Gempa berkekuatan M7,6 mengguncang laut tenggara Bitung, Sulawesi Utara, Kamis pagi (2/4/2026), membuat warga panik dan beberapa bangunan berguncang. Getarannya terasa kuat di berbagai wilayah Sulut, mengingatkan kembali sejarah gempa yang pernah dialami Alfred Russel Wallace di Tomohon lebih dari 160 tahun lalu.
Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengungkap episenter gempa berlokasi di 1.25 derajat LU - 126,27 BT, dengan kedalaman 33 km. Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, Rahmat menyebut gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Subduksi Laut Maluku.
Kendati episenter berada di pesisir utara, getarannya terasa hingga Tomohon, yang berada di dataran tinggi kaki Gunung Mahawu, sekitar 30-40 kilometer selatan. Di sini, tanah padat dan lereng gunung membuat guncangan terasa lebih intens, meski kerusakan relatif ringan-mengulang kembali kesan dramatis gempa di wilayah ini.
Kejadian itu mengingatkan kita pada catatan sejarah unik yang ditulis Alfred Russel Wallace, ahli biologi Inggris, dalam bukunya The Malay Archipelago.
Pada 29 Juni 1859, Wallace menginap di Rurukan, Tomohon. Malam hari, pukul 20.15 WITA, Wallace sedang duduk membaca buku, ketika rumah mulai berguncang pelan. Dalam sekejap, guncangan bertambah keras, tetapi ia tetap membaca buku dan mengabaikan apa yang terjadi.
Sekitar 30 detik, getaran kian mengguncang kursi serta rumah kayu yang ditinggalinya seolah-olah segera roboh. Gempa berlangsung sekitar semenit tetapi sudah cukup membuatnya seperti sedang mabuk laut. Wallace kemudian lari ke luar rumah menyelamatkan diri.
"Tanah goyang! Tanah goyang!" demikian teriakan orang-orang dari seluruh penjuru desa. Semua orang lari ke luar rumah. Anak-anak menangis dan kaum perempuan menjerit. Ketika kembali ke dalam rumah setelah gempa reda, Wallace mendapati semua perkakas di dalam rumah berserakan di lantai.
Wallace menulis,"Ketika saya mencoba berdiri, kepala saya terasa berputar dan langkah saya limbung, sampai-sampai saya selalu jatuh saat melangkah. Guncangan berlangsung sekitar satu menit dan selama itu saya merasa seperti berputar-putar; laiknya sedang mabuk laut. Sekembalinya ke dalam rumah, saya mendapati lampu dan sebotol arak jatuh berantakan. Gelas minuman yang digunakan sebagai tempat lampu juga telah terguling dari piring tatakan, tempatnya diletakkan."
Saat ini, di Desa Rurukan Satu, Kota Tomohon terdapat nama Jalan Wallace, didedikasikan untuk mengenang Alfred Russel Wallace penemu garis Wallace, sebuah garis imajiner yang membagi flora dan fauna di Indonesia menjadi dua bagian. Rurukan Satu adalah desa wisata berada di kaki Gunung Mahawu, di Kota Tomohon yang menonjolkan agrowisata.
***





