Guru Besar FKUI Soroti Tiga Dokter Internship Meninggal Satu Bulan Terakhir
Wahyu Aji April 03, 2026 06:16 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Dalam waktu hampir 1 bulan ini, tiga dokter muda yang tengah menjalani Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) meninggal dunia. 

Ketiganya meninggal dalam kondisi medis yang berbeda.

Kementerian Kesehatan mengumumkan, tiga dokter itu mengalami infeksi campak dengan komplikasi berat, dugaan anemia, hingga Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan syok.

Kejadian ini jadi sorotan mendalam diantaranya datang dari Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Theddeus O.H. Prasetyono.

Ia mengungkapkan rasa duka sekaligus keterkejutan atas kejadian tersebut.

“Prihatin dan juga jujur saja kami syok menerima kabar bahwa salah satu kolega yang kebetulan juga bersamaan dengan beberapa kolega yang lain yang sedang menjalani internship itu harus jatuh pada keadaan yang menyedihkan dan berakhir dengan duka karena mereka pergi,” ujarnya dalam webinar UI si Jakarta ditulis Kamis (2/4/2026).

Ia menambahkan, kejadian ini jadi pengingat bahwa sistem belum sepenuhnya siap mengantisipasi risiko kesehatan pada tenaga medis

"Banyak situasi tidak terantisipasi dengan baik. Kami semua tidak menginginkan keadaan ini," ungkapnya.

Theddeus menegaskan kematian akibat penyakit yang sebenarnya telah lama dikenal, seperti campak, seharusnya bisa dicegah.

“Memang upaya ini seolah terasa terlambat karena harusnya tidak perlu terjadi. Tetapi demikianlah kenyataannya. Banyak situasi kita tidak terantisipasi dengan baik,” ungkapnya.

Berdasarkan kronologi meninggalnya 3 dokter internship pada Februari - Maret 2026 versi Kemenkes: 

Kasus 1: Campak dengan Komplikasi Jantung dan Otak

Kasus pertama bermula pada 18 Maret 2026, ketika dokter mengalami gejala demam, flu, dan batuk setelah sebelumnya menangani pasien campak. 

Meski telah diberikan izin sakit pada 19–21 Maret, yang bersangkutan tetap memilih bertugas dan bahkan menangani empat pasien suspek campak.

Kondisi memburuk pada 25 Maret dengan penurunan kesadaran, hingga akhirnya dirawat di ICU. Pada 26 Maret 2026 pukul 11.30 WIB, dokter tersebut dinyatakan meninggal dunia. Diagnosis akhir menunjukkan infeksi campak dengan komplikasi pada jantung dan otak. Hasil laboratorium kemudian mengonfirmasi positif campak pada 28 Maret.

Kasus 2: Dugaan Anemia

Kasus kedua terjadi pada akhir Februari 2026. Dokter mengalami gejala berupa nyeri sendi, demam, diare, serta mual dan muntah. 

Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kondisi kurang darah dan daya tahan tubuh yang lemah. Riwayat sebelumnya juga mencatat dugaan anemia dan izin sakit selama hampir satu bulan pada Oktober 2025.

Setelah sempat dirawat dan dirujuk ke beberapa fasilitas kesehatan, dokter tersebut akhirnya meninggal dunia pada dini hari. Diagnosis sementara mengarah pada dugaan anemia sebagai faktor utama.

Kasus 3: DBD dengan Syok

Kasus ketiga dimulai pada 9 Maret 2026 dengan gejala demam. Meski hasil awal laboratorium masih normal, kondisi memburuk dalam beberapa hari. Setelah perawatan mandiri, pasien dirawat di rumah sakit dengan diagnosis DBD grade 2.

Pada 14 Maret, dokter dirujuk ke rumah sakit rujukan yang lebih besar. Namun kondisi terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia pada 17 