TRIBUNNEWS.COM - Pengusaha rokok, Muhammad Suryo berurusan dengan hukum setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan atas kasus dugaan suap, gratifikasi, dan manipulasi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan.
Nama Muhammad Suryo terseret sebagai saksi guna membongkar lebih jauh benang merah mufakat jahat antara pengusaha dan oknum pejabat Bea Cukai.
Lantas siapa Muhammad Suryo?
Penelusuran Tribunnews.com, Muhammad Suryo adalah pria kelahiran Lampung Timur.
Ia merupakan Founder Surya Group dan saati ini mengemban jabatan CEO Surya Group Holding Company.
Suryo adalah pemilik atau mendirikan merek rokok HS.
Sejak kecil hingga SMA, ia menghabiskan waktu di Lampung sebelum keluarganya pindah ke Bengkulu.
Masa kuliah ia tempuh di UPN Veteran Yogyakarta dengan mengambil minat jurusan Agribisnis.
Jalan Wates-Purworejo, tepatnya di Palihan, Temon, Kulon Progo, pada Minggu (1/3/2026) sore.
Muhammad Suryo memulai kariernya sebagai wirausaha dari bawah.
Awalnya ia menjalankan usaha kecil seperti depot air isi ulang saat masih di Yogyakarta, kemudian berkembang memasuki sektor lainnya seperti konstruksi, migas, properti, dan akhirnya industri rokok bersama HS Rokok.
Baca juga: KPK Ungkap Uang Sitaan Miliaran Rupiah di Safe House Ciputat Tangsel Berasal dari Bos Rokok
Pada 2024, ia mendirikan pabrik rokok HS di Muntilan, Magelang, yang dimulai dengan sekitar 30 pekerja linting.
Dalam waktu singkat, merek ini tumbuh pesat dan menyerap ribuan tenaga kerja, dengan strategi perekrutan yang inklusif tanpa peduli ijazah, usia, atau pengalaman kerja asalkan ada kemauan belajar.
Suryo juga dikenal aktif melakukan ekspansi bisnis dan rencana pengembangan pabrik rokok baru di sejumlah daerah, termasuk Lampung Timur yang diproyeksikan menyerap sekitar 3.000 pekerja lokal.
Muhammad Suryo mengalami kecelakaan saat mengendarai motor gede (moge) Harley Davidson bersama istrinya, Anis Syarifah, di Jalan Wates-Purworejo, tepatnya di Palihan, Temon, Kulon Progo, pada Minggu (1/3/2026) sore.
Moge yang dikendarai bos HS itu diduga menabrak motor Jupiter MX yang dikendarai oleh ayah dan anak.
Akibat kecelakaan, Suryo disebutmengalami kritis dan dirawat di Jogja International Hospital.
Sementara sang istri meninggal dunia di tempat.
Informasi mengenai kecelakaan bos rokok "HS" ini banyak beredar di media sosial. Salah satunya diunggah oleh akun @Andreli_48 di Instagram.
Dalam unggahannya, menyebutkan salah seorang saksi bernama Pratman menyebut kecelakaan terjadi sekitar pukul 16.30 WIB.
Saat itu Muhammad Suryo tengah mengendarai motor Harley Davidson berboncengan dengan istrinya dari arah timur menuju ke barat.
Sementara pengendara motor Jupiter MX yang belum diketahui identitasnya hendak menyeberang dari arah selatan ke utara.
"Tadi harley-nya mau nyalip kendaraan di depannya (ambil kanan). Korban (Jupiter MX) dari selatan mau nyeberang, langsung ketabrak. Tadi anak kecilnya (penumpang Jupiter MX) langsung terlempar ke selokan (saluran dituangkan di samping jalan). Pengendara dan pembonceng harley-nya juga terlempar ke saluran irigasi,” tutur Pratman dikutip dari unggahan akun @Andreli_48 di Instagram.
Karena jarak yang terlalu dekat, tabrakan pun tidak bisa terhindarkan. Motor Harley Davidson berpelat Z 5050 MRS baru berhenti setelah terseret beberapa puluh meter dari lokasi kejadian.
Benturan yang sangat keras membuat pembonceng Harley jatuh terkapar dan dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian. Jenazahnya kemudian langsung dibawa ke RS Rizki Amalia.
