Sosok Deyce Lahia, Oma 69 Tahun Korban Gempa 7.6 SR di Manado, Tewas Tertimpa Reruntuhan Gedung KONI
Indry Panigoro April 02, 2026 03:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Seorang lansia bernama Deyce Lahia (69) menjadi korban meninggal dunia akibat gempa bumi bermagnitudo 7,6 yang mengguncang Manado, Sulawesi  , Kamis (2/4/2026) sekitar pukul 06.48 WITA.

Pusat guncangan berada di Kota Bitung, namun getaran kuat dirasakan hingga Manado, Minahasa Utara (Minut) wilayah Bolaang Mongondow, Bolsel, Boltim, Gorontalo hingga Ternate.

Jarak dari pusat kota Bitung ke pusat Kota Manado (Zero Point) adalah sekitar 51,7 km km yang bisa ditempuh dengan berkendara sekitar 52 menit menggunakan kendaraan bermotor lewat Jalan Tol Manado - Bitung.

Akibat gempa bumi pada Kamis pagi itu, seorang oma meninggal usai tubuhnya tertimpa reruntuhan kanopi di area Hall B Gedung KONI Sario, Manado.

Saat kejadian, Deyce diketahui berusaha menyelamatkan diri dari tempat tinggalnya yang berada di sekitar lokasi tersebut.

Deyce merupakan kakak dari Ilham Lahia, petinju legendaris asal Sulawesi Utara yang pernah menorehkan prestasi hingga babak 16 besar Olimpiade Seoul 1988.

Sehari-hari, Deyce tinggal di kawasan sekitar kanopi Gedung KONI dan berjualan di kantin dekat lapangan.

Warga setempat mengenalnya sebagai sosok yang ramah dan baik hati.

Saksi mata, Rasid Poli, mengungkapkan bahwa ia melihat korban sempat berlari saat gempa terjadi.

Namun nahas, reruntuhan bangunan lebih dulu jatuh dan menimpanya.

“Ia sempat lari, tapi tertimpa di bagian tengah kanopi,” ujar Rasid, yang mengaku mengenal dekat korban dan merasa trauma atas kejadian tersebut.

Rasid Poli, seorang saksi mata menuturkan, saat kejadian ia tengah mencangkul di samping kanopi gedung KONI. 

Tiba tiba terjadi gempa. Dalam keadaan kalut dilihatnya korban yang bernama Deice Lahia (69) berlari untuk menyelamatkan diri dari tempat tinggalnya di bagian bawah kanopi. 

Sialnya ia tertimpa bangunan.

KORBAN - Kolase foto legenda petinju nasional Ilham Lahia dan Kakaknya Almarhuma Deyce Lahia (69) foto semasa hidup. Gempa bumi berkekuatan 7,6 skala richter yang mengguncang kota Manado, Sulut, merenggut nyawa Deyce Lahia (69), Kamis (2/4/2026). 
KORBAN - Kolase foto legenda petinju nasional Ilham Lahia dan Kakaknya Almarhuma Deyce Lahia (69) foto semasa hidup. Gempa bumi berkekuatan 7,6 skala richter yang mengguncang kota Manado, Sulut, merenggut nyawa Deyce Lahia (69), Kamis (2/4/2026).  (Tribun Manado)

"Ia tertimpa bangunan di bagian tengah kanopi," katanya. 

Rasid mengaku kenal dekat dengan korban. Deice sehari - harinya jualan di seputaran lapangan KONI Sario, Manado. 

Sebut dia, Deice adalah kakak dari petinju kawakan Sulut Ilham Lahia. 

Ia mengaku agak trauma. 

Untuk menenangkan diri, ia duduk di kursi sambil minum air putih. 

Sesekali ia menyesap rokok.

Saksi lainnya sempat memperingatkan oma untuk lari saat gempa. 

Tapi Oma masih sibuk berkutat dengan tanaman ricanya

Saksi lain, Stevi, menyebut warga sebenarnya telah memperingatkan korban untuk segera menyelamatkan diri.

Namun saat itu korban masih berada di halaman rumahnya dan belum sempat menghindar.

Gempa tersebut juga menyebabkan kanopi Gedung KONI runtuh dan menimbulkan sejumlah korban.

Data sementara dari pihak kepolisian menyebutkan terdapat dua korban di lokasi itu, terdiri dari satu orang meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka-luka.

Selain itu, ada juga korban lain yang terluka setelah melompat dari lantai dua bangunan, serta seorang warga yang terjatuh saat berlari di kawasan Jalan Pierre Tendean.

Hingga kini, pihak berwenang masih terus melakukan pendataan terkait jumlah korban maupun kerusakan akibat gempa tersebut.

RUSAK - Bangunan Rumah Ibadah di Bitung 8 rusak akibat gempa magnitudo 7,6, Kamis (2/4/2026) pagi.
RUSAK - Bangunan Rumah Ibadah di Bitung 8 rusak akibat gempa magnitudo 7,6, Kamis (2/4/2026) pagi. (Tribun Manado/Tim Tribun Manado)

Daftar Kerusakan dan Dampak Gempa Bumi 7.6 SR Usai Guncang Sulawesi Utara Kamis 2 April 2026 Pagi

Gempa bumi berkekuatan 7,6 SR mengguncang Sulawesi Utara (Sulut) pada Kamis, 2 April 2026, sekitar pukul 06.48 WITA.

Pusat guncangan berada di Kota Bitung, getaran kuat dirasakan hingga Manado, Minahasa Utara (Minut) wilayah Bolaang Mongondow, Bolsel, Boltim, Gorontalo hingga Ternate.

