Iran Akan Wajibkan Transaksi Pakai Yuan di Selat Hormuz, Tarif Transit Kapal Tembus Rp 33 Miliar
Tiara Shelavie April 03, 2026 06:16 AM

TRIBUNNEWS.COM - Iran dikabarkan tengah bersiap menerapkan kebijakan baru terkait pembayaran kapal yang melintas di jalur perdagangan minyak dunia, Selat Hormuz.

Dalam kebijakan tersebut, Iran menolak transaksi menggunakan dolar Amerika Serikat.

Sebagai gantinya kapal yang akan melintas di selat Hormuz wajib melakukan transaksi pembayaran menggunakan mata uang yuan China.

Langkah ini muncul di tengah memanasnya konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dinilai telah memberikan tekanan besar terhadap ekonomi global.

Langkah Iran menggunakan yuan dinilai sebagai bagian dari strategi de-dolarisasi, yaitu upaya sejumlah negara untuk mengurangi dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional.

Selama ini, transaksi minyak dunia hampir sepenuhnya menggunakan dolar, yang membuat Amerika Serikat memiliki pengaruh besar dalam sistem keuangan global.

Dengan beralih ke yuan, Iran tidak hanya mencari alternatif pembayaran di tengah tekanan sanksi ekonomi, tetapi juga memperkuat hubungan dagang dengan China yang menjadi salah satu mitra utama ekspor minyaknya.

Iran Terapkan Skema Tarif Kapal 

Mengutip dari Anadolu, selain kebijakan mata uang, Iran juga dilaporkan tengah menyiapkan skema tarif baru bagi kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz.

Berdasarkan laporan media internasional, tarif ditetapkan sebesar 1 dolar AS per barel minyak yang diangkut.

Dengan kapasitas kapal tanker besar jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) yang mampu membawa hingga 2 juta barel minyak, maka biaya sekali lintasan dapat mencapai sekitar 2 juta dolar AS atau setara Rp 33 miliar (kurs Rp 16.989).

Besarnya biaya ini diperkirakan akan berdampak langsung pada biaya operasional perusahaan pelayaran dan harga distribusi minyak global.

Baca juga: Demi Ekspor Minyak & Gas, Negara-negara Teluk Berencana Bangun Jalur Pipa Baru Hindari Selat Hormuz

Meski tarif tersebut dihitung dalam satuan dolar AS, Iran disebut mewajibkan pembayaran dilakukan menggunakan yuan China serta aset digital stablecoin.

Dorongan Perubahan Sistem Keuangan Global

Langkah Iran dalam menerapkan kebijakan transaksi alternatif dinilai sebagai bagian dari strategi besar untuk memperkuat sistem keuangan global di luar dominasi dolar Amerika Serikat.

Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta upaya sejumlah negara untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan Barat.

Pemerintah Iran disebut berupaya membangun mekanisme perdagangan yang lebih independen, terutama dalam sektor energi yang selama ini sangat bergantung pada penggunaan dolar AS sebagai mata uang utama transaksi internasional.

Kondisi ini dinilai menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memperluas penggunaan mata uang alternatif dalam perdagangan global.

Langkah tersebut sekaligus mencerminkan dorongan Iran untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat yang selama ini mendominasi arus perdagangan minyak dunia.

Dengan adanya skema transaksi baru, Iran mencoba membuka ruang bagi penggunaan mata uang lain dalam perdagangan energi strategis.

Sejumlah analis menilai, kebijakan ini berpotensi membawa dampak signifikan terhadap sistem perdagangan energi internasional.

Jika tren penggunaan mata uang alternatif terus meluas dan diikuti oleh negara-negara lain, maka dominasi dolar Amerika Serikat dalam perdagangan minyak global dapat melemah secara bertahap.

Perubahan ini dinilai tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga berpotensi menggeser keseimbangan kekuatan dalam sistem keuangan global yang selama puluhan tahun didominasi oleh dolar AS.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.