- Selat Hormuz merupakan aset berharga yang dimiliki Iran karena menjadi jalur pelayaran paling vital.
Saat perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel terjadi, perairan tersebut menjadi alat tawar yang sangat kuat.
Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya boleh dilewati kapal-kapal minyak dari negara sahabat.
Sebagai contoh adalah Rusia, China, Irak, India, Pakistan dan beberapa lainnya yang tidak disebut.
Padahal, Selat Hormuz menjadi rute bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Alhasil, negara-negara seperti Eropa yang bergantung pada minyak Timur Tengah merasa dirugikan.
Di Selat Hormuz pun, Iran berkuasa atas jajaran pulau-pulau kecil yang berjumlah 19 buah.
Teheran memanfaatkan pulau-pulau itu sebagai "benteng alami" untuk mengunci pergerakan kapal-kapal internasional.
Laporan yang diterbitkan Wall Street Journal pada Rabu (1/4/2026) mengungkap secara rinci strategi Iran.
1. Strategi "Kapal Induk"
Teheran secara resmi menyebut 19 pulau miliknya yang tersebar di sepanjang Selat Hormuz sebagai "kapal induk".
Di pulau-pulau ini, Iran membangun infrastruktur militer permanen yang mencakup sistem radar, landasan pacu, depot bahan bakar, hingga gudang rudal.
Direktur Jerusalem Institute for Strategy and Security Yossi Kuperwasser mengatakan, geografi Selat Hormuz yang sempit dan unik memaksa kapal-kapal tanker mau tak mau mengikuti rute tertentu.
2. Pulau Larak dan Qeshm sebagai tulang punggung pertahanan
Meski terlihat seperti gurun gersang, Pulau Larak adalah pusat intelijen.
Pulau ini menampung sistem gangguan komunikasi satelit buatan Rusia yang dijaga oleh pasukan elit dan kapal cepat rudal.
Sementara itu, Pulau Qeshm berfungsi sebagai pangkalan militer raksasa yang menyimpan rudal di terowongan bawah tanah.
3. Pulau Greater Tunb dan Lesser Tunb: mata di jalur sempit
Kedua pulau kecil ini terletak sangat dekat dengan jalur pelayaran utama yang lebarnya hanya sekitar 3 kilometer.
Dengan menempatkan benteng militer di sini, Iran dapat memantau kapal dari jarak yang sangat dekat.
Iran saat ini sedang mematangkan rencana untuk menerapkan tarif tol Selat Hormuz senilai 2 juta dolar AS atau sekitar Rp 30 hingga 34 miliar per kapal.
Di satu sisi, banyak negara yang sudah menaikkan harga BBM buntut perang Timur Tengah.
Program: Tribunnews Update
Host: Agung Tri Laksono
Editor Video: dharma aji yudhaningrat
Uploader: bagus gema praditiya sukirman