Kepanikan warga pun tak terhindarkan, terutama di kawasan permukiman padat.

Di wilayah pesisir, fenomena perubahan muka air laut sempat terjadi.

Di Pulau Bangka tepatnya di Lihunu, Minut air laut dilaporkan naik lalu turun drastis.

Sementara di Lembeh dan pintu masuk Kota Bitung, air laut terinformasi naik dengan cepat hingga mencapai badan jalan. 

Masih di Lembeh kota kecil, air laut dikabarkan alami penyusutan secara tak biasa.

Sebaliknya, di Belang, air laut justru surut secara ekstrem.

Kerusakan bangunan dilaporkan terjadi di sejumlah titik.

Dinding RS Siloam Manado mengalami retak akibat guncangan.

Selain itu, plafon Gereja Katolik Paroki Bhky Rumengkor runtuh.

Sementara Gereja Jemaat Imanuel Bitung dilaporkan mengalami kerusakan.

Di Kota Manado, rumah warga di Kelurahan Banjer Lingkungan II juga mengalami kerusakan, disertai laporan perabot rumah tangga yang rusak akibat guncangan.

Fasilitas umum tak luput dari dampak.

Gedung olahraga milik Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di Manado dilaporkan mengalami kerusakan.

Bahkan, seorang warga dikabarkan meninggal dunia, meski detail penyebabnya masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak berwenang.

Di kompleks Perumahan Viola Land 2, Matungkas, Minahasa Utara, warga terlihat panik berhamburan keluar rumah saat gempa terjadi.

Sebagian warga berlari tanpa sempat mengenakan pakaian lengkap, bahkan ada yang sambil membawa bayi dan menggendong anak-anak demi menyelamatkan diri.

Pasca gempa, sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara juga sempat mendapatkan peringatan dini tsunami.

Warga diimbau tetap waspada, menjauhi wilayah pesisir, serta mengikuti arahan resmi dari pemerintah dan lembaga terkait untuk menghindari risiko lanjutan.

Daftar Lengkap Daerah yang Dapat Peringatan Dini Tsunami 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi sekitar pukul 05.48 WIB atau 06.48 WITA dengan magnitudo awal mencapai 7,3–7,6.

Pusat gempa berada di laut, sekitar 127–129 kilometer tenggara Kota Bitung, dengan kedalaman berkisar 18 hingga 62 kilometer.

Berdasarkan hasil pemodelan BMKG, sejumlah wilayah di Maluku Utara dan Sulawesi Utara berpotensi terdampak tsunami dengan status berbeda, yakni Siaga dan Waspada.

Untuk status Siaga, wilayah yang diperkirakan terdampak lebih awal meliputi Kota Ternate pada pukul 05.53 WIB, disusul Halmahera pukul 05.54 WIB, dan Kota Tidore pukul 05.56 WIB.

Sementara di Sulawesi Utara, Kota Bitung diperkirakan terdampak sekitar pukul 06.12 WIB, kemudian Minahasa bagian selatan pada pukul 06.17 WIB, serta Minahasa Selatan dan Minahasa Utara bagian selatan sekitar pukul 06.18 WIB.

Adapun wilayah dengan status Waspada mencakup Kepulauan Sangihe yang diperkirakan terdampak pada pukul 06.14 WIB, Minahasa Utara bagian utara pukul 06.15 WIB, serta Bolaang Mongondow bagian selatan sekitar pukul 06.21 WIB.

Status SIAGA:

Kota Ternate (Maluku Utara) – estimasi tiba 05:53:14 WIB

Halmahera (Maluku Utara) – estimasi tiba 05:54:14 WIB

Kota Tidore (Maluku Utara) – estimasi tiba 05:56:14 WIB

Kota Bitung (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:12:14 WIB

Minahasa bagian selatan (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:17:14 WIB

Minahasa Selatan bagian selatan (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:18:14 WIB

Minahasa Utara bagian selatan (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:18:14 WIB

Status WASPADA:

Kepulauan Sangihe (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:14:14 WIB

Minahasa Utara bagian utara (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:15:14 WIB

Bolaang Mongondow bagian selatan (Sulawesi Utara) – estimasi tiba 06:21:14 WIB

Peringatan Dini Tsunami Berakhir Kamis Siang, Aktivitas Pesisir Dinyatakan Aman

BMKG resmi mengakhiri peringatan dini tsunami pada Kamis (2/4/2026) pukul 10.56 Wita.

Saat ini kondisi dinyatakan aman untuk beraktivitas.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Stasiun Geofisika Manado, Tony Agus Wijaya.

Keputusan tersebut diambil karena tidak lagi terdeteksi aktivitas tsunami serta gempa susulan yang terjadi menunjukkan tren melemah.

Tsunami hanya terdeteksi 16 menit usai gempat pertama serta sekitar 2 jam sebelum peringatan dini dicabut.

Total gempa susulan yang tercatat mencapai 48 kali dengan kekuatan bervariasi, mulai dari magnitudo Magnitudo 5,5-3,1.

"Iya betul, masyarakat di pesisir sudah boleh beraktivitas normal," tutur Tony.

Selain itu, bagi masyarakat yang ingin mengecek maupun memperbaiki bangunan juga sudah diperbolehkan.

Seiring dengan membaiknya situasi, masyarakat yang berada di wilayah pesisir kini diperbolehkan kembali beraktivitas seperti biasa.

Meski demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk terus waspada dan mengikuti informasi resmi apabila terjadi perkembangan lanjutan. (Ind/Fyd/Ara)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.