Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, Anggota DPR: Mengapa Indonesia Masih Bertahan di BoP, Mubazir!
Sinta Darmastri April 02, 2026 05:52 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Tragedi yang menimpa pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon memicu gelombang kritik tajam terhadap posisi diplomatik Indonesia. Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, secara terbuka menyuarakan keraguannya terkait relevansi keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) sebuah inisiatif perdamaian bentukan mantan Presiden AS Donald Trump bersama Israel.

Menurut Hasanuddin, keberadaan Indonesia di lembaga tersebut terasa sia-sia atau mubazir. Alasan utamanya adalah rekam jejak Israel yang terus mengabaikan hukum internasional, bahkan setelah serangan militer mereka di Lebanon merenggut nyawa tiga prajurit terbaik TNI.

Baca juga: Indonesia Tolak Bayar Rp 15 Triliun! Prabowo Tegaskan Tak Pernah Janji Uang ke BoP Bentukan Trump

Ketidakpatuhan Israel di Mata Parlemen

Hasanuddin menyoroti anomali posisi Israel. Sebagai negara yang seharusnya tunduk pada mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Israel dinilai kerap bertindak di luar aturan. Hal ini memicu kekhawatiran besar mengenai efektivitas badan perdamaian seperti BoP dalam mengontrol tindakan Israel.

"Kita tahu bahwa Israel itu nakal, bahkan tidak taat kepada resolusi PBB, padahal Israel itu juga di bawah PBB begitu ya. Jadi saya bayangkan, kalau dia di bawah BoP yang dipimpin oleh Presiden Amerika Donald Trump seperti apa dia. Sehingga ini akan mubazir kalau kita berada di wilayah BoP," ujar TB Hasanuddin di Gedung DPR, Senayan, Rabu (1/4/2026).

Politikus PDI Perjuangan ini pun mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan kalkulasi ulang. Ia memperingatkan risiko besar yang menghantui Indonesia jika tetap mengirimkan ribuan personel militer ke wilayah yang tidak menghormati komitmen perdamaian.

"Menurut hemat saya, ya dipertimbangkan saja berulang kali dulu apa manfaatnya ada di BoP, dan kemungkinan-kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki," kata Hasanuddin. "Jangankan di BoP, dia seenak perutnya saja ya sekarang di bawah PBB saja dia sudah tidak taat. Daripada kita repot nanti, apalagi sampai kita harus mengirim pasukan paling besar sebanyak 8.000 personel begitu."

Baca juga: Golkar Desak Prabowo Tarik Indonesia dari BoP Usai 3 Prajurit TNI Jadi Korban Serangan Israel

Duka Mendalam: Kronologi Gugurnya Tiga Ksatria Bangsa

Kritik keras ini bukan tanpa alasan. Situasi di Lebanon kian mencekam, dibuktikan dengan gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) akibat eskalasi serangan Israel.

Berikut adalah catatan kelam dalam penugasan tersebut:

  • Minggu, 29 Maret 2026:

Dunia seolah berhenti sejenak bagi keluarga Praka Farizal Rhomadhon. Beliau gugur saat tengah menunaikan ibadah shalat Isya. Serangan mendadak yang terjadi antara Israel dan Hizbullah di wilayah penugasan menghantam area UNIFIL. Insiden ini juga menyebabkan Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka-luka.

  • Senin, 30 Maret 2026:

Belum kering air mata, serangan kembali terjadi. Kali ini menimpa tim pengawal Kompi B Satgas Yonmek TNI yang sedang mengamankan konvoi logistik. Kendaraan yang ditumpangi Kapten Inf Zulmi Aditya dan Sertu Muhammad Nur Ichwan meledak hebat di tengah perjalanan. Ledakan yang diduga berasal dari ranjau tersebut diikuti oleh serangan bersenjata saat proses evakuasi sedang berlangsung, merenggut nyawa kedua prajurit tersebut.

Pemerintah Indonesia kini tengah berjuang keras menuntut keadilan internasional atas tewasnya para prajurit tersebut. Namun, di dalam negeri, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah harga yang dibayar sudah sebanding dengan posisi diplomatik yang kini diambil Indonesia?

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.