Air Laut di Bitung dan Lembeh Surut Tak Biasa Pasca Gempa M 7,6, Warga Pesisir Diminta Menjauh
Abd Rahman April 02, 2026 12:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM – Pasca gempa 7,6 Magnitudo di wilayah Sulawesi Utara-Maluku Utara kondisi air laut  sejumlah wilayah pesisir Bitung dan sekitarnya dilaporkan sempat surut secara tidak biasa , Kamis (2/4/2026) pagi. 

Fenomena ini terjadi setelah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami.

Gempa kuat tersebut memicu kepanikan warga di berbagai wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara. 

Baca juga: Damkar Mamuju Tangani 9 Kejadian Sepanjang Maret 2026, Kerugian Capai Rp 100 Juta

Baca juga: Kapolres Pasangkayu Pastikan Tak Ada Penimbunan LPG 3 Kg, Masyarakat Diminta Tak Panik

Guncangan dilaporkan terasa hingga Manado, Minahasa Utara, wilayah Bolaang Mongondow, Gorontalo hingga Ternate.

Di sejumlah kawasan pesisir, warga melaporkan adanya perubahan muka air laut yang cukup mencolok. 

Di Pulau Bangka, tepatnya di Desa Lihunu, Minahasa Utara, air laut sempat naik sebelum kemudian turun secara drastis. 

Sementara di wilayah Lembeh dan pintu masuk Kota Bitung, air laut dilaporkan naik dengan cepat hingga mencapai badan jalan.

Namun di beberapa titik lain, fenomena yang terjadi justru sebaliknya. 

Air laut di Lembeh Kota Kecil dilaporkan menyusut secara tidak biasa, sedangkan di wilayah Belang air laut surut secara ekstrem sehingga memicu kekhawatiran warga akan potensi tsunami.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Abdul Muhari menjelaskan sistem peringatan dini mencatat adanya kenaikan muka air laut di beberapa wilayah.

“Tercatat kenaikan air laut setinggi 0,3 meter di Halmahera Barat pada pukul 06.08 WIB, disusul 0,2 meter di Bitung pada pukul 06.15 WIB,” ujar Abdul Muhari melansir Tribunnews.com, Kamis.

Meski ketinggian gelombang yang terdeteksi relatif kecil, pihaknya meminta masyarakat untuk tidak meremehkan situasi tersebut.

“Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara, diimbau tetap menjauhi pantai dan tidak kembali ke kawasan rawan sebelum ada pernyataan resmi bahwa situasi sudah aman,” tambahnya.

Perubahan Permukaan Laut

Selain fenomena perubahan muka air laut, gempa juga dilaporkan menyebabkan sejumlah kerusakan bangunan. 

Dinding RS Siloam Manado mengalami retak akibat guncangan kuat.

Kerusakan juga terjadi pada plafon Gereja Katolik Paroki Bhky Rumengkor yang dilaporkan runtuh. Sementara Gereja Jemaat Imanuel Bitung turut mengalami kerusakan pada bagian bangunan.

Di Kota Manado, rumah warga di Kelurahan Banjer Lingkungan II juga dilaporkan mengalami kerusakan. Sejumlah perabot rumah tangga rusak akibat guncangan yang cukup kuat.

Fasilitas umum lainnya yang terdampak yakni gedung olahraga milik Komite Olahraga Nasional Indonesia di Manado yang dilaporkan mengalami kerusakan.

Bahkan, seorang warga dikabarkan meninggal dunia usai kejadian gempa. Namun hingga kini pihak berwenang masih melakukan verifikasi terkait penyebab pasti kematian tersebut.

Di kompleks Perumahan Viola Land 2, Matungkas, Minahasa Utara, kepanikan warga sempat terjadi saat gempa mengguncang. Warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Sebagian warga bahkan terlihat berlari tanpa sempat mengenakan pakaian lengkap. Ada pula yang membawa bayi serta menggendong anak-anak mereka demi menjauh dari bangunan yang berpotensi roboh.

Pasca gempa, sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara juga sempat mendapatkan peringatan dini tsunami dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

BMKG mencatat gempa terjadi sekitar pukul 05.48 WIB atau 06.48 WITA dengan magnitudo awal 7,3 hingga 7,6. Pusat gempa berada di laut sekitar 127–129 kilometer tenggara Kota Bitung dengan kedalaman berkisar antara 18 hingga 62 kilometer.

GEMPA MANADO - Warga mengevakuasi korban di lokasi runtuhnya Gedung KONI di Manado setelah gempa bumi magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Sulawesi Utara, Kamis (2/4/2026). Gempa tersebut dilaporkan menelan satu korban jiwa dan sempat memicu kepanikan warga.
GEMPA MANADO - Warga mengevakuasi korban di lokasi runtuhnya Gedung KONI di Manado setelah gempa bumi magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Sulawesi Utara, Kamis (2/4/2026). Gempa tersebut dilaporkan menelan satu korban jiwa dan sempat memicu kepanikan warga. (Istimewa)

Berdasarkan hasil pemodelan BMKG, sejumlah wilayah di pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara berpotensi terdampak tsunami dengan status Siaga dan Waspada.

Pemerintah dan lembaga terkait mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, menjauhi wilayah pesisir, serta mengikuti informasi resmi guna menghindari risiko bencana susulan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.