TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Sebuah warung sederhana berdiri di pinggir Jalan Watumalang-Wonosobo Kilometer 3, Desa Bumiroso RT 10 RW 04.
Di depannya, banner bertuliskan Soto Sapi Kuali Mbah Sumarsono tampak sederhana terbentang menjadi petunjuk para pembeli.
Saat memasuki warung, tampak dua meja panjang dari kayu tersusun sejajar.
Di dinding, beberapa foto dokumentasi tempo dulu tergantung termasuk potret Mbah Sumarsono semasa berjualan.
Bagian depan warung ini, sebuah pikulan dengan beban di kanan dan kiri tampak difungsikan sebagai tempat meracik soto.
Pikulan itu bukan yang asli namun dibuat menyerupai bentuk awalnya dulu saat Mbah Sumarsono masih berjualan.
Di tempat inilah, aroma rempah kuat menyambut setiap pengunjung yang datang.
Usaha ini bermula pada tahun 1965. Saat itu, Mbah Sumarsono menjajakan soto dengan cara dipikul, berkeliling menyusuri jalanan Wonosobo yang bahkan belum beraspal.
“Dulu keliling dipikul, muter-muter sampai ke Wonosobo,” cerita Margono kepada tribunjateng.com, Rabu (1/4/2026).
Margono adalah anak kelima dari delapan bersaudara dan satu-satunya yang meneruskan usaha keluarga ini.
Baca juga: Dandim 0712 Tegal Angkat Bicara soal Isu Anggotanya yang Terlibat Bekingi Warung Aceh
“Dari delapan anak ini usahanya beda-beda, hanya saya yang meneruskan soto kuali,” ujarnya.
Kini, warung tersebut tak hanya dikenal warga lokal saja.
Pembeli datang dari berbagai daerah seperti Temanggung, Magelang, Yogyakarta, hingga Purwokerto dan Banjarnegara.
“Seluruh Wonosobo sepertinya semuanya tahu soto kuali ini,” katanya.
Ciri khas utama soto ini ada pada bumbunya. Margono menyebut, racikannya terdiri lebih dari 18 jenis rempah.
“Bumbunya itu alamiah, ngga pakai bahan pengawet,” ujarnya.
Rempah seperti kunyit, jahe, salam, dan laos diolah dengan cara tradisional, yakni diulek hingga halus, lalu dimasak bersama daging hingga aromanya harum hingga matang.
Proses memasaknya dilakukan dua tahap. Pertama dimasak di kompor, kemudian dipindahkan ke kuali tanah liat yang dipanaskan dengan arang.
Kuali inilah yang menjadi identitas utama.
Meski begitu, saat ini kuali tanah liat sedang rusak dan masih dalam proses penggantian.
Untuk sementara, proses memasak menggunakan panci biasa tanpa mengubah cita rasa yang sudah dikenal.
Di atas meja racik, tampak berbagai pelengkap seperti daun bawang dan bawang goreng tersusun rapi.
Saat tutup panci dibuka, aroma rempah langsung menyebar kuat hingga tercium lezatnya.
Satu porsi soto disajikan dengan lontong yang dipotong kecil-kecil, potongan daging sapi berbentuk dadu, serta tauge segar.
Kuahnya berwarna kuning keemasan. Tidak kental, namun wangi rempahnya terasa tajam bahkan sebelum disantap.
Saat kuah disiram ke dalam mangkok, uap hangatnya langsung menyeruak.
Seruput pertama menghadirkan rasa gurih yang kuat. Rempah terasa dominan namun seimbang. Dagingnya empuk, tidak alot. Tauge menambah sensasi segar di setiap suapan.
Rasa semakin lengkap saat ditambah sambal dan kecap.
Soto ini cocok dinikmati pagi, siang, hingga malam hari memberi efek hangat di badan.
Dalam kondisi normal, Margono memproduksi sekitar 100 hingga 150 porsi per hari.
Namun untuk pesanan acara seperti hajatan atau pengajian, jumlahnya bisa meningkat hingga 500 porsi.
Bahkan, pada 2005, soto ini pernah dipesan hingga 1.000 porsi di Jawa Barat. Pesanan itu datang dari pelanggan lama Mbah Sumarsono yang telah pindah tugas.
Sejak Mbah Sumarsono wafat pada 2022, tanggung jawab menjaga cita rasa sepenuhnya berada di tangan Margono.
Ia tak hanya mempertahankan resep, tetapi juga cara memasak dan pelayanan.
“Yang penting dijaga rasanya, pelayanannya, kualitasnya,” katanya.
Dengan harga Rp13 ribu per porsi, soto ini tetap menjadi kuliner rakyat yang terjangkau hingga saat ini. (ima)