TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO- Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menggelar kegiatan guest lecture bertajuk “Merawat Harmoni Beragama di Era Digital” di Meeting Room K.H. A. Wahid Hasyim, Rabu (1/4/2026).
Kegiatan menghadirkan Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI, M. Adib Abdushomad, sebagai narasumber utama.
Ini menjadi forum akademik strategis untuk memperkuat literasi digital sekaligus menanamkan nilai moderasi beragama di tengah derasnya arus informasi digital, khususnya bagi mahasiswa FTIK sebagai calon pendidik.
Dekan FTIK UIN Saizu Purwokerto, Prof. Fauzi menegaskan pentingnya kegiatan ini dalam membangun kesadaran mahasiswa terhadap tantangan sosial-keagamaan di era digital.
Dia menyebut mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan di masyarakat.
“Mahasiswa FTIK tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi penjaga nilai harmoni di tengah masyarakat yang semakin kompleks,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan wawasan moderasi beragama menjadi bekal penting bagi calon guru agar mampu menghadapi dinamika keberagaman di lingkungan pendidikan maupun masyarakat luas.
Dalam pemaparannya, M. Adib Abdushomad mengungkapkan tingginya intensitas penggunaan internet di kalangan generasi muda yang mencapai lebih dari tujuh jam per hari, dengan dominasi media sosial.
Ia menilai kondisi ini membuka peluang besar dalam penyebaran nilai positif, namun juga menyimpan risiko munculnya narasi radikal dan intoleran jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang memadai.
“Media sosial telah menjadi ruang publik baru. Tanpa literasi yang kuat, ruang ini rentan terhadap penyebaran paham ekstrem,” jelasnya.
Dia juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam berinteraksi di ruang digital.
Lingkungan digital yang tidak sehat, menurutnya, dapat berdampak serius terhadap pola pikir dan sikap generasi muda.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya digital literacy dan digital civility sebagai fondasi dalam membangun masyarakat yang harmonis.
“Diperlukan literasi digital dan etika bermedia untuk melahirkan masyarakat pencerah atau citizen scholars di era media sosial,” tambahnya.
Ia juga memaparkan sejumlah program PKUB dalam membangun kontra-narasi digital, seperti Harmony Class dan Harmony Talk, serta pelibatan generasi muda sebagai agen kerukunan melalui berbagai platform digital.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyumas, Prof. Roqib, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan ini.
Dia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga keagamaan menjadi kunci dalam memperkuat nilai toleransi di masyarakat.
“Kampus memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan komitmen menjaga kerukunan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, FTIK UIN Saizu berharap mahasiswa memiliki pemahaman komprehensif terkait tantangan keberagaman di era digital.
Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk menjadi agen moderasi beragama yang aktif di tengah masyarakat.
Kegiatan guest lecture ini sekaligus menegaskan komitmen FTIK UIN Saizu dalam mencetak lulusan yang unggul di bidang pendidikan, serta mampu menjaga nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan di tengah perkembangan era digital. (***)