Kenduri di Makam Putroe Sani, Dari Kejayaan Sultan Iskandar Muda ke Sunyi Makam Permaisuri
Zaenal April 02, 2026 11:03 PM

Jafar Insya Reubee dan Hasan Basri M. Nur Melaporkan dari Reubee, Pidie

SETIAP Idul Fitri, di Desa Reuntoh, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, masyarakat berkumpul di sekitar makam Putroe Sani--permaisuri Sultan Iskandar Muda--untuk menggelar kenduri. 

Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun, menjadi cara masyarakat menjaga ingatan terhadap sosok Sang Permaisuri yang berperan penting dalam sejarah Kesultanan Aceh Darussalam.

Namun, beberapa tahun terakhir tradisi itu sempat meredup. 

Generasi muda mulai lupa siapa Putroe Sani, dan makamnya nyaris tak terurus.

Bahkan, banyak anak muda di Reubee tak lagi tahu bahwa kampungnya pernah menjadi daerah berstatus istimewa pada masa Kesultanan Aceh Darussalam.

Di tengah kondisi itu, muncul sosok Ramadhan Bin Haji Ibrahim, atau akrab disapa Rama, seorang pengusaha muda desa yang peduli pada warisan leluhur. 

Dengan dana pribadi, Rama kembali menghidupkan kenduri di makam Putroe Sani.

Rama menyisihkan sebagian keuntungan dari usaha kerupuk kulit dan ternak lembu untuk membiayai kenduri. 

Ia memotong kambing, bahkan lembu, lalu mengajak masyarakat sekitar berdoa bersama. 

Doa dipanjatkan untuk Teungku Chik di Reubee, Sultan Iskandar Muda, Putroe Sani, serta kemaslahatan Aceh secara umum. 

Bagi Rama, kenduri bukan sekadar ritual, melainkan ikhtiar agar sejarah tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Kamis, 2 April 2026, menjadi momentum kesekian kalinya Rama menggelar kenduri di bekas istana Putroe Sani. 

Ia berharap tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga mendapat dukungan pemerintah. 

Baca juga: Viral Mobil di Australia Bernopol PIDIE, Pemiliknya Ternyata Warga Aceh Asal Reubee, Ini Sosoknya

Baca juga: Dari Malaysia ke Pidie: Jafar Insya Tak Lupakan Kampung Halaman, Krueng Reubee yang Sarat Sejarah

KENDURI DI MAKAM PERMAISURI - Warga Kemukiman Reubee, Pidie, menghadiri kenduri di Kompleks Makam Putroe Sani, di Gampong Reuntoh, Kemukiman Reubee, Kecamatan Delima, Pidie, Kamis, 2 April 2026. Putroe Sani adalah permaisuri dari Sultan Iskandar Muda.
KENDURI DI MAKAM PERMAISURI - Warga Kemukiman Reubee, Pidie, menghadiri kenduri di Kompleks Makam Putroe Sani, di Gampong Reuntoh, Kemukiman Reubee, Kecamatan Delima, Pidie, Kamis, 2 April 2026. Putroe Sani adalah permaisuri dari Sultan Iskandar Muda. (Dok SERAMBINEWS.COM/HO)

Sultan Dibanggakan, Permaisuri Dilupakan

Semua orang Aceh, terutama pejabat dan politisi, selalu menyebut dan membanggakan Kesultanan Aceh Darussalam (1496-1948 M), khususnya era kepemimpinan Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam.

Namun, kebanyakan dari politisi dan pejabat Aceh, tidak peduli dalam merawat situs terkait Sultan Iskandar Muda. 

Bahkan, banyak dari mereka tidak tahu letak lokasi makam Iskandar Muda, apalagi keberadaan permaisurinya yang bernama Puteri Sendi Ratna Setia.

Istri pertama atau permaisuri dari Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam (1607-1636 M) adalah putri dari Teungku Chik di Reubee atau Syeikh Daeng Mansur, Pidie.

Nama Sang Permaisuri tersebut adalah Puteri Sendi Ratna Setia atau sering disebut Putroe Sani.

Makam Putroe Sani terdapat di Gampong Reuntoh, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie. 

Nama Desa Reuntoh memiliki histori terkait eksistensi istana Sang Permaisuri di sana.

Drs H Nurdin AR MSi, sejarawan dan mantan Kepala Museum Aceh, menyebutkan nama Gampong Reuntoh ini berkaitan erat dengan keberadaan rumah Sang Permaisuri yang perlahan dan seiring waktu mengalami keausan, kerusakan hingga keruntuhan (reuntoh).

Di Desa Reuntoh terdapat hamparan lahan yang luas dan di dalamnya terdapat makam Putroe Sani.

Baca juga: Dacumesta: Warisan Empat Gampong di Reubee Pidie, Ini Harapan Generasi Muda

Jejak Permaisuri yang Terlupakan

Kondisi makam Sang Permaisuri saat ini nyaris tidak terurus, walau terdapat papan nama “Situs Budaya” di salah satu sisinya. 

Badan batu nisan dari batu alam tampak sudah patah dan disemen secara manual.

Kebesaran nama Sultan Iskandar Muda, Teungku Chiek di Reubee dan Permaisuri Puteri Sendi Ratna Setia bukanlah cerita dongeng.

Kebesaran nama Iskandar Muda hingga kini tercatat dengan tinta emas di dalam sejarah dunia Melayu. 

Jejaknya terpahat di Negeri Melaka, Pahang, Penang, Johor hingga Negeri Kedah.

Sejatinya makam Putroe Sani layak dijadikan sebagai objek kajian sejarah dan wisata dunia Melayu.

Pegiat kesultanan Islam Melayu di Asia Tenggara diperkirakan akan berkunjung ke makam ini, jika Pemerintah Daerah mampu memoles, mengelola dan melakukan publikasi dengan sistematis.

Sejarah yang Menunggu Kepedulian

Kenduri di makam Putroe Sani yang diinisiasi kembali oleh Ramadhan Bin Haji Ibrahimatau Rama menjadi bukti bahwa masyarakat Aceh masih memiliki cara sendiri untuk merawat sejarah. 

Di tengah kelalaian banyak pihak, Rama menunjukkan bahwa tradisi bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Rama berharap Pemerintah Daerah agar peduli pada kebesaran Aceh masa lampu dengan cara rekonstruksi bekas istana, rehabilitasi makam dan menetapkan Desa Reuntoh sebagai destinasi wisata Dunia Melayu di Aceh.

Apakah harapan Rama ini akan disambut positif dengan aksi nyata oleh Bupati Pidie dan Gubernur Aceh beserta jajarannya? Semoga!

Sigli, 02 April 2026

PENULIS, Jafar Insya Reubee adalah perantau asal Pidie di Negeri Selangor Darul Ehsan Malaysia, sementara Hasan Basri M Nur adalah alumnus Universiti Utara Malaysia (UUM) Negeri Kedah Darul Aman. Keduanya berasal dari Negeri Pedir Darul Amni, Aceh Darussalam, email: hasanbasrimnur@gmail.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.