Algojo Bernomor 10 Itu Bernama Edson Arantes do Nascimento, Kita Mengenalnya sebagai Pele
Moh. Habib Asyhad April 02, 2026 07:34 PM

Edson Arantes do Nascimento alias Pele menjadi salah satu pesepakbola bernomor 10 paling ikonik. Sikapnya di dalam dan luar lapangan jadi teladan hingga sekarang.

Artikel ini pernah tayang di Majalah Intisari edisi Juli 1991 dengan judul "Algojo Nomor 10" | Penulis:Jimmy s. Harianto

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Perhatikan nomor punggung Striker atau bintang top kesebelasan elite dunia rota-rota mereka mengenakan kostum bernomor punggung 10. Sebut saja Gary Lineker dari Inggris, Michel Platini dari Prancis, Lothar Matthaeus dari Jerman, Ruud Gullit dari Belanda, Roberto Baggio dari Italia, Diego Armando Maradona dari Argentina, atau Lionel Messi juga dari Argentina. Semuanya bernomor 10!

Katanya tradisi bernomor punggung 10 itu, paling tidak menjadi bertuah berkat satu orang. Yakni algojo gol dari Brasil. Ya, dialah Edson Arantes do Nascimento, maskot tim sepakbola Brasil tahun 60-an yang lebih populer dengan julukan Pele atau si mutiara hitam.

Kaki emas Pele dan kehebatan tandukannya di depan gawang lawan, membuat namanya tak pudar diceritakan selama tujuh turunan. Dia pemain sepakbola terbesar yang pemah ada di planet bumi ini.

Dia bahkan olahragawan terbesar yang pernah ada, dengan segala sportivitas perilakunya. Maka tak heran, nomor punggungnya, nomor 10, menjadi angka keramat bagi tim sepakbola dunia sampai sekarang.

Coba lihat, tim-tim dunia kini juga latah memasang angka 10 untuk pemain maskot dan algojonya. Malah si pemakai nomor punggung 10, seakan-akan menyatakan dialah pemain cemerlang yang bakal membobol gawang lawan.

Dari kaki atau sundulan kepalanya bakal lahir gol kemenangan. Dia sepertinya memberi peringatan kepada barisan pertahanan lawan, supaya hati-hati kalau tak mau kebobolan gol terus.

Brasil sendiri, meneruskan tradisi angka 10 itu pada anggota-anggota tim dunianya. Rivelino misalnya, pada masa Pele masih jaya dan merajalela, dia memakai nomor punggung 11.

Namun begitu Pele menggantung sepatu, di Piala Dunia 1974, Rivelino segera menyandang nomor punggung 10. Juga bintang Brasil yang mendapat julukan "Pele Putih", Zico, juga bernomor punggung 10.

Semua ingin seperti Pele. Karena Pele memang citra kesempurnaan dalam dunia sepakbola sepanjang masa. Pas sekali dengan angka 10, nilai sempurna, yang tertera di belakang punggungnya.

Tiga kali juara

Tidak ada seorang pemain sepakbola pun di dunia ini, pernah tiga kali memperkuat tim juara dunia - seperti halnya Pele di Piala Dunia 1958, 1962 dan 1970. Dia bahkan tampil pula di Piala Dunia 1966, namun Brasil tak menjadi juara.

Popularitasnya menembus hampir ke segala batas dunia. Namanya begitu dikenal, tidak hanya di Eropa dan Amerika, tetapi juga di benua Asia, Afrika dan Australia. Boleh dibilang, orang lebih mengenal permainan sepakbola Pele daripada cabang olahraga lain, pada waktu itu.

Dia juga lebih dikenal dari orang terkenal manapun yang pernah hidup di dunia ini. Pada masa jayanya, dia dipotret lebih banyak dari orang manapun sepanjang sejarah, entah negarawan, bintang film atau penyanyi.

Seperti yang dilukiskan dalam kata pengantar otobiografi Pele susunan Robert L. Fish, Pele sudah mengunjungi 88 negara di dunia, bertemu dengan 10 raja, lima kaisar, 70 presiden dan 40 pimpinan tertinggi negara lainnya, termasuk di antaranya dua orang Paus dari Vatikan. Dia juga menyandang gelar warga negara kehormatan, jumlahnya lebih banyak dari orang manapun di dunia.

Begitu populernya Pele, sampai-sampai perang di Biafra, Nigeria, pernah dihentikan selama dua hari hanya karena kedua belah pihak ingin menyaksikan penampilan Pele di lapangan hijau. Shah Iran pun, saat masih berkuasa, menyempatkan diri menunggu tiga jam di bandara internasional, agar bisa berbicara dan berfoto bersama Pele.

