebelumnya, gempa M 7,6 itu berpotensi tsunami di wilayah Malut dan Sulut.
Gempa terjadi pada pukul 05.48 WIB.
Baca juga: Update Ranking FIFA Posisi Indonesia, Vietnam Tembus 100 Besar, Malaysia Terburuk
"Dirasakan di Ternate V-VI MMI, Ibu V MMI, Manado IV-V MMI, Gorontalo Bone Bolango, Gorontalo Utara III MMI," katanya.
Melansir akun bmkg, skala MMI (Modified Mercalli Intensity) adalah satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Satuan ini diciptakan oleh seorang vulkanologis dari Italia yang bernama Giuseppe Mercalli pada tahun 1902.
Skala Mercalli terbagi menjadi 12.
I MMI
Getaran tidak dirasakan kecuali dalam keadaan luarbiasa oleh beberapa orang.
II MMI
Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang
III MMI
Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.
IV MMI
Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik dan dinding berbunyi.
Baca juga: Kebakaran di Asia Mega Mas Sukaramai Tadi Malam, 12 Rumah Ludes Terbakar, Apa Penyebab Kebakaran?
V MMI
Getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.
VI MMI
Tingkat Skala MMI (Modified Mercalli Intensity) yang menunjukkan bahwa getaran gempa dirasakan oleh semua penduduk, menyebabkan kebanyakan orang terkejut dan berlarian keluar, serta menimbulkan kerusakan ringan seperti plester dinding jatuh dan cerobong asap pabrik rusak
VII MMI
Tiap-tiap orang keluar rumah. Kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan yang konstruksinya kurang baik terjadi retak-retak bahkan hancur, cerobong asap pecah. Terasa oleh orang yang naik kendaraan.
VIII MMI
Kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat. Retak-retak pada bangunan degan konstruksi kurang baik, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen-monumen roboh, air menjadi keruh.
IX MMI
Kerusakan pada bangunan yang kuat, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak retak. Rumah tampak agak berpindah dari pondamennya. Pipa-pipa dalam rumah putus.
X MMI
Bangunan dari kayu yang kuat rusak,rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah rel melengkung, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.
XI MMI
Bangunan-bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa dalam tanah tidak dapat dipakai sama sekali, tanah terbelah, rel melengkung sekali.
XII MMI
Hancur sama sekali, Gelombang tampak pada permukaan tanah. Pemandangan menjadi gelap. Benda-benda terlempar ke udara.
(*/TRIBUN-MEDAN.com)
Sumber: bmkg/ /Tribunews.com
Baca juga: Penyebab Kebakaran di Sidorejo Medan, Awal Sumber Api Dugaan Petugas Damkar
Baca juga: Semakin Memanas Kasus Amsal Sitepu, Demo Digerakkan Kejari Karo? Hari Ini Jaksa Dievaluasi di DPR