TRIBUNNEWS.COM - Kenyataan pahit harus diterima publik Italia ketika tim nasional mereka gagal pentas di Piala Dunia 2026.
Kekalahan adu penalti dari Bosnia membuat Italia harus mengubur ambisi lolos ke Piala Dunia tahun ini.
Ini menjadi kegagalan ketiga beruntun bagi Italia untuk lolos ke ajang sepak bola paling megah di dunia tersebut.
Kegagalan ini mengundang banyak reaksi dari pelaku-pelaku sepak bola negeri Pizza.
Baca juga: Italia Tiga Kali Gagal ke Piala Dunia, FIGC Jadi Tersangka Utama: Ikan Busuk dari Kepala Menggema
Salah satunya datang dari pelatih legendaris Italia, Fabio Capello.
Capello benar-benar menyayangkan kegagalan negaranya lolos.
Namun di saat yang sama, ia juga heran dengan situasi yang ada di dalam negerinya.
Ia tak melihat, sampai saat ini, ada pihak yang mengundurkan diri dari jabatannya akibat kegagalan ini.
Pria berusia 79 tahun ini tak menyasar para pemain atau pelatih yang berusia sangat dini di kubu tim nasional saat ini.
Ia merujuk kepada para pemangku kepentingan yang bertugas mengambil keputusan penting di organisasi.
Presiden FIGC, Gabriel Gravina, menjadi pihak yang paling disorot.
Menurut Capello, Gravina harusnya langsung mundur setelah Italia gagal melangkah ke putaran final.
"Ini bukan hanya soal hasil, ini masalah struktural," kata Capello dikutip dari Football Italia.
"Italia harus berinovasi. Kita harus membawa orang yang kompeten kemari, menganalisa apa yang terjadi dan mulai melakukan pembangunan ulang dari dasar."
"Akan sangat sulit untuk pulih dari ini, tetapi saya percaya momen seperti ini akan tepat untuk pembaruan," sambungnya.
Pengunduran diri Gravina bisa menjadi awal untuk memulai proyek baru tersebut.
"Tidak ada yang mengundurkan diri di sini, dan itu yang membuat saya paling cemas," ucap Capello.
"Orang pertama yang seharusnya mengambil sikap seperti itu adalah Presiden federasi bersama para pejabatnya yang lain," paparnya.
Saat diangkat sebagai pelatih pada Juni 2025 menggantikan Luciano Spalletti, Gattuso pernah membuat pernyataan tegas.
"Saya akan menerima pujian jika saya mencapai target; kalau tidak, saya akan keluar dari Italia. Saya sudah tinggal cukup jauh, tapi saya akan pergi lebih jauh lagi," kata Gattuso saat itu, dikutip dari Football Italia.
Kini, janji tersebut kembali diungkit publik Italia.
Meski berhasil memenangkan empat laga awal dengan mencetak 16 gol, termasuk kemenangan 3-0 atas Israel, perjalanan Gattuso bersama Timnas berakhir pahit di babak play-off.
Usai kekalahan menyakitkan tersebut, Gattuso menyampaikan permintaan maaf secara pribadi.
"Anak-anak ini tidak pantas mendapatkan ini, atas usaha, cinta, determinasi. Saya secara pribadi meminta maaf karena tidak berhasil, tapi anak-anak ini sudah habis-habisan," ujarnya.
Ia juga menyatakan kebanggaannya terhadap para pemain.
"Saya masih bangga kepada anak-anak. Kalau Anda menusuk saya pakai pisau hari ini, tidak ada yang akan mengalir, darah saya sudah habis," kata Gattuso.
"Itu penting untuk pergerakan sepakbola Italia dan rasanya sangat buruk tersingkir seperti ini," lanjutnya.
(Tribunnews.com/Guruh, Hafidh Rizky Pratama)