BANGKAPOS.COM - Soal dan Kunci jawaban berikut ini hanya digunakan oleh orang tua untuk memandu proses belajar anak.
Sebelum melihat kunci jawaban, sebaiknya siswa sudah mengerjakan sendiri soal-soal tersebut.
Pada materi Bahasa Indonesia kelas 9 halaman 156, siswa diminta untuk membaca dan memahami teks suatu novel.
Buku Bahasa Indonesia siswa kelas 9 SMP halaman 156 membahas tentang memahami novel.
Buku pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 9 Kurikulum Merdeka merupakan karangan Eva Y. Nukman dkk. terbitan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2022.
Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 Halaman 131 Kegiatan 3 Kurikulum Merdeka
Kegiatan 1: Membaca dan Memahami Petikan Novel
Membaca
Bacalah dua petikan novel di bawah ini dengan saksama.
Teks 1
Aku tegak di atas panggung aula madrasah negeri setingkat SMP. Sambil
mengguncang-guncang telapak tanganku, Pak Sikumbang, Kepala
Sekolahku memberi selamat karena nilai ujianku termasuk sepuluh yang
tertinggi di Kabupaten Agam. Tepuk tangan murid, orang tua dan guru
riuh mengepung aula. Muka dan kupingku bersemu merah tapi jantungku
melonjak-lonjak girang. Aku tersenyum malu-malu ketika Pak Sikumbang
menyorongkan mik ke mukaku. Dia menunggu. Sambil menunduk aku
paksakan bicara. Yang keluar dari kerongkonganku cuma bisikan lirih yang
bergetar karena gugup, “Emmm… terima kasih, Pak… Itu saja…” Suaraku
layu tercekat. Tanganku dingin.
Nilaiku adalah tiket untuk mendaftar ke SMA terbaik di Bukittinggi. Tiga
tahun aku ikuti perintah Amak belajar di madrasah tsanawiyah, sekarang
waktunya aku menjadi seperti orang umumnya, masuk jalur nonagama—
SMA. Aku bahkan sudah berjanji dengan Randai, kawan dekatku di madrasah,
untuk sama-sama pergi mendaftar ke SMA. Alangkah bangganya kalau bisa
bilang, saya anak SMA Bukittinggi. Beberapa hari setelah eforia kelulusan kisut, Amak mengajakku duduk di langkan rumah. “Tentang sekolah waang, Lif…” Aku curiga, ini pasti tentang biaya pendaftaran masuk SMA. Amak dan Ayah mungkin sedang tidak punya uang.
“Amak mau bercerita dulu, coba dengarkan. Beberapa orang tua
menyekolahkan anak ke sekolah agama karena tidak punya cukup uang.
Ongkos masuk madrasah lebih murah … Tapi lebih banyak lagi yang
mengirim anak ke sekolah agama karena nilai anak-anak mereka tidak
cukup untuk masuk SMP atau SMA…”
“Akibatnya, madrasah menjadi tempat murid warga kelas dua, sisasisa
… Coba waang bayangkan bagaimana kualitas para buya, ustaz, dan
dai tamatan madrasah kita nanti. Bagaimana mereka akan bisa memimpin
umat yang makin pandai dan kritis? Bagaimana nasib umat Islam nanti?”
Mata Amak menerawang sebentar.
“Buyuang, sejak waang masih di kandungan, Amak selalu punya
cita-cita. Amak ingin anak laki-laki Amak menjadi seorang pemimpin
agama yang hebat dengan pengetahuan yang luas. Seperti Buya Hamka
yang sekampung dengan kita itu. Melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Mengajak orang kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran,” kata
Amak pelan-pelan.
“Jadi, Amak minta dengan sangat waang tidak masuk SMA. Bukan
karena uang, tetapi supaya ada bibit unggul yang masuk madrasah aliyah.
Aku mengejap-ngejap terkejut. Leherku rasanya layu. SMA—dunia
impian yang sudah aku bangun lama di kepalaku pelan-pelan gemeretak,
dan runtuh jadi abu dalam sekejap mata.
Bagiku, tiga tahun di madrasah tsanawiyah rasanya sudah cukup
untuk mempersiapkan dasar ilmu agama. Kini saatnya aku mendalami ilmu
nonagama. Tidak madrasah lagi. Aku ingin kuliah di UI, ITB, dan terus ke
Jerman seperti pak Habibie.
