BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Rangkaian Tri Hari Suci yang dimulai dari Kamis Putih kembali mengingatkan umat Katolik pada satu pesan yang terus diulang dari waktu ke waktu, yakni pengorbanan, keheningan, dan kasih sebagai jalan menuju perdamaian.
Kepala Gereja Katedral Banjarmasin, Pastor Ignasius Tari menegaskan, makna perayaan menjadi refleksi atas situasi kehidupan, termasuk di tengah konflik yang masih terjadi di berbagai belahan dunia.
“Perdamaian tidak bisa dicapai dengan kekerasan atau perang, tetapi melalui pengorbanan, kerendahan hati, dan kasih,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan, rangkaian perayaan dimulai dari Kamis Putih melalui Misa Perjamuan Malam Terakhir, yang mengenang kebersamaan Yesus dengan para murid sebelum memasuki masa sengsara.
Perayaan kemudian berlanjut pada Jumat Agung, yang dijalani dalam suasana hening. Tidak ada nyanyian, musik, maupun pelayanan sakramen, kecuali bagi umat yang sakit.
“Jumat Agung itu seharusnya banyak hening dan doa. Karena itu tidak ada lagu, tidak ada musik, dan juga tidak ada visualisasi seperti tahun lalu,” kata Pastor Ignasius.
Baca juga: Jelang Ibadah Kamis Putih, Begini Persiapan di Gereja Katedral Keuskupan Banjarmasin
Baca juga: Temu Pengurus Panti Asuhan se Banjarmasin, Bahas Masalah Pola Asuh hingga Kesehatan Anak Panti
Ia menegaskan, bahkan dalam situasi duka, ibadat tetap berlangsung sederhana.
“Kalau ada umat yang meninggal, tetap dilayani, tetapi tanpa nyanyian, hanya doa,” ujarnya.
Menurutnya, Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam tradisi Gereja Katolik.
“Mulai dari perjamuan malam terakhir, lalu sengsara dan wafat Yesus, hingga kebangkitan, tiga hari ini sebetulnya satu rangkaian,” katanya.
Dalam tradisi liturgi, setiap hari juga memiliki simbol tersendiri. Warna putih digunakan pada Kamis Putih sebagai lambang kemuliaan, merah pada Jumat Agung sebagai simbol pengorbanan dan kemartiran, lalu kembali putih pada perayaan Paskah.
Pastor Ignasius juga menekankan bahwa pesan pengorbanan Yesus dipahami sebagai bentuk kasih yang melampaui batas.
“Dalam iman Katolik, Yesus wafat karena cinta kepada manusia. Itu menjadi teladan kasih yang tanpa batas,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa doa dalam perayaan Jumat Agung tidak hanya ditujukan bagi umat Katolik, tetapi untuk semua manusia.
“Dalam doa umat, kami mendoakan semua orang, termasuk yang tidak percaya kepada Kristus,” katanya.
Menurutnya, nilai universal itu membuat perayaan Tri Hari Suci tetap relevan di tengah dinamika dunia yang masih diwarnai konflik dan ketegangan.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)