Sejarah Pondok Gontor Ponorogo, Dari Pesantren Tegalsari hingga Lahirnya Pondok Modern Darussalam
Mujib Anwar April 03, 2026 12:14 AM

 

TRIBUNJATIM.COM – Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan salah satu pesantren paling berpengaruh di Indonesia.

Pesantren yang berada di Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo ini dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam modern yang memadukan tradisi pesantren dengan sistem pendidikan modern.

Namun, sejarah berdirinya Pondok Gontor memiliki perjalanan panjang yang berakar dari pesantren tua di Ponorogo hingga akhirnya berkembang menjadi institusi pendidikan besar dengan jaringan luas di berbagai daerah di Indonesia.

Cikal Bakal dari Pondok Tegalsari

Sejarah Pondok Gontor bermula dari berdirinya Pondok Tegalsari pada tahun 1680 di Desa Jetis, Ponorogo.

Pesantren ini didirikan oleh Kyai Ageng Muhammad Hasan Besari dan menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang sangat terkenal pada zamannya.

Diketahui, Pondok Tegalsari pada masa itu didatangi ribuan santri dari berbagai daerah di Nusantara.

Kepemimpinan pesantren ini berlangsung selama enam generasi, yaitu Kyai Ageng Hasan Besari (wafat 1760), Kyai Ilyas, Kyai Hasan Yahya Kyai Hasan Besari II (wafat 1862), Kyai Hasan Anom (wafat 1873), dan Kyai Hasan Khalifah (wafat 1883)

Namun pada pertengahan abad ke-19, masa kejayaan Pondok Tegalsari mulai mengalami kemunduran, terutama pada masa kepemimpinan Kyai Hasan Khalifah.

Saat itu Kyai Hasan Khalifah memiliki seorang santri kesayangan bernama R.M. Sulaiman Djamaluddin, keturunan Keraton Kasepuhan Cirebon.

Untuk melanjutkan tradisi pendidikan Islam, Kyai Hasan Khalifah menikahkan putri bungsunya dengan Sulaiman Djamaluddin sekaligus menugaskan mereka mendirikan pesantren baru.

Baca juga: Pondok Gontor Keluarkan Maklumat Larang Keluarga Besar PMDG di Bawah 30 Tahun Naik Sepeda Motor

Berdirinya Pondok Gontor Lama

Dengan membawa sekitar 40 santri dari Tegalsari, Kyai R.M. Sulaiman Djamaluddin bersama istrinya kemudian merintis pesantren baru di wilayah Gontor.

Konon, pada masa itu wilayah Gontor masih berupa kawasan hutan yang jarang didatangi masyarakat.

Bahkan daerah tersebut dikenal sebagai tempat persembunyian perampok, penjahat, dan penyamun.

Berdasarkan hal tersebut, daerah Gontor dijuluki sebagai “tempat kotor" atau dalam bahasa Jawa disebut enggon kotor, sebagaimana dilansir dari kompas.com.

Meski demikian, pesantren yang kemudian dikenal sebagai Pondok Gontor Lama berhasil berkembang dan menarik santri dari berbagai daerah di Jawa, bahkan dari wilayah Pasundan.

Kepemimpinan Pondok Gontor Lama berlangsung selama tiga generasi, yaitu Sulaiman Djamaluddin sebagai pendiri, Kyai Archam Anom Besari, Kyai Santoso Anom Besari.

Pada masa kepemimpinan Kyai Archam Anom Besari, pesantren mengalami perkembangan pesat.

Namun setelah kepemimpinan beralih kepada Kyai Santoso Anom Besari, Pondok Gontor Lama mulai mengalami kemunduran.

Menurut gontor.ac.id, salah satu penyebab kemunduran tersebut adalah kurangnya kaderisasi kepemimpinan.

Jumlah santri berkurang drastis dan kegiatan pendidikan semakin sepi.

Kyai Santoso Anom Besari kemudian wafat pada tahun 1918 dalam usia relatif muda, meninggalkan tujuh anak yang masih kecil serta sebuah masjid tua dan rumah sederhana sebagai peninggalan keluarga.

