5 Teks Khotbah Jumat Agung Penuh Makna, Renungkan Wafat Yesus Kristus
Hendrik Budiman April 02, 2026 09:54 PM

 

TRIBUNBENGKULU.COM - Jumat Agung menjadi momen sakral bagi umat Kristiani untuk mengenang wafatnya Yesus Kristus di kayu salib sebagai bentuk kasih dan penebusan dosa manusia.

Dalam perayaan ini, khotbah memiliki peran penting untuk menyampaikan pesan iman yang mendalam dan menyentuh hati jemaat.

Berdasarkan ketetapan resmi pemerintah, terdapat dua tanggal merah pada bulan April 2026.

Kedua hari tersebut berkaitan dengan peringatan hari besar keagamaan umat Kristiani. Berikut rinciannya:

Jumat (3/4/2026): Wafat Yesus Kristus (Jumat Agung).

Minggu (5/4/2026): Kebangkitan Yesus Kristus (Paskah).

Hari Paskah adalah salah satu perayaan penting bagi umat kristiani.

Jumat Agung adalah peringatan penyaliban hingga wafatnya Yesus Kristus di bukit Golgota. 

Berdasarkan kalender Masehi, Jumat Agung selalu dirayakan setiap hari Jumat sebelum Minggu Paskah.

Berikut lima contoh teks khotbah Jumat Agung yang dapat menjadi referensi untuk memperkaya renungan dan penghayatan spiritual.

1. Judul: Mengingat dan Mengimani Derita Yesus yang Disalibkan

Kotbah: Yohanes 19:28-37 Bacaan: Mazmur 22:1-9

Jumat Agung adalah perayaan untuk memperingati sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib. Pada Jumat Agung ini Yesus mati disalibkan di Bukit Golgota demi menanggung dosa manusia dan dunia ini.

Pada Ibadah Jumat Agung ini, kita akan membahas tema “Memandang dan percaya kepada Yesus yang disalibkan”. Peristiwa penyaliban Yesus itu bukanlah sebuah peristiwa yang biasa melainkan peristiwa yang luar biasa, karena Yesus rela mati akibat dari dosa manusia.

Sejatinya manusia berdosalah yang harus mati di kayu salib, tetapi Yesus mau dan rela menjadi manusia untuk menggantikan kita tersalib di Golgota. Ini semua Ia lakukan, agar kita, manusia berdosa ini, beroleh kehidupan yang kekal.

Ketika kita memandang kematian Yesus, maka kita akan menemukan suatu keanehan, yaitu Yesus tidak mau menghindari kematian, bahkan tidak mau penderitaan-Nya dikurangi! Dari mana kita bisa melihat hal ini?

Salah satunya adalah, Yesus menolak minuman. Dalam Matius 27:34 dikatakan bahwa Yesus diberi minum “anggur bercampur empedu”, dan dalam Markus 15:23 dikatakan bahwa Yesus diberi “anggur bercampur mur”.

Ini bukan kontradiksi, karena minuman itu adalah anggur bercampur ramuan tertentu, yang mengandung baik empedu maupun mur. Tetapi pada saat Yesus mengecap minuman itu, dikatakan bahwa Ia tidak mau meminum-Nya. Mengapa?

Baca juga: Sambut Paskah dengan 15 Lagu Minggu Palma, Penuh Sukacita dan Makna Iman

Yesus tidak mau minum anggur bercampur empedu atau mur itu, karena minuman itu adalah minuman yang mengandung ramuan yang bisa membius atau mengurangi rasa sakit, dan diberikan kepada orang yang disalib sebagai suatu tindakan belas kasihan kepada mereka.

Ketidakmauan Yesus menerima pengurangan rasa sakit atau penderitaan merupakan sesuatu yang lebih aneh lagi dari pada sekedar tidak menghindari kematian.

Orang kristen yang sejati, seharusnya mempunyai keyakinan keselamatan, dan karena itu mestinya tidak takut mati. Tetapi siapa yang tidak takut pada penderitaan atau rasa sakit yang hebat? Siapa yang pada waktu mengalami rasa sakit yang hebat tidak menginginkan rasa sakitnya dikurangi?

Lalu mengapa Yesus tidak mau rasa sakit atau penderitaan-Nya dikurangi?

Karena, Ia sadar bahwa saat itu Ia sedang memikul hukuman dosa manusia, termasuk hukuman dosa saudara dan saya. Dan Ia ingin memikul seluruh hukuman dosa manusia!

Andaikata saja pada saat itu Yesus mau meminum minuman bius itu, dan rasa sakit-Nya berkurang, katakanlah 10 persen, maka itu berarti Ia hanya memikul 90 persen hukuman dosa kita.

Tahukah apa akibatnya? Kita boleh saja betul-betul percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi hanya 90 persen dari dosa-dosa kita yang ditebus atau dibayar oleh Yesus. Sedangkan 10 persen sisanya, kita harus menanggungnya sendiri.

