SURYA.co.id – Kisah rumah tangga selebgram Clara Shinta tengah menjadi sorotan setelah ia mengungkap dugaan perselingkuhan dan persoalan nafkah dari sang suami, Alexander Assad.
Curhatan pilu itu viral setelah Clara membagikan bukti berupa tangkapan layar video call tak pantas serta video konfrontasi langsung.
Namun, di tengah derasnya simpati publik, perhatian justru tertuju pada komentar menohok dari Samira Farahnaz alias Doktif.
Sosok yang dikenal vokal dan logis ini secara terbuka menyarankan Clara untuk mengakhiri pernikahannya.
"Sudah cukup yah sayang lebih baik pisah yah," tulis Doktif dikutip SURYA.co.id dari unggahannya, Selasa (31/3/2026).
"Jangan sampai balik lagi pliiss, sudah cukup," tukasnya.
Mengapa seorang figur yang dikenal membedah fakta kesehatan dan produk bisa memberikan saran setegas itu dalam urusan rumah tangga?
Kasus ini bermula dari dua poin utama yang diungkap Clara ke publik.
Pertama, dugaan perselingkuhan yang terlihat dari tangkapan layar video call suaminya dengan wanita lain, bahkan dalam adegan tidak pantas.
Kedua, pengakuan mengejutkan bahwa selama menikah ia tidak mendapatkan nafkah.
"Kamu nafkah aja nggak kasih aku Pah, kamu bisa-bisanya VC* sama orang," ujar Clara dalam video yang dibagikannya.
Momen tersebut disebut terjadi saat keduanya tengah berlibur di Thailand.
Clara yang syok langsung menghampiri suaminya, hingga situasi sempat memanas ketika ponselnya hendak direbut.
Kontras pun mencolok. Di media sosial, kehidupan mereka tampak harmonis dan mapan.
Namun, realita yang diungkap justru memperlihatkan adanya masalah serius di balik “kulit” kehidupan digital tersebut.
Baca juga: Detik-Detik Clara Shinta Pergoki Dugaan Perselingkuhan Suami, Bukti Chat dan Video Call Terbongkar
Gaya komunikasi Doktif selama ini dikenal lugas, berbasis logika, dan sering menyoroti fakta tanpa kompromi.
Dalam konteks kasus Clara, saran “pisah” tampaknya tidak muncul secara emosional semata, melainkan berangkat dari beberapa pertimbangan rasional.
1. Pelanggaran Prinsip Kejujuran
Perselingkuhan merupakan bentuk pengkhianatan yang merusak fondasi utama hubungan: kepercayaan. Dalam banyak kasus, pemulihan dari titik ini membutuhkan proses panjang—dan tidak selalu berhasil.
2. Kemandirian Finansial
Clara dikenal sebagai figur publik sekaligus pengusaha. Dalam sudut pandang logis, ketergantungan ekonomi bukan alasan untuk bertahan, apalagi jika benar adanya pengakuan tidak dinafkahi.
3. Kesehatan Mental
Kombinasi diselingkuhi dan tidak dinafkahi berpotensi menciptakan tekanan psikologis berat. Kondisi ini bisa berdampak pada stabilitas emosi, produktivitas, hingga rasa percaya diri seseorang.
Tak heran jika Doktif memilih pendekatan tegas, bukan sekadar empati, tetapi juga dorongan untuk keluar dari situasi yang dinilai merugikan secara menyeluruh.
Komentar Doktif ternyata sejalan dengan suara mayoritas netizen. Banyak yang mendukung Clara untuk keluar dari hubungan yang dianggap “toxic” dan berisiko bagi kesehatan mentalnya.
Dukungan juga datang dari dokter sekaligus selebgram Siska Khair.
"Babe, segera di cut off aja.. daripada stress sendiri. Dari penampilannya aja keliatan kayak yakuza," pungkasnya.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran perspektif di masyarakat. Jika dulu perempuan kerap didorong bertahan demi status pernikahan, kini semakin banyak yang mendukung keputusan untuk memilih kebahagiaan dan kesehatan diri.
Di tengah situasi emosional yang dihadapinya, Clara sempat menyampaikan permintaan maaf karena membawa masalah rumah tangganya ke publik.
"Aku minta maaf aku bukan oversharing, tapi kalian pasti tahu rasa gemetarnya kayak apa," tutur Clara.
"Pasti tahu. Dan aku juga lagi di negara orang."
"Aku nggak tahu aku harus ngapain dan gimana," tulisnya.
Saran Doktif mungkin terdengar ekstrem bagi sebagian orang. Namun bagi banyak lainnya, itu adalah bentuk kejujuran yang justru dibutuhkan di tengah situasi rumit seperti ini.
Pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan Clara Shinta. Namun, dukungan dari figur seperti Doktif dan publik luas memberikan satu pesan kuat: memilih diri sendiri bukanlah sebuah kesalahan.