Baca juga: Isi Lengkap Maklumat Terbaru Pondok Gontor Selain Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor

Tekad Nyai Santoso Menghidupkan Kembali Gontor

Sepeninggal Kyai Santoso Anom Besari, Pondok Gontor Lama hampir sepenuhnya berhenti beroperasi.
Jumlah santri semakin sedikit dan proses belajar hanya berlangsung di sebuah masjid kecil.

Situasi masyarakat di sekitar Gontor pun mengalami kemerosotan moral.

Banyak warga mulai meninggalkan nilai-nilai agama dan terjerumus dalam perilaku yang dikenal dengan istilah “mo-limo”.

Adapun perilaku mo-limo tersebut yaitu, maling (mencuri), madon (berzina), madat (menghisap candu), mabuk, dan main (berjudi).

Di tengah kondisi tersebut, sang istri, Nyai Santoso, memiliki tekad kuat untuk menghidupkan kembali pesantren tersebut.

Ia bekerja keras mendidik anak-anaknya agar dapat meneruskan perjuangan keluarga dalam mengembangkan pendidikan Islam.

Nyai Santoso kemudian mengirim tiga putranya, KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi, untuk menimba ilmu di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan.

Sayangnya, Nyai Santoso wafat sebelum menyaksikan kebangkitan kembali Pondok Gontor yang kelak diwujudkan oleh ketiga putranya.

Baca juga: Jadi Jejak Syiar Islam di Blitar, Masjid Kuningan Pondok Kidul Masih Digunakan untuk Warga Beribadah

Lahirnya Pondok Modern Darussalam Gontor

Suasana kompleks Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo yang dikenal sebagai salah satu pesantren modern berpengaruh di Indonesia.
Suasana kompleks Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo yang dikenal sebagai salah satu pesantren modern berpengaruh di Indonesia. (Tribun Jatim Network/Pramita Kusumaningrum)

Setelah menuntut ilmu di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan modern, ketiga putra Kyai Santoso akhirnya kembali ke Gontor.

Pada 20 September 1926 yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345 Hijriah, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, mereka mendeklarasikan berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor.

Ketiga tokoh ini kemudian dikenal sebagai Trimurti Pendiri Pondok Modern Gontor, yakni KH Ahmad Sahal (1901–1977), KH Zainuddin Fananie (1908–1967), dan KH Imam Zarkasyi (1910–1985).

Dilansir dari gontor.ac.id, konsep pendidikan yang dirancang oleh Trimurti merupakan sintesis dari berbagai lembaga pendidikan dunia.

Adapun, beberapa lembaga yang menjadi inspirasi sistem pendidikan Gontor antara lain:

  1. Universitas Al-Azhar di Mesir, yang dikenal dengan tradisi keilmuan Islam yang kuat dan sistem wakafnya.
  2. Pondok Syanggit di Mauritania, terkenal dengan sikap dermawan dan keikhlasan para pengasuh dalam mendidik santri.
  3. Universitas Muslim Aligarh di India, lembaga yang memadukan ilmu agama dan ilmu modern sehingga mahasiswanya menjadi pelopor kebangkitan pemikiran Islam modern.
  4. Perguruan Santiniketan di India, lembaga pendidikan yang mengedepankan kehidupan sederhana, suasana belajar yang tenang, serta lingkungan yang damai.

Keempat lembaga tersebut menginspirasi model pendidikan yang menggabungkan kedalaman ilmu agama, penguasaan ilmu pengetahuan modern, kedisiplinan, serta kehidupan asrama.

Baca juga: Menilik Jejak Sejarah Masjid Kuningan Pondok Kidul, Masjid Tertua Saksi Siar Islam di Blitar

Inspirasi dari Kongres Umat Islam Indonesia

Gagasan mendirikan lembaga pendidikan modern juga terinspirasi dari Kongres Umat Islam Indonesia yang diselenggarakan di Surabaya pada tahun 1926.