Teks 2
Kukira semua fakta itu lebih dari cukup bagiku untuk menyebut bulu tangkis
sebagai potensi seperti yang dinyatakan dalam buku-buku pengembangan diri
itu. Dan minat besar lainnya adalah menulis. Tapi memang tak banyak bukti
yang mengonfirmasi potensiku di bidang ini, kecuali komentar A Kiong bahwa
surat dan puisiku untuk A Ling sering membuatnya tertawa geli. Tak tahu apa
artinya, bagus atau sebaliknya. Maka aku mulai mengonsentrasikan diri untuk mengasah kemampuan kedua bidang ini. Seperti juga disarankan oleh buku-buku ilmiah itu maka aku membuat program yang jelas, terfokus, dan memantau dengan teliti kemajuanku. Buku itu juga menyarankan agar setiap individu membuat semacam rencana A dan rencana B.
Rencana A adalah mengerahkan segenap sumber daya untuk
mengembangkan minat dan kemampuan pada kemampuan utama atau
dalam bahasa bukunya core competency, dalam kasusku berarti bulu
tangkis dan menulis.
[…]
Demikianlah, rencana A sesungguhnya adalah apa yang orang sebut
sebagai kata ajaib mandraguna: cita-cita. Dan aku senang sekali memiliki
cita-cita atau arah masa depan yang sangat jelas, yaitu: menjadi pemain
bulu tangkis yang berprestasi dan menjadi penulis berbobot.
[…]
Semua ini gara-gara Lintang. Kalau tidak ada Lintang mungkin kami
tak ‘kan berani bercita-cita. Yang ada di kepala kami dan di kepala setiap
anak kampung di Belitong adalah jika selesai sekolah lanjutan pertama
atau menengah atas kami akan mendaftar menjadi tenaga langkong
(calon karyawan rendahan di PN Timah) dan akan bekerja bertahuntahun
sebagai buruh tambang lalu pensiun sebagai kuli. Namun,
Lintang memperlihatkan sebuah kemampuan luar biasa yang menyihir
kepercayaan diri kami. Ia membuka wawasan kami untuk melihat
kemungkinan menjadi orang lain meskipun kami dipenuhi keterbatasan.
Lintang sendiri bercita-cita menjadi matematikawan. Jika ini tercapai ia
akan menjadi orang Melayu pertama yang menjadi matematikawan, indah
sekali.
Pribadi yang positif, menurut buku, tidak boleh hanya memiliki satu
rencana, tapi harus memiliki rencana alternatif yang disebut dengan
istilah yang sangat susah diucapkan, yaitu contingency plan! Rencana
alternatif itu juga disebut rencana B. Rencana B tentu saja dibuat jika
rencana A gagal.
[…]
Seorang pribadi yang efektif dan efisien harus sudah memiliki rencana A dan rencana B sebelum ia keluar dari pekarangan rumahnya.
[…]
“Apakah Ananda sudah memiliki rencana A dan rencana B?” Itulah
pertanyaan pertama Bu Mus kepada Mahar.
[…]
Mahar menunduk. Ia pemuda yang tampan, pintar, berseni, tapi keras
pendiriannya. “Ibunda, masa depan milik Tuhan ….”
Setelah membaca kedua teks di atas, jawablah pertanyaan berikut ini.
1. Teks 1 dan teks 2 memiliki tema yang sama. Uraikan ide pokok pada teks 1 dan teks 2.
2. Dapatkah kalian menyimpulkan apa yang menjadi rencana A tokoh “aku” pada teks 1? Jelaskan jawaban kalian.
3. Siapa yang menjadi inspirasi tokoh pada teks 1 dan pada teks 2 dalam merencanakan masa depannya?
4. Siapa sosok yang menentukan rencana masa depan tokoh pada teks 1? Jelaskan jawaban kalian.
5. Apa yang dapat kalian simpulkan tentang cita-cita tokoh “aku” pada teks 1?
6. Jika kalian menjadi Alif (tokoh pada teks 1), apa yang akan kalian lakukan? Bagaimana cara kalian menyampaikan kepada orang tua bahwa kalian tidak sependapat dengan mereka?
