TRIBUNNEWS.COM, MANADO - Gempa magnitudo 7,6 yang mengguncang Sulawesi Utara pada Kamis (2/4/2026) sekitar pukul 06.48 Wita menewaskan Deitje Lahia (70).
Deitje Lahia meninggal dunia akibat tertimpa runtuhan aksesoris gedung Hall B GOR RW Monginsidi Manado.
Baca juga: Alasan BMKG Akhiri Status Peringatan Tsunami Imbas Gempa M 7,6 di Bitung Sulut
Deitje ditemukan tertimbun material bangunan baja ringan dan runtuhan ring balok yang hancur.
Gedung Hall B merupakan gelanggang yang selama ini jadi tempat pertandingan basket.
Gedung ini juga jadi arena futsal dan bola voli.
Detik-detik Deitje menjadi korban gempa diungkap saksi mata yang melihat langsung kejadian ini.
Yani L, salah seorang saksi di lokasi mengungkapkan, saat gempa mereka tengah beraktivitas.
"Sudah terang, pada saat kejadian oma (Deitje) sedang bersihkan rica (cabai rawit)," kata Yani.
Saat terjadi gempa mereka berusaha keluar dari kios yang terbuat dari konstruksi baja ringan.
"Torang (kita) lari tapi oma kasihan tidak sempat selamat," ujarnya.
Oma Deitje sehari-hari menjual makanan di area GOR yang berada di Jalan Ahmad Yani Sario, Kecamatan Sario Manado.
Deitje berasal dari Desa Tateli, Kecamatan Mandolang, Minahasa.
Waktunya lebih banyak dihabiskan di KONI karena mencari nafkah berjualan makanan.
Saksi lainnya, Rasid Poli menuturkan, saat kejadian ia tengah mencangkul di samping kanopi gedung KONI.
Tiba-tiba terjadi gempa.
Dalam keadaan kalut dia melihat Deitje berlari untuk menyelamatkan diri dari tempat tinggalnya di bagian bawah kanopi.
Namun sayang ia tertimpa bangunan yang runtuh.
"Ia tertimpa bangunan di bagian tengah kanopi," katanya.
Rasid mengaku kenal dekat dengan korban.
Deitje sehari-harinya berjualan di seputaran lapangan KONI Sario, Manado.
Rasid mengatakan Deitje adalah kakak dari petinju kawakan Sulut Ilham Lahia.
Ia mengaku agak trauma.
Untuk menenangkan diri, Rasid duduk di kursi sambil minum air putih.
Sesekali ia menyesap rokok.
Saksi lainnya sempat memperingatkan oma untuk lari saat gempa.
Tapi Oma masih sibuk berkutat dengan tanaman cabainya.
Penulis: Tim Tribun Manado/Arthur Rompis