Bahkan Pasukan Merah yang menjaga perbatasan Cina, sempat menyelundup dan lari ke Hong Kong karena mendengar Pele akan mampir di negeri tetangganya.

Di Kolombia, Pele pernah dikeluarkan dari lapangan pertandingan. Apa reaksi publik? Semua penonton menyerbu ke lapangan sehingga sang wasit perlu diamankan dari amukan massa dan diganti oleh penjaga garis.

Akhirnya tuntutan mereka agar Pele ditampilkan lagi pun dipenuhi. Suatu peristiwa yang rasanya tak akan pernah terjadi lagi di dunia sepakbola hingga sekarang…

Tiap main, cetak gol

Pele dikenang bukan hanya karena keindahan gol ciptaannya, akan tetapi juga begitu banyaknya gol yang lahir dari kakinya.

Ibarat seniman lukis, dia dinilai menghasilkan lukisan yang berbobot tinggi dalam jumlah begitu banyak. Kemampuan alamiah yang dimilikinya telah menghasilkan hampir 1.300 gol, lebih dari dua kali lipat jumlah gol yang dicetak pemain paling produktif dunia.

Dia bermain terakhir kali, setelah gantung sepatu dari tim Brasil, di New Jersey, AS, tanggal 1 Oktober 1977, di hadapan 75.646 penonton. Dia tampil untuk Cosmos New York, klub terakhir yang mengontraknya, dan juga untuk Santos, klub asalnya dari Brasil.

Penampilan terakhirnya ini merupakan penampilannya yang ke-1.363 kali, dan dia mencetak golnya yang ke-1.281 (tentu saja termasuk pertandingan tidak resmi).

Setelah itu, dia mencetak gol dua kali lagi, dalam suatu pertandingan khusus. Bagi tim nasional Brasil, Pele menjaringkan 97 gol. Kalau dirata-rata, hampir di setiap pertandingan Pele selalu mencetak gol ....

Popularitasnya juga merambah ke dunia seni. Lebih dari 90 lagu menyebut nama Pele, di pelbagai negara dunia. Di Brasil, dia tidak hanya dikenal sebagai atlet yang hebat, tetapi bintang film dan bintang televisi pula. Dia juga penyair yang baik, serta pemain musik yang terampil.

Keluarga bola

Pele kelahiran Tre Coracoes di Minas Gerais, Brasil, 23 Oktober 1940, memang berasal dari keluarga sepakbola. Ayahnya, Joao Ramos do Nascimento yang dikenal dengan julukan Dondinho, seorang pemain sepakbola profesional.

Namun, sejak kapan Edson Arantes do Nascimento disebut Pele, belum ada sumber yang dapat menerangkan dengan jelas.

Latar belakang pendidikannya ketika masih remaja sangat minim. Tetapi setelah populer dan kaya-raya, dia berusaha keras melengkapi dirinya dengan studi lanjutan, sampai akhirnya lulus dari perguruan tinggi.

Karena sering merantau dan belajar, Pele akhirnya lancar berbahasa Spanyol, Prancis, dan Italia. Tentunya dia juga tak mengecewakan bila bercakap dalam bahasa Inggris, serta bahasa Portugis, bahasa ibunya!

Karier sepakbola Pele dimulai ketika keluarganya pindah ke Bauru di Sao Paulo. Tim pertama yang diperkuatnya adalah tim sekolah, Ameriquinha. Nasibnya mulai berubah setelah dia bergabung dengan Tim Boquinha, yang dikelola Persatuan Atletik Bauru.

Waktu itu Pele masih berumur 13 tahun. Bauru menunjuk Waldemar de Brito sebagai pelatih. Waldemar, yang pernah menjadi anggota tim nasional Brasil di Piala Dunia 1934, adalah teman baik ayah Pele.

Waldemar ini pula yang banyak membentuk perkembangan permainan Pele pada masa remajanya. Waldemar sangat keras tetapi bijaksana. Dia menularkan segala ilmunya pada Pele. Waldemar juga tipe pelatih yang tak pernah menghambat bakat alam pemain asuhannya.

Usia 15 tahun, Pele pindah, setelah "naik tingkat" dari tim junior ke senior. Dalam usia 16 tahun, dia tampil untuk pertama kalinya bagi klub senior Santos yang baru dimasukinya tersebut. Namun, dia baru mencetak gol pada penampilan yang kedua, ketika Santos menggilas Corinthians 7 – 1 pada 7 September 1956.

