TRIBUNMADURA.COM – Di tengah hamparan wilayah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, berdiri sebuah pesantren besar yang menyimpan jejak panjang sejarah perjuangan, dakwah, dan pemberdayaan umat.
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah bukan sekadar lembaga pendidikan Islam, melainkan simbol transformasi dari hutan belantara menjadi pusat peradaban yang berpengaruh di Jawa Timur.
Didirikan pada awal abad ke-20, pesantren ini lahir dari tekad dan visi Kiai Asad Syamsul Arifin yang membuka kawasan hutan lebat atas dasar ikhtiar spiritual dan dorongan para ulama.
Dari tempat yang dahulu dikenal hutan lebat, kini kawasan tersebut menjelma menjadi lingkungan religius yang hidup, dinamis, serta menyatu dengan aktivitas sosial-ekonomi masyarakat.
Baca juga: Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Tetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah Jatuh pada 20 Maret 2026
Berdasarkan informasi dari pariwisata.situbondokab.go.id, kawasan pesantren ini awalnya merupakan hutan lebat yang dihuni binatang buas.
Atas saran Habib Hasan Musawwa dan Kiai Asadullah dari Semarang, serta hasil istikharah, Kiai Asad Syamsul Arifin mulai membuka hutan tersebut sekitar tahun 1908.
Dengan bantuan para santri, kawasan yang semula sunyi itu perlahan diubah menjadi lahan pertanian sekaligus cikal bakal perkampungan pesantren.
Pada tahun 1914, sarana dasar seperti langgar dan gubuk telah berdiri, menandai dimulainya aktivitas pendidikan pesantren secara sederhana.
Baca juga: Santunan Anak Yatim dari Celengan Siswa Warnai Penutupan Pondok Ramadan FIES Sumenep
Mengutip disperpusip.jatimprov.go.id, Kiai Asad Syamsul Arifin lahir pada tahun 1841 di Kembang Kuning, Pamekasan, Madura.
Ia sempat menimba ilmu di Mekkah selama kurang lebih 40 tahun sebelum kembali ke tanah air dan mengembangkan dakwah Islam.
Pesantren Salafiyah Syafi’iyah kemudian berkembang pesat. Pada 1928 didirikan Madrasah Ibtidaiyah, disusul Madrasah Tsanawiyah pada 1943 dan Madrasah Aliyah.
Pesantren ini juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan, bahkan menjadi basis perlawanan rakyat melalui laskar Hizbullah-Sabilillah.
Setelah wafatnya Kiai Syamsul Arifin pada 5 Maret 1951, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Kiai Asad Syamsul Arifin.
Di bawah kepemimpinannya, pesantren mengalami perkembangan signifikan, termasuk pendirian Universitas Syafi’iyah pada 1968 serta berbagai lembaga pendidikan lainnya hingga tahun 1990.
Kini, pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga berperan sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Area pesantren yang luas dipenuhi berbagai fasilitas seperti toko kitab, warung makan, minimarket, hingga ATM center.
Menariknya, terdapat SPBU milik pesantren di pintu masuk kawasan sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi warga.
Aktivitas santri yang mengenakan sarung dan peci, serta perempuan berjilbab, menjadi pemandangan khas di lingkungan ini.
Untuk menunjang mobilitas, masyarakat menggunakan bentor (becak motor), mengingat jarak dari jalan utama ke kompleks pesantren mencapai sekitar 3 kilometer.
Di kawasan pesantren juga terdapat makam Kiai Asad Syamsul Arifin yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Makam ini kerap diziarahi masyarakat dari berbagai daerah sebagai bentuk penghormatan atas jasa perjuangannya.
Keberadaan pesantren ini pun berkembang menjadi destinasi wisata religi dan budaya di Situbondo.
Pengunjung tidak hanya belajar sejarah dan nilai keislaman, tetapi juga merasakan langsung kehidupan sosial yang menyatu antara pesantren dan masyarakat.
Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo kini menjadi bukti nyata bagaimana lembaga pendidikan Islam mampu tumbuh dari keterbatasan menjadi pusat peradaban yang memberi manfaat luas bagi masyarakat sekitar.
Baca juga: Pesona Wisata Sejarah hingga Alam di Madura, Dari Religi hingga Surga Gili yang Eksotis