TRIBUNSTYLE.COM -- Pemerintah Iran mulai membuka peluang penghentian konflik yang terjadi dengan Israel dan United States.
Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran memiliki keinginan kuat untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung, namun langkah tersebut harus disertai syarat utama berupa jaminan keamanan.
Pernyataan itu disampaikan Masoud Pezeshkian saat melakukan percakapan telepon dengan Presiden Dewan Eropa pada Selasa (31/3/2026).
"Kami memiliki kemauan yang diperlukan untuk mengakhiri konflik ini, asalkan syarat-syarat penting terpenuhi—terutama jaminan yang diperlukan untuk mencegah terulangnya agresi," ujar Masoud Pezeshkian dalam pernyataan resmi kantor kepresidenan, sebagaimana dilansir AFP.
Menurutnya, kondisi normal hanya dapat tercapai apabila serangan dari pihak lawan benar-benar dihentikan.
"Solusi untuk menormalisasi situasi adalah penghentian serangan agresif mereka," tegasnya.
Dalam upaya menuju penyelesaian konflik, Amerika Serikat disebut telah mengusulkan 15 poin rencana perdamaian kepada Iran.
Sebagai tanggapan, Iran dilaporkan menyiapkan lima poin usulan balasan.
Berdasarkan laporan media lokal Iran, isi usulan tersebut mencakup penghentian agresi serta pembentukan mekanisme penjamin agar konflik tidak kembali terjadi di masa mendatang.
Mekanisme itu ditujukan untuk memastikan bahwa Israel maupun Amerika Serikat tidak kembali memulai peperangan.
Eskalasi besar konflik disebut bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan gelombang serangan ke wilayah Iran.
Baca juga: Iran-AS Masih Perang, Selebgram Tresnany Beber Kondisinya di Dubai, Sempat Dapat Pesan Peringatan
Serangan tersebut menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menjadi sorotan dalam perkembangan konflik terbaru.
Peristiwa itu kemudian diikuti serangan balasan dari Iran berupa rudal dan drone ke sejumlah wilayah regional.
Teheran juga menutup Strait of Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting distribusi sekitar 20 persen minyak dunia.
Konflik tersebut memicu korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan besar terhadap pasar global dan jalur penerbangan internasional. (Tribun Style/Tribunnews Bogor)