Sedangkan sang suami, S, kritis dan dirujuk ke RS Jogjakarta International Hospital (JIH).
Sementara kedua korban lainnya, pengendara Jupiter MX kaki kanan patah serta anaknya, dirawat di RSUD Wates, Kulon Progo.
Muhammad Suryo memberikan kabar gembira pada ribuan karyawannya.
Tahun ini, dirinya akan memberangkatkan 150 karyawan beribadah umroh ke tanah suci.
Hal itu disampaikan Suryo ketika mengunjungi pabrik rokok HS di Muntilan, Magelang, Jumat (27/3/2026).
Hadiah umrah itu diberikan Suryo sebagai wujud syukur karena ia selamat dari musibah kecelakaan yang menimpanya.
"Ini bentuk syukur saya dan rasa terimakasih atas doa dan dukungan dari panjenengan semua. Kalian adalah penyemangat dan yang membuat saya tegar menghadapi cobaan ini. Saya minta terus doakan istri saya semoga husnul khatimah," ucap Suryo sambil terisak.
Program memberangkatkan karyawan umroh ini sudah dilakukan Suryo tiap tahun.
Namun kali ini jumlah karyawan yang diberangkatkan umroh lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.
Dalam kesempatan itu, Suryo juga memberikan fasilitas berupa tempat tinggal khusus atau mess untuk karyawan disabilitas yang bekerja di perusahaannya.
Sebab, banyak karyawan disabilitas yang berasal dari luar Jogja dan Magelang.
Saat ini, sudah ada 21 karyawan disabilitas yang bekerja di pabrik rokok HS. Suryo menegaskan, akan terus menerima karyawan disabilitas di pabriknya tanpa persyaratan apapun.
"Untuk kawan-kawan disabilitas yang sudah bekerja, akan kami buatkan mess khusus di sini. Kami juga akan terus menerima karyawan disabilitas dari manapun dan berapapun jumlahnya. Ayo kawan-kawan disabilitas di seluruh Indonesia, bergabung bersama kami. Semua bisa bekerja di sini tanpa ada syarat apapun," pungkasnya.
Kabar ini tentu saja membuat bahagia ribuan karyawan HS. Namun yang lebih membahagiakan mereka adalah, bisa melihat Suryo kembali sehat dan berhasil selamat dari musibah tragis itu.
Hal itu terlihat saat ribuan karyawan menyambut kehadiran Suryo. Mereka nampak bahagia sekaligus terharu. Nampak sejumlah karyawan yang didominasi ibu-ibu itu menangis dan tak henti bersyukur karena Suryo kembali pulih.
"Saat dengar pak Suryo kecelakaan, kami semua langsung khawatir. Apalagi mendengar bu Anis sampai meninggal dan kondisi pak Suryo kritis. Kami cuma bisa nangis dan lemas. Alhamdulilah hari ini pak Suryo sudah sehat dan kembali bisa bersama kami," ucap salah satu karyawan, Sundari,63.
Sundari tak henti-hentinya merasa bersyukur. Sebab, Suryo telah banyak membantu masyarakat termasuk mereka yang kini bekerja di pabrik rokok itu.
"Semoga pak Suryo selalu sehat. Pak Suryo orang baik, beliau sangat mementingkan kesejahteraan kami," kata Sundari yang pernah diberangkatkan umroh oleh Suryo itu sambil menangis.
Hal senada disampaikan Tika (35), karyawan disabilitas asal Temanggung.
Tika bersama puluhan karyawan disabilitas yang bekerja di HS begitu bersyukur, Suryo kembali sehat dan bisa beraktivitas.
"Jasa pak Suryo begitu besar. Karena beliau, kami teman-teman disabilitas bisa mendapat kesempatan bekerja di sini," ucapnya.
Saat ini ada 21 karyawan disabilitas yang bekerja di pabrik rokok HS.
Mereka berharap, ke depan akan semakin banyak kawan disabilitas yang bisa bergabung dengan HS.
"Semoga HS semakin jaya sehingga semakin banyak kawan-kawan disabilitas yang diterima bekerja. Maturnuwun atas kesempatan dan segala fasilitas berupa mess yang diberikan pada kami," ucap Tenyria Swastika (35) seorang penyandang disabilitas asal Magelang.