Dalam kongres tersebut, tokoh-tokoh Islam seperti H.O.S. Cokroaminoto, KH Mas Mansur, dan Agus Salim membahas rencana pengiriman delegasi Indonesia ke Muktamar Islam Sedunia di Makkah.

Namun muncul persoalan karena hampir tidak ada tokoh yang menguasai bahasa Arab dan Inggris sekaligus.

Adanya peristiwa ini kemudian memberikan kesan mendalam bagi KH Ahmad Sahal yang hadir dalam kongres tersebut.

Ia menyadari pentingnya mencetak generasi Muslim yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga mampu berkomunikasi dalam bahasa internasional.

Gagasan inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri khas pendidikan di Pondok Modern Gontor.

Wakaf Pondok Gontor untuk Umat

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Pondok Gontor terjadi pada 12 Oktober 1958.

Saat itu Trimurti mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada umat Islam.

Keputusan tersebut menandai bahwa pondok ini bukan milik pribadi keluarga pendiri, melainkan milik umat.

Pengelolaan pondok kemudian dipercayakan kepada Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor yang beranggotakan 15 orang alumni.

Badan Wakaf menjadi lembaga tertinggi yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan pendidikan dan pengembangan pesantren.

Baca juga: Menjadi Masjid Tertua di Blitar, Masjid Kuningan Pondok Kidul Pertahankan Bangunan Lama Pondok

Sistem Pendidikan di Pondok Gontor

Pondok Modern Gontor memiliki sistem pendidikan yang memadukan kurikulum agama dan ilmu umum.

Salah satu lembaga utama di dalamnya adalah Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), yaitu pendidikan menengah dengan masa belajar 4 hingga 6 tahun setingkat Tsanawiyah dan Aliyah.

KMI pertama kali didirikan pada 19 Desember 1936, sekitar sepuluh tahun setelah berdirinya Pondok Modern Gontor.

Selain itu, Gontor juga memiliki perguruan tinggi bernama Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor yang didirikan pada 17 November 1963.

Universitas ini memiliki berbagai fakultas seperti  Ushuluddin, Tarbiyah, Syariah, Ekonomi dan Manajemen, Humaniora, Ilmu Kesehatan, Sains dan Teknologi, Kedokteran, hingga Pascasarjana.

Seluruh mahasiswa UNIDA tinggal di asrama kampus, sehingga sistem pendidikan tetap berlandaskan pada kehidupan pesantren.

Jaringan Kampus dan Pesantren Alumni

Seiring meningkatnya minat masyarakat untuk belajar di Gontor, pesantren ini kemudian membuka berbagai kampus cabang di berbagai daerah.

Bahkan, kampus Gontor tersebar di beberapa wilayah seperti Ponorogo, Kediri, Banyuwangi, Magelang, Lampung, Aceh, hingga Sulawesi.

Selain itu terdapat pula jaringan pesantren alumni Gontor yang tersebar di seluruh Indonesia.

Menurut data Forum Pesantren Alumni (FPA) Gontor, terdapat sekitar 380 pesantren alumni Gontor yang telah terdata di seluruh Nusantara, sebagaimana disampaikan Hasan Abdullah Sahal saat bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 2016.

Baca juga: Jusuf Kalla Kunjungi Pondok Gontor Putri Ngawi, Sampaikan Pesan Pendidikan dan Peradaban

Menjadi Pesantren Modern Berpengaruh di Indonesia

Kini Pondok Modern Darussalam Gontor dikenal sebagai salah satu pesantren modern terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia.

Sistem pendidikan berbasis disiplin, penggunaan bahasa Arab dan Inggris dalam keseharian, serta penekanan pada pembentukan karakter menjadikan Gontor sebagai model pendidikan pesantren modern.

Dari pesantren kecil di tengah hutan, Gontor kini berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam dengan jaringan luas yang melahirkan banyak tokoh nasional dan pemimpin masyarakat di berbagai bidang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.