Harapan Sri Sultan HB X dalam Mangayubagyo Yuswa Dalem ke-80: Lir Gumanti
Joko Widiyarso April 02, 2026 02:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebanyak 10.000 hingga 12.000 warga, bersama lurah dan pamong kalurahan se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menggelar kirab dan sowan massal ke Keraton Yogyakarta, Kamis (2/4/2026).

Rombongan yang membawa ragam hasil bumi ini hadir dalam rangka perayaan Mangayubagyo Yuswa Dalem ke-80 Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Setelah menerima secara langsung penghormatan dari warga, Sultan menyampaikan rasa syukurnya meski secara fisik prosesi tersebut cukup menguras tenaga.

"(Saya) berdiri 3 jam lebih, ora kuat. Saya terima kasih kepada teman-teman semua, para pejabat yang hadir dalam kesempatan ini. Semoga saja juga sama-sama sehat, yang penting itu," ujar Sultan di Keraton Yogyakarta, Kamis (2/4/2026).

Saat disinggung mengenai harapan serta langkah untuk DIY ke depannya, Sultan memberikan jawaban yang filosofis. Ia menekankan bahwa roda perubahan akan terus berjalan.

"Ya bagaimanapun, semuanya akan terjadi lir gumanti (seperti berganti atau bak bergulir)," tegasnya.

Sultan pun turut menyoroti kualitas hasil bumi warga DIY yang sangat baik, sembari mengingatkan bahwa sektor agraris ke depan membutuhkan perhatian ekstra.

"Ini kan (hasil bumi) saya kembalikan ke mereka lagi. Untuk warga masyarakat, makanya saya serahkan sama Pak Bupati/Wali Kota dengan harapan agar bisa dibagi rata dan bermanfaat bagi masyarakat," pungkas Sultan.

Gotong Royong dan Tanda Terima Kasih

Dalam kirab massal tersebut, setiap kalurahan memproyeksikan pengiriman 20 hingga 30 orang perwakilan. Hasil bumi yang dibawa sangat beragam, di antaranya singkong, pepaya, beras, ketela, kelapa, uwi, dan sayur-mayur.

Terdapat pula ternak seperti ayam, angsa, mentok, hingga burung. Salah satu yang paling mencuri perhatian publik adalah gunungan bawang merah (brambang) seberat 1 kuintal yang dibawa oleh perwakilan Kelurahan Canden, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul.

Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan DIY (Nayantaka), Gandang Hardjanta, menjelaskan bahwa momentum kirab ini murni merupakan wujud penghormatan serta ungkapan terima kasih masyarakat kepada sosok pemimpin mereka.

"Iya, ini sebagai wujud terima kasih kami kepada Ngarsa Dalem, ya bahwa di usia 80 tahun masih mengayomi kami, masih mengayomi segenap masyarakat DIY secara luas. Dan pada kesempatan ini yang utama adalah kami masyarakat Jogja mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ngarsa Dalem yang ke-80. Itu yang paling penting," ungkap Gandang.

Gandang juga memastikan bahwa gunungan dan hasil bumi tidak dinikmati secara sepihak oleh pihak keraton, membenarkan arahan lir gumanti yang disampaikan Sultan.

"Ini ya, istilahnya kita memberikan pesan bahwa Jogja itu penuh kegotongroyongan. Jadi gelondong pengarem-arem itu betul kita haturkan ke Keraton, tetapi dari Keraton dibagikan bagi yang membutuhkan melalui Bapak/Ibu Bupati. Bukan untuk Keraton, melainkan dikembalikan lagi ke masyarakat," tuturnya.

Proses pendistribusian kembali ini akan dilakukan secara terorganisasi melalui pemerintah daerah tingkat kabupaten.

"Jumlah peserta laporannya 12.000. Gelondong pengarem-arem setelah ini diterima, nanti diambil dari kabupaten, nanti ada acara berikutnya. Setelah ini semua selesai diterima, gelondong pengarem-arem dari semua kalurahan nanti diacarakan, di mana Ngarsa Dalem membagikannya melalui Bapak dan Ibu Bupati. Gelondong pengarem-arem itu dibagikan ke masyarakat per kabupaten kepada yang membutuhkan. Ini adalah bentuk gotong royong, ini yang harus kita pelajari dari Ngarsa Dalem," papar Gandang secara rinci.

Manfaat Tanah Kas Desa

Persiapan acara akbar ini memakan waktu sekitar dua bulan. Gandang menegaskan partisipasi setiap kalurahan murni didasarkan pada keikhlasan dan kemampuan masing-masing wilayah, sebagai bentuk kesadaran atas mandat pengelolaan Tanah Kas Desa yang selama ini menghidupi warga.

"Ya, kalau kami dari Nayantaka itu sekitar dua bulan kami harus melobi Pemda, melobi kabupaten, juga teman-teman lurah. Alhamdulillah sambutan dari teman-teman cukup baik, tidak ada unsur paksaan, karena mereka sadar bahwa mereka ini sebagai kalurahan sudah dipercaya anggaduh (mengelola) Tanah Kas Desa," jelasnya.

Ia menambahkan, pengelolaan Tanah Kas Desa telah memberikan manfaat ekonomi yang vital bagi kas desa.

"Nah, itu kan juga merupakan pendapatan desa/kalurahan, rata-rata ada yang 30 juta, ada yang 100 juta. Nah, kalau di (Tebing) Breksi ini berapa miliar itu jadinya kas desa. Kalau memberi 10 juta hari ini sebagai wujud tanda terima kasih kan tidak masalah, jadi tidak ada yang merasa keberatan," tegas Gandang.

Menutup keterangannya, Gandang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat serta memohon maaf kepada masyarakat luas jika agenda massal ini sempat memengaruhi kelancaran aktivitas harian di Yogyakarta.

"Ini pertama kali saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman Nayantaka, kepada OPD tingkat kabupaten, maupun Pemda DIY. Juga tidak lupa ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya bagi masyarakat Jogja, bahwa kita sudah membuktikan rakyat Jogja memang istimewa," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.