Pada Kamis (2/4/2026), penyidik KPK menjadwalkan pemeriksaan maraton terhadap Muhammad Suryo sebagai saksi.
Selain Suryo, tim penyidik lembaga antirasuah ini juga turut memanggil dua pihak swasta lainnya, yakni Arief Harwanto dan Johan Sugiharto.
"Pemeriksaan dilakukan di Gedung Merah Putih KPK," kata Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, dalam keterangannya.
Budi menambahkan bahwa pemanggilan para pengusaha ini sangat krusial untuk memetakan apakah modus pelanggaran di lingkungan kepabeanan bersifat sistematis.
KPK berkepentingan untuk melihat secara langsung kesenjangan antara Standar Operasional Prosedur (SOP) baku dengan praktik nyata yang dialami pengusaha di lapangan.
"Dikonfirmasi oleh penyidik terkait dengan proses atau mekanisme yang dilakukan sebagai seorang pengusaha rokok dalam mengurus cukai di Ditjen Bea dan Cukai. Kita ingin melihat bagaimana proses dan prosedur yang dilalui, bagaimana yang seharusnya dilakukan, bagaimana kemudian kondisi di lapangan," ujar Budi sebelumnya.
Pemanggilan Muhammad Suryo berkaitan erat dengan jejak bisnisnya sebagai pemilik merek rokok kretek lokal "HS".
Rokok tersebut diproduksi di bawah naungan Surya Group Holding Company yang beroperasi di wilayah Yogyakarta dan Magelang.
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, sebelumnya telah mengisyaratkan adanya pemanggilan terhadap bos rokok tersebut untuk mendalami aliran dana dan praktik lancung di lapangan.
"Ada MS, kami sudah panggil juga yang bersangkutan. Kami sudah mengirimkan surat panggilan untuk para pengusaha rokok, kalau tidak salah dari Jawa Tengah dan Jawa Timur," ucap Asep, Senin (30/3/2026).
Berdasarkan temuan penyidik, KPK mengendus adanya siasat curang di mana para pengusaha mengakali kewajiban pembayaran cukai negara.
Modus operandi yang digunakan meliputi pembelian pita cukai bertarif rendah, seperti yang diperuntukkan bagi industri rumahan manual, yang kemudian secara ilegal ditempelkan pada produk rokok buatan mesin yang seharusnya dikenakan tarif cukai jauh lebih tinggi.
Skandal yang tengah ditangani KPK ini tidak sekadar berfokus pada manipulasi pita cukai, melainkan konspirasi berskala besar yang mencakup pengaturan jalur importasi barang.
Kasus ini bermula dari temuan Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada 4 Februari 2026 yang membongkar praktik penyesuaian parameter mesin pemindai (targeting) di DJBC.
Melalui penyusunan rule set khusus yang diatur oleh oknum kepabeanan, forwarder logistik seperti PT Blueray (PT BR) dapat dengan mudah memanipulasi status barang dari jalur merah (wajib periksa fisik) ke jalur hijau (tanpa periksa fisik).
Imbasnya, barang-barang impor ilegal masuk ke wilayah Indonesia tanpa halangan.
Hingga saat ini, KPK telah menetapkan tujuh orang sebagai tersangka.
Dari unsur pejabat DJBC, KPK menahan mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC Rizal, Kasubdit Intel P2 DJBC Sisprian Subiaksono, Kasi Intel DJBC Orlando Hamonangan, serta Kepala Seksi Intelijen Cukai P2 DJBC Budiman Bayu Prasojo.
Sementara dari pihak swasta, tersangka meliputi pemilik PT Blueray John Field, Ketua Tim Dokumen Importasi Andri, dan Manager Operasional Dedy Kurniawan.
Dalam serangkaian penggeledahan, termasuk penemuan safe house di Jakarta Pusat dan Tangerang Selatan yang digunakan untuk menampung setoran uang, KPK telah menyita aset bernilai fantastis.
Total sitaan hingga kini mencapai lebih dari Rp40,5 miliar, yang terdiri dari uang tunai dalam berbagai mata uang asing, rupiah, logam mulia, hingga jam tangan mewah.
(Tribunnews.com/Chrysnha, Wahyu Aji, Ilham Rian Pratama) (TribunJogja.com/Hari Susmayanti)