Dengan menolak minuman itu, itu artinya kita sudah 100 persen ditebus dosanya. Jadi, kalau kita mau percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat, maka semua dosa kita tanpa kecuali, akan dihapuskan. Karena itulah orang yang percaya kepada Yesus mempunyai jaminan keselamatan!

Akhir kata, mari kita jadikan momen Jumat Agung ini sebagai peringatan akan sengsara dan kematian Yesus, serta cinta kasih Nya yang tulus kepada kita semua. Karena dengan darahNya yang tercurah di kayu salib, kita semua, yang percaya kepadaNya sudah ditebus dan diselamatkan.

2. Kasih di Tengah Penderitaan

Yohanes 19:26

Suatu kali saya memerhatikan antrian panjang di tempat penjualan minyak tanah ketika program konversi dari minyak tanah ke gas itu tengah gencar dikampanyekan. Minyak tanah menjadi langka. Itulah sebabnya antrian di siang hari yang panas itu tampak begitu panjang di tempat penjualan.

Saking panjangnya sampai mengambil bagian jalan yang seharusnya digunakan untuk mobil. Dari dalam mobil saya yang turut terhenti karena macet akibat barisan antrian, saya melihat keramaian di antrian itu. Mereka yang ada di antrian tampak berbicara satu sama lain. Terlihat akrab, mungkin mereka saling mengenal. Tiba-tiba sebagian mulai berteriak-teriak meminta penjualan segera dimulai karena hari semakin panas.

Akhirnya, pintu pagar kios penjual minyak tanah itu pun mulai dibuka dan orang-orang berebut bergerak ke depan. Mereka berlarian, menabrak, dan menginjak-injak anak-anak yang ikut antrian tersebut. Mulailah terdengar teriakan dan jeritan kesakitan. Selanjutnya, tampak beberapa orang tergeletak di pinggir jalan. Tidak ada yang peduli, semua sibuk berebut mendapatkan minyak tanah.

Kesulitan dan penderitaan hidup ternyata dapat membuat orang hanya memerhatikan dirinya sendiri. Kesulitan dan penderitaan hidup sering kali membutakan mata kita terhadap keberadaan orang lain. Tatkala kita sedang menghadapi masalah di dalam keluarga, sering kali masalah itu membutakan mata kita terhadap keberadaan atau kesulitan orang lain. Kita kerap berkata kepada diri sendiri, “Saya saja punya begitu banyak pergumulan dan masalah, mana sempat memerhatikan orang lain. Orang lain dong yang memerhatikan saya.”

Tatkala kita sedang mengalami kesulitan di pekerjaan, misalnya tidak ada pesanan atau transaksi di toko kita, maka kita akan cenderung terus memikirkan hal itu.

Pertanyaan mengapa dan apa yang tidak beres sehingga hal ini terjadi, memenuhi pikiran kita. Pikiran kita sedemikian dipenuhi dengan pertanyaan semacam itu sehingga tidak ada ruang untuk memikirkan orang lain.

Ketika kita sedang bergumul tentang kesehatan, ketika kita menderita sakit yang luar biasa, kita mengharapkan orang lain menyatakan kasih kepada kita. Kita mengharapkan orang lain memerhatikan kita. Jarang ada orang yang dapat memerhatikan orang lain manakala ia sendiri sedang sakit dan menderita.

3. Sudah Selesai

Selanjutnya, berikut teks khotbah dengan judul Sudah Selesai ciptaan Pendeta Ruth Retno Nuswantari.
Yohanes 19:29-30

Apa yang saudara rasakan ketika berhasil menyelesaikan suatu tugas atau proyek tertentu dan berkata “sudah selesai”? Lega? puas? atau bisa juga kecewa karena hasilnya tidak sesuai dengan apa yang saudara harapkan. Tuhan Yesus bukan sekedar lega atau puas, apalagi kecewa karena hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Dia harapkan. “Sudah selesai” yang dikatakan oleh Tuhan Yesus mengandung makna yang sangat dalam.

Apa makna “Sudah selesai” yang diucapkan Tuhan Yesus di kayu salib? Pertama, “Sudah selesai” merupakan proklamasi kemenangan Kristus atas iblis, dosa dan maut.

Salib Kristus nampaknya berarti kejahatan menang atas kebenaran, namun dengan mengatakan: “Sudah selesai”, di akhir penyaliban, Tuhan Yesus justru sedang memproklamasikan kemenangan-Nya secara total, mengalahkan iblis, bapa segala kejahatan, sumber segala dosa dan maut.

Matius, Markus dan Lukas mencatat bahwa Tuhan Yesus mengucapkan kalimat tsb dengan suara nyaring, bukan lemah. Padahal seharusnya Dia sudah kehabisan tenaga karena tekanan yang demikian berat baik fisik maupun mental dan spiritual. Suara nyaring menunjukkan bahwa tidak ada sesuatupun, termasuk tekanan dan penderitaan seberat apa pun yang dapat mengalahkan-Nya.

