TRIBUNKALTARA.COM - Simak empat hal penting dalam Misa Kamis Putih menurut Gereja Katolik, tak hanya peristiwa pembasuhan kaki dan perjamuan malam terakhir Yesus.
Umat Kristiani memperingati awal Tri Hari Suci pada Kamis Putih, yang jatuh hari Kamis (2/4/2026).
Kamis Putih hari pertama dalam Tri Hari Suci yang sangat sakral bagi umat Katolik, sekaligus awal sebelum kisah sengsara Yesus.
Secara khusus dalam Gereja Katolik, Kamis Putih memuat sejumlah peristiwa penting, termasuk pembasuhan kaki dan perjamuan malam terakhir Yesus.
Oleh sebab itu, dalam Misa Kamis Putih ada unsur yang membedakannya dari perayaan Misa hari-hari lainnya.
Berikut 4 hal penting dalam Misa Kamis Putih menurut Gereja Katolik, dilansir dari berbagai sumber:
1. Tabernakel kosong
Tabernakel adalah tempat penyimpanan Sakramen Mahakudus yang biasanya berbentuk seperti lemari kecil dan terkunci.
Di Gereja, Tabernakel diletakkan di area yang menonjol (tengah). Ciri khasnya, ada lampu kecil di atasnya. Lampu tersebut menjadi tanda Yesus Kristus benar-benar hadir di dalam tabernakel.
Namun pada saat Misa Kamis Putih, tabernakel akan dikosongkan. Tidak ada hosti di dalam tabernakel tersebut.
Baca juga: Kamis Putih, Awal Tri Hari Suci Umat Katolik, Mengenang Perjamuan Malam Terakhir Yesus
Ini karena Kamis Putih sendiri adalah peristiwa memperingati berdirinya Sakramen Ekaristi untuk pertama kalinya di dunia.
Sakramen Ekaristi pertama kali didirikan oleh Yesus Kristus pada saat malam perjamuan terakhir, sekaligus peristiwa itu menjadi Misa pertama dalam sejarah keselamatan.
2. Pembasuhan kaki
Dalam Misa Kamis Putih, juga akan dilakukan pembasuhan kaki oleh Imam. Ini merupakan tradisi yang didirikan Yesus Kristus saat perjamuan malam terakhir.
Pembasuhan kaki memiliki makna mendalam seabgai semangat pelayanan dan kasih. Seperti Yesus yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani.
Uskup/Pastor akan membasuh kaki 12 perwakilan umat Katolik, seperti Yesus yang membasuh kaki 12 murid.
Melalui peristiwa inilah, Yesus mendirikan Sakramen Imamat.
Artinya, Kamis Putih juga diperingati sebagai pesta Imamat bagi semua para Imam yang menyandang tabisan suci.
3. Pemindahan Sakramen Mahakudus
Di akhir Misa Kamis Putih, Sakramen Mahakudus dipindahkan ke tempat penyimpanan khusus, sehingga Tabernakel kembali kosong.
Sakramen Mahakudus diarak dari depan Altar menuju sebuah ruangan khusus yang sudah disiapkan. Ini melambangkan penyerahan diri Yesus Kristus yang total.
Sakramen Mahakudus tidak diarak keliling Gereja, tetapi langsung dipindahkan ke tempat penyimpanan khusus. sehingga yang dipakai untuk membawa Hosti Kudus bukanlah Monstrans, melainkan Sibori.
Setelah Sakramen Mahakudus ditempatkan di penyimpanan khusus, umat diajak untuk tinggal dan berdoa di hadapan-Nya.
Prosesi ini disebut adorasi atau tuguran, yakni umat menghabiskan waktu bersama Yesus yang 'berdiam' di dalam Hosti Kudus pada malam sebelum kisah sengsara.
4. Tidak ada Tanda Salib Penutup
Setelah Misa Kamis Putih selesai, tidak ada tanda salib penutup.
Ini karena Kamis Putih adalah awal Tri Hari Suci, sebagai satu kesatuan perayaan yang tak terputus, bukan tiga perayaan terpisah.
Misa Kamis Putih tidak berakhir secara liturgis, justru menjadi pembuka perayaan besar misteri sengsara wafat Yesus Kristus (Jumat Agung) dan kebangkitan Kristus (Paskah).
Oleh sebab itu setelah misa Kamis Putih selesai, altar akan dikosongkan dan suasana gereja menjadi hening, khusyuk, dilanjutkan dengan adorasi, bukan selesai lalu pulang.
Umat kemudian melanjutkan keesokan harinya dengan mengikuti Jumat Agung yang dibuka tanpa tanda salib.
Dengan demikian perayaan Jumat Agung tidak disebut Misa, melainkan ibadah.
(*)
(TribunKaltara.com/Cornel Dimas Satrio K)