TRIBUNMANADO.CO.ID - Satu unit mobil Honda Brio bernomor polisi DB 1196 GG mengalami kerusakan setelah tertimpa material bangunan dari RS Siloam di Manado, Sulawesi Utara, saat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 terjadi pada Kamis (2/4/2026), 06.48 Wita.
Insiden tersebut terjadi ketika guncangan kuat menyebabkan sebagian bagian bangunan rumah sakit runtuh dan jatuh ke area sekitar, termasuk lokasi parkir kendaraan.
Mobil yang terparkir di area tersebut tidak sempat dipindahkan, sehingga tertimpa puing dan mengalami kerusakan cukup serius.
Pemilik kendaraan, Jhon, mengaku bersyukur tidak berada di dalam mobil saat kejadian berlangsung.
“Karena saat kejadian saya baru saja turun dari mobil sehingga selamat dari peristiwa ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kerusakan pada mobilnya meliputi bagian kap serta kaca di sisi kiri dan kanan.
“Kerusakannya cukup parah, banyak yang harus diperbaiki,” katanya.
Jhon juga menyebut pihak rumah sakit telah melihat kondisi mobilnya dan berjanji akan bertanggung jawab atas kerusakan tersebut.
“Sudah dicek tadi, katanya akan diperbaiki,” ungkapnya.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi bahaya akibat kerusakan bangunan serta kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Sejumlah pasien, termasuk yang dalam perawatan intensif, dipindahkan dengan pengawasan tenaga medis.
Area lobi dipilih karena dianggap lebih aman dan terbuka, sehingga memudahkan proses evakuasi sekaligus pemantauan kondisi pasien.
Pihak manajemen RS Siloam memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
“Seluruh pasien, tenaga kesehatan, dan staf selamat dan proses evakuasi berlangsung tertib dan cepat,” ujar Lisa Walando head department Marketing RS Siloam.
Lisa mengatakan meskipun tidak menimbulkan korban, gempa menyebabkan kerusakan pada beberapa bagian gedung rumah sakit.
Tim teknis saat ini tengah melakukan pemeriksaan menyeluruh guna memastikan keamanan struktur sebelum layanan kembali berjalan normal di ruang perawatan.
“Kami mengutamakan keselamatan pasien dan tenaga medis. Evakuasi dilakukan sesuai prosedur tanggap darurat, untuk kerusakan masih didata oleh tim teknis kami,” tandas Lisa.
Hingga kini, pelayanan medis tetap berlangsung meski dengan keterbatasan fasilitas.
Pihak rumah sakit juga terus memantau kondisi pasien serta berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut.
Gempa bumi berkekuatan 7,6 SR mengguncang Sulawesi Utara (Sulut) pada Kamis, 2 April 2026, sekitar pukul 06.48 WITA.
Pusat guncangan berada di Kota Bitung, getaran kuat dirasakan hingga Manado, Minahasa Utara (Minut) wilayah Bolaang Mongondow, Bolsel, Boltim, Gorontalo hingga Ternate.
Jarak dari pusat kota Bitung ke pusat Kota Manado (Zero Point) adalah sekitar 51,7 km km yang bisa ditempuh dengan berkendara sekitar 52 menit menggunakan kendaraan bermotor lewat Jalan Tol Manado - Bitung.
Kepanikan warga pun tak terhindarkan, terutama di kawasan permukiman padat.
Di wilayah pesisir, fenomena perubahan muka air laut sempat terjadi.
Di Pulau Bangka tepatnya di Lihunu, Minut air laut dilaporkan naik lalu turun drastis.
Sementara di Lembeh dan pintu masuk Kota Bitung, air laut terinformasi naik dengan cepat hingga mencapai badan jalan.
Masih di Lembeh kota kecil, air laut dikabarkan alami penyusutan secara tak biasa.
Sebaliknya, di Belang, air laut justru surut secara ekstrem.
Kerusakan bangunan dilaporkan terjadi di sejumlah titik.
Dinding RS Siloam Manado mengalami retak akibat guncangan.
Selain itu, plafon Gereja Katolik Paroki Bhky Rumengkor runtuh.
Sementara Gereja Jemaat Imanuel Bitung dilaporkan mengalami kerusakan.
Di Kota Manado, rumah warga di Kelurahan Banjer Lingkungan II juga mengalami kerusakan, disertai laporan perabot rumah tangga yang rusak akibat guncangan.
Fasilitas umum tak luput dari dampak.
Gedung olahraga milik Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di Manado dilaporkan mengalami kerusakan.
Bahkan, seorang warga dikabarkan meninggal dunia, meski detail penyebabnya masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak berwenang.
Di kompleks Perumahan Viola Land 2, Matungkas, Minahasa Utara, warga terlihat panik berhamburan keluar rumah saat gempa terjadi.
Sebagian warga berlari tanpa sempat mengenakan pakaian lengkap, bahkan ada yang sambil membawa bayi dan menggendong anak-anak demi menyelamatkan diri.
Pasca gempa, sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara juga sempat mendapatkan peringatan dini tsunami sebelum akhirnya dicabut peringatan tsunaminya pada Kamis siang. (Fer/Ind)