Dia meraih kemenangan itu dengan cara melakukan semua kehendak Bapa dengan sempurna dan dengan ketaatan mutlak. Di taman Gesemani Dia berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mt 26:39), dan Dia sudah melakukan apa yang menjadi doa-Nya itu dengan tuntas.

Di dunia ini tidak ada seorangpun yang hidupnya dinubuatkan dengan sangat mendetail seperti Tuhan Yesus, dan Dia sudah menggenapi semuanya tanpa terkecuali, sampai yang sekecil-kecilnya.

Sejak awal iblis terus melampiaskan kejahatannya dan berusaha menghancurkan Tuhan Yesus agar Dia gagal menggenapi nubuat tentang diri-Nya. Ketika Tuhan Yesus lahir, melalui tangan Herodes dia melakukan percobaan pembunuhan. 

Penghinaan terakhir yang diterima-Nya adalah pemberian anggur asam dengan menggunakan bunga karang pada sebatang hisop. Mattew Henry berkata bahwa setetes air jauh lebih berharga dari pada anggur asam.

Raja segala raja, harus berada di atas kayu salib dan minum anggur asam dari bunga karang yang dicucukkan pada sebatang hisop merupakan penghinaan yang paling menghina.

4. Dosa-Dosa Pontius Pilatus

Masih merujuk pada situs Khotbah Kristen, berikut teks khotbah Jumat Agung yang disampaikan Jenny Wongka.
Yohanes 19:1-6

Hari itu tepat sama seperti hari-hari sebelumnya bagi Pontius Pilatus. Ia menantikan tugas-tugas rutin di kantornya. Beberapa jam harus diluangkan dalam menangani persidangan pagi hari menjelang tibanya waktu makan siang. Setelah itu, menjelang pulang istirahat, ia harus sibuk menyiapkan laporan kerjanya untuk pemerintah Roma. Pada malam hari, kadang diselingi dengan jamuan makan malam tradisional para petinggi Roma, yang dimeriahkan oleh musik dan hiburan-hiburan lain. Bagi Pilatus, pagi ini mungkin sama dengan pagi-pagi sebelumnya, namun sungguh ia tidak sadar sepenuhnya betapa pagi ini merupakan suatu pagi yang sangat menentukan bagi dirinya.

Pilatus berdiri berhadapan dengan Yesus Kristus, Anak Allah,

Ia telah membuat satu keputusan besar dalam hidupnya,

Ia telah menjual kehormatan dirinya dan menandai dirinya

sendiri dengan predikat: a compromiser and a coward!

Selama kira-kira 12 jam Pilatus tampil di layar persidangan.

Pada beberapa jam itu pula dengan sangat jelas terbentang satu lukisan pergumulan diri Pilatus, kelemahan diri serta kehancuran karakter seorang pemimpin. Memang ia tampil dalam beberapa jam saja, namun justru telah memerankan satu bagian yang sangat penting dalam peristiwa penyaliban Tuhan Yesus.

Pilatus akan melakonkan perannya sekali lagi di hadapan kita pada hari ini. Dalam rangka memperingati Jumat Agung, marilah kita merenungkan dosa-dosa Pontius Pilatus sebagai sebuah peringatan untuk diri kita. Mari kita simak satu per satu!

5. Dosa Kompromis

Pilatus tahu dengan jelas bahwa Yesus tidak bersalah dan bahwa Yesus harus dibebaskan. Pilatus ingin melihat Dia dibebaskan. Ia ingin menjadi seorang hakim yang baik! Dalam relung hatinya ia ingin melakukan sesuatu hal yang baik.

Namun Pilatus tahu bahwa musuh-musuh Yesus menginginkan kematian-Nya, dan ia tahu bahwa para musuh-Nya itu sangat berkuasa. Dengan hasrat untuk menyenangkan banyak orang, maka ia telah mencoba untuk berkompromi.

Pilatus mencoba untuk melakukan hal yang benar sekaligus hal yang salah. Ia telah mencoba untuk memuaskan tuntutan hati nuraninya, dan pada waktu yang sama untuk memuaskan hati para musuh Yesus. “Aku tidak akan membunuh Dia seandainya mereka tidak mendesak aku untuk melakukan hal ini!” Ia berkata, “Aku hanya ingin setengah membunuh Dia saja, aku akan menyesah Dia demi untuk memuaskan hati para musuh-Nya. Namun di sisi yang lain, aku akan menyayangkan nyawa-Nya, sehingga hati nuraniku tidak tertekan.”

Maka Pilatus menyerahkan Yesus ke tangan pasukan laskar Romawi yang berada di barak mereka. Pakaian Yesus ditanggalkan, dan cemeti Romawi yang terkenal sebagai alat cambuk berduri pada zaman itu dicambukkan pada punggung Yesus. Cambukan pada punggung itu mengakibatkan luka dan darah pun mengalir.

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.