SERAMBINEWS.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas, namun di tengah klaim Amerika Serikat yang meremehkan kekuatan Teheran, seorang analis menegaskan bahwa kemampuan militer Iran masih jauh dari kata lumpuh.
Andreas Krieg dari King's College London Kamis seperti dilansir Al Jazeera menyebut bahwa kekuatan militer Iran yang tersisa tetap “cukup signifikan” dan bahkan masih menyimpan sejumlah persenjataan paling canggih.
Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, Krieg menepis narasi bahwa Iran telah kehilangan kemampuan tempurnya.
Ia menegaskan bahwa Teheran masih mampu melancarkan serangan jarak jauh, termasuk ke kawasan Teluk hingga wilayah Israel.
• Trump Geram Sekutu Tak Dukung Perang Lawan Iran, Pertimbangkan Tarik AS dari NATO
“Kita belum berada pada situasi di mana Iran tidak mampu menembakkan proyektil ke Teluk, bahkan hingga ke Israel,” ujarnya.
Lebih jauh, Krieg menilai bahwa dalam beberapa aspek, kemampuan serangan Iran justru mengalami peningkatan.
Ia menyoroti bahwa melemahnya sistem pertahanan di kawasan tertentu dapat membuat serangan Iran menjadi lebih presisi dalam mencapai target.
Di sisi lain, perhatian juga tertuju pada jalur vital energi dunia, Selat Hormuz.
Krieg menekankan bahwa negara-negara Eropa, termasuk Inggris, mulai meragukan posisi Amerika Serikat sebagai mitra keamanan yang sepenuhnya dapat diandalkan di kawasan tersebut.
Menurutnya, tidak ada solusi militer yang efektif untuk mengamankan jalur strategis itu jika terjadi eskalasi besar.
“Tidak ada cara militer untuk memaksa gerbang ini tetap terbuka,” kata Krieg.
“Setiap solusi harus bersifat diplomatis dengan atau tanpa Amerika.”
Pernyataan ini menambah lapisan baru dalam dinamika konflik, menunjukkan bahwa selain kekuatan militer, jalur diplomasi kini menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas kawasan yang semakin rapuh.
Trump Ancam Musnahkan Iran Kembali ke Zaman Batu, Serangan Rudal Besar-besaran Hantam Tel Aviv
Ketegangan di Timur Tengah melonjak drastis setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran, bersumpah akan “mengembalikan negara itu ke Zaman Batu”. Pernyataan tersebut langsung dibalas Teheran dengan serangan rudal yang menghantam Tel Aviv pada Kamis, menandai eskalasi baru dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan.
Dalam pidato utamanya di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat berada di ambang pencapaian tujuannya dalam perang melawan Iran. Namun, ia menegaskan bahwa operasi militer akan semakin diperluas jika Teheran tidak segera menyepakati penyelesaian melalui negosiasi. Dengan nada tegas, Trump mengatakan dalam dua hingga tiga minggu ke depan, Iran bisa dihancurkan sepenuhnya jika tidak ada kesepakatan.
Tak lama setelah pidato tersebut, Iran menunjukkan respons cepat. Sirene serangan udara meraung di Tel Aviv saat rudal-rudal diluncurkan, memaksa sistem pertahanan Israel bekerja penuh. Aparat setempat melaporkan beberapa titik dampak, sementara sejumlah warga mengalami luka ringan. Situasi mencekam membuat sebagian warga memilih berlindung di bunker, bahkan saat perayaan keagamaan berlangsung.
Pusat komando militer Iran, Khatam Al-Anbiya, memperingatkan bahwa serangan yang dilakukan baru permulaan. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, mereka menegaskan bahwa tindakan selanjutnya akan jauh lebih besar, lebih luas, dan lebih merusak. Iran juga menegaskan tekadnya untuk melanjutkan perang hingga pihak lawan mengalami kekalahan total.
Di sisi lain, peluang diplomasi yang sempat disinggung Washington tampaknya belum menemukan jalan. Iran menolak tawaran gencatan senjata dan menyebut tuntutan Amerika Serikat sebagai tidak rasional. Otoritas Teheran menegaskan tidak ada negosiasi langsung dengan Washington, meski komunikasi melalui pihak ketiga disebut tetap berlangsung.
Situasi di kawasan juga semakin kompleks setelah konflik meluas ke Lebanon. Kelompok Hizbullah dilaporkan meluncurkan serangan ke wilayah utara Israel, sehari setelah serangan udara di Beirut menewaskan seorang komandan penting mereka. Sejak awal konflik, korban jiwa di Lebanon terus bertambah, menambah panjang daftar dampak kemanusiaan dari perang ini.
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, dampak ekonomi global mulai terasa. Harga minyak melonjak dan pasar keuangan bergejolak, dipicu kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia. Ancaman Iran untuk menutup jalur tersebut semakin menambah kecemasan internasional.
Sejumlah negara mulai merasakan efek langsung dari konflik ini. Biaya energi meningkat, aktivitas ekonomi terganggu, dan kebijakan darurat mulai diterapkan di beberapa wilayah. Lembaga internasional pun memperingatkan bahwa perang ini berpotensi memperburuk inflasi global serta mengganggu ketahanan pangan dan lapangan kerja.
Dengan situasi yang terus memanas dan belum adanya tanda-tanda deeskalasi, Timur Tengah kini berada di titik kritis. Dunia menanti apakah jalur diplomasi masih bisa menyelamatkan keadaan, atau justru konflik ini akan berkembang menjadi krisis yang jauh lebih besar.(*)