Wuih, Ternyata Ada Pohon Mahoni Raksasa Berusia 120 Tahun di Jakarta
GH News April 02, 2026 09:09 AM
Jakarta -

Di tengah padatnya hutan beton ibu kota, sebuah pohon mahoni raksasa berusia lebih dari seratus tahun tetap kokoh berdiri. Terletak di antara gedung-gedung tinggi area apartemen, Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, pohon itu bukan sekadar saksi bisu sejarah masa kolonial, tetapi juga menyimpan beragam cerita dan mitos dari warga sekitar.

Endang Teguh Pramono atau yang akrab disapa Pampam, pemandu dari Walking Tour Step Into Jakarta, menceritakan bahwa pohon mahoni itu adalah saksi bisu peradaban sejak dimulainya industri kereta api di sana. Pohon itu telah melewati era perusahaan kereta api Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), hingga masa pengambilalihan oleh Staatsspoorwegen (SS) pada 1913.

"Ini dari yang awal beneran, dari sebelum ada pabrik. Usianya sudah 120 tahun kira-kira," ujar Pampam saat memandu tur yang diikuti detikTravel pada Rabu (1/4/2026).

Berdasarkan penjelasan prasasti batu yang berada di bawahnya, ukuran pohon itu sangat fantastis. Mahoni raksasa tersebut memiliki lingkar batang mencapai 7,7 meter dan menjulang dengan tinggi antara 34 hingga 38 meter.

Pohon mahoni yang megah itu, di luar ukuran dan usianya yang mengagumkan, tampil sebagai pelindung lingkungan yang luar biasa. Pohon ini memiliki kemampuan luar biasa untuk merespons dan mengurangi polutan udara.

Pohon mahoni raksasa di Kalibata, JakselPohon mahoni raksasa di Kalibata, Jaksel (Hans Wilhem/detikcom)

Pampam menjelaskan bahwa daun dan berbagai bagian pohon mahoni itu sering menunjukkan tanda-tanda menghitam. Warna tu ditengarai akibat penyerapan terus-menerus polusi udara yang mengandung timbal di Jakarta.

Sebuah plakat di lokasi tersebut memberikan konfirmasi, menunjukkan bahwa pohon ini memiliki kemampuan untuk mengurangi polusi udara sebesar 47% hingga 69%.

Ya, daun-daun pohon itu menyerap polutan, sehingga menghasilkan udara yang lebih bersih di sekitarnya. Mahoni itu secara tegas menyatakan tugasnya sebagai penjaga sekaligus penyaring udara alami.

Meskipun ukurannya yang besar, tidak ada alasan untuk khawatir di kalangan warga dan pengelola. Sistem akar tunggang pohon ini menembus dalam ke dalam tanah, memastikan bahwa ia tidak mengganggu integritas bangunan atau beton di sekitarnya, berbeda dengan spesies pohon tertentu lainnya.

Pohon mahoni raksasa ini kini menjadi satu-satunya yang tersisa dari jenisnya, berdiri tegak di tengah populasi yang dulu pernah berkembang pesat. Keberadaannya sengaja dipertahankan, terutama karena peran pentingnya dalam mendukung kegiatan lingkungan, seperti berdekatan dengan bank sampah di kawasan apartemen.

"Kalau pohon ini nggak ada, mau nyari (cadangan) air ke mana? Dan salah satunya juga untuk mengurangi bau sampah," kata Pampam.

Di balik manfaat ekologis dan nilai sejarahnya, mahoni berusia 120 tahun ini tidak lepas dari cerita-cerita yang berbau klenik. Pampam mengungkapkan bahwa kebesaran pohon ini rupanya mengundang segelintir orang untuk datang dan memanjatkan doa.

"Terkadang pohon ini juga menjadi salah satu tempat orang-orang berdoa. Kadang-kadang ada yang menempelkan dupa-dupa atau menaruh makanan. Kadang (sesajennya ditaruh) di atas-atas gitu lho," ujar Pampam.

Tradisi mistis seputar pohon ini mengharuskan petugas membersihkan area tersebut secara berkala untuk membuang sisa-sisa persembahan. Berdiri tegak layaknya raksasa yang melindungi sekitarnya, pohon ini menjadi bukti bahwa pembangunan perkotaan tidak harus mengorbankan warisan alam kita.

Bagi para traveler yang penuh rasa ingin tahu, dapat mengunjungi dan melihat keberadaan pohon mahoni purba ini yang berfungsi sebagai tempat berlindung sekaligus bukti nyata yang hidup, yang menyoroti pentingnya ruang hijau di ibu kota.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.