Setahun kemudian, dia dipilih memperkuat tim nasional Brasil di Piala Roca, di antaranya berhadapan dengan rival bebuyutan, Argentina. Dalam penampilannya pertama, 7 Juli 1957 waktu itu, Pele sebagai pemain pengganti melakukan debut gemilang, dia serta-merta menjaringkan gol dalam waktu 10 menit.

Brasil akhirnya kalah 1 - 2, tetapi dalam pertandingan kedua melawan tim yang sama, Brasil mencetak kemenangan 2 - 0.

Ketika bergabung dengan Santos, Pele menjadi pencetak gol terbanyak, dengan 36 gol di liga Sao Paulo. Tahun berikutnya, dia mencatat rekor 53 gol.

Namun prospeknya untuk tampil di Piala Dunia hampir saja surut, karena menderita cedera berkepanjangan. Dia hampir saja tak terpilih karena cedera lutut.

Seperti ketika tampil di Piala Dunia 1958, Pele duduk di bangku cadangan sampai pertandingan ketiga melawan Uni Soviet. Dia mencetak salah satu dari dua gol kemenangan.

Pada pertandingan berikutnya, melawan Wales, Pele pun mencetak gol. Di semifinal melawan Prancis, Pele bahkan mencatat hattrick, tiga kali berturut-turut mencetak gol di gawang lawan dalam satu pertandingan.

Cedera berkepanjangan

Kariernya hampir saja berakhir di tengah jalan. Dalam kesempatan Piala Dunia berikutnya, 1962 dan 1966, dia hanya main di pertandingan-pertandingan terbatas.

Pada Piala Dunia 1962, setelah mencatat sukses ikut mencetak gol di gawang Meksiko pada penyisihan pertama, Pele nyaris putus asa karena cedera yang tak kunjung sembuh.Brasil ditahan Ceko-Slowakia tanpa gol. Pele yang cedera tak bisa lagi meneruskan pertandingan, sampai Piala Dunia berakhir dan Brasil tampil sebagai juara.

Empat tahun kemudian, di Piala Dunia 1966 Inggris, Pele "dibantai" dengan sadis oleh pemain-pemain belakang Bulgaria dan Portugis, sehingga perlu bantuan untuk meninggalkan lapangan.

Tahun 1970, semua berjalan seperti rencana. Pada usia 29 tahun, dia tampil lebih mantap.

Tetapi tahun terbaiknya sebagai algojo gol terjadi pada tahun 1959. Tahun itu dia selalu mencetak gol dalam setiap penampilannya. Jumlah gol yang dicetak tahun itu sebanyak 126. Tahun 1969, Pele mencetak golnya yang ke-1.000 dalam 909 kali bertanding.

Di luar lapangan, Pele juga memberi teladan bagi kaum muda sebayanya. Dia tidak menolak ketika mendapat tugas dinas militer. Dia mengabdi menjadi tentara penjaga pantai di kesatuan ke-6 negerinya.

Di lapangan, dia sering jadi incaran pembantaian pemain belakang lawan. Tetapi Pele hampir tak pemah kena kartu merah. Ketika beranjak dewasa serta matang permainannya, Pele menghadapi nafsu pembantaian lawan dengan kelitan, gocekan dan penguasaan bola yang menawan.

Di Piala Dunia 1970, Pele menampilkan seni bermain bolanya secara maksimal. Pandangan yang jeli dalam membaca posisi kawan dan lawan di lapangan, membuatnya lebih tangkas dan lebih cepat beberapa detik dari lawan-lawannya.

Kontrol bolanya mengagumkan dan pada penyelesaian akhir Pele tidak egois. Tidak jarang, dia justru memberi umpan-umpan manis pada kawan mainnya, termasuk pada kaptennya, Carlos Alberto, padahal Pele sebenarnya bisa melakukannya sendiri.

Dia tampil terakhir kali untuk Brasil pada bulan Juli 1971. Itu merupakan penampilannya yang ke-111 bagi tim negerinya, ketika menghadapi Austria. Penampilannya terakhir untuk tim asalnya, Santos, terjadi pada tahun 1974.

Sampai akhir hayatnya – Pele meninggal pada 29 Desember 2022 – Pele masih harum sebagai "algojo" bernomor 10, di Brasil maupun penjuru dunia lainnya. Dia tetap bertahan sebagai salah satu duta sepakbola sepanjang masa. (Jimmy s. Harianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.