7. Mahar (tokoh pada teks 2) berpendapat bahwa masa depan milik Tuhan. Apa argumentasi lain yang dapat digunakan dalam berdiskusi merencanakan masa depan? Jelaskan jawaban kalian.
8. Apakah kalian sudah punya rencana A dan B? Tuliskan rencana tersebut.
9. Kira-kira, apa yang akan menghalangi kalian dari rencana kalian dan apa yang akan kalian lakukan untuk mengatasinya?
10. Apa yang akan membantu kalian mencapai rencana tersebut?
Kunci Jawaban:
1. Ide pokok teks 1 dan teks 2
Teks 1: Konflik antara keinginan pribadi tokoh “aku” untuk melanjutkan ke SMA dengan harapan orang tua yang ingin ia masuk madrasah demi menjadi pemimpin agama.
Teks 2: Pentingnya memiliki cita-cita (rencana A) dan rencana cadangan (rencana B) dalam merencanakan masa depan.
2. Rencana A tokoh “aku” pada teks 1
Rencana A tokoh “aku” adalah melanjutkan sekolah ke SMA terbaik di Bukittinggi, lalu bercita-cita kuliah di perguruan tinggi seperti UI atau ITB, bahkan ke Jerman seperti B. J. Habibie.
Hal ini terlihat dari keinginannya keluar dari jalur madrasah dan menekuni ilmu umum.
3. Tokoh inspirasi
Teks 1: Tokoh “aku” terinspirasi oleh Buya Hamka (dari sisi Amak) dan juga B. J. Habibie (dari cita-citanya sendiri).
Teks 2: Tokoh terinspirasi oleh Lintang yang membuka wawasan dan keberanian untuk bercita-cita tinggi.
4. Penentu rencana masa depan tokoh pada teks 1
Yang menentukan adalah Amak (ibu).
Ia meminta tokoh “aku” masuk madrasah aliyah karena memiliki cita-cita agar anaknya menjadi pemimpin agama, bukan karena alasan ekonomi.
5. Kesimpulan cita-cita tokoh “aku” pada teks 1
Tokoh “aku” bercita-cita menjadi orang sukses di bidang umum (nonagama), seperti kuliah di kampus ternama dan berkarier tinggi. Ia memiliki mimpi besar dan ingin keluar dari jalur pendidikan agama.
6. Jika menjadi Alif
Jika saya menjadi Alif, saya akan:
Tetap menghormati orang tua
Menyampaikan pendapat dengan sopan dan jujur
Menjelaskan alasan dan cita-cita saya
Mencari jalan tengah (misalnya tetap belajar agama sambil sekolah umum)
Cara menyampaikan:
“Saya sangat menghargai keinginan orang tua. Namun saya juga punya cita-cita sendiri. Saya ingin mencoba jalur ini, tapi tetap akan menjaga nilai agama yang telah diajarkan.”
7. Argumentasi lain selain “masa depan milik Tuhan”
Manusia tetap harus berusaha dan merencanakan masa depan
Perencanaan membantu mencapai tujuan dengan lebih terarah
Tuhan memang menentukan hasil, tetapi manusia wajib berikhtiar
Tanpa rencana, seseorang bisa kehilangan arah
8. Contoh rencana A dan B
Rencana A: Masuk jurusan impian dan meraih karier yang diinginkan
Rencana B: Memilih jurusan atau jalur lain yang masih berkaitan dan tetap berkembang
9. Hambatan dan cara mengatasi
Hambatan:
Kurangnya biaya
Kurangnya kemampuan
Rasa malas atau kurang percaya diri
Cara mengatasi:
Belajar lebih giat
Mencari beasiswa
Disiplin dan konsisten
Meminta dukungan orang tua dan guru
10. Hal yang membantu mencapai rencana
Dukungan keluarga
Kerja keras dan disiplin
Lingkungan yang positif
Guru atau mentor
Kemauan belajar yang tinggi
Disclaimer:
Kunci jawaban di atas hanya digunakan oleh orang tua untuk memandu proses belajar anak.
Sebelum melihat kunci jawaban, sebaiknya siswa sudah mengerjakan sendiri soal-soal tersebut.
(Tribunnews.com/Oktavia WW/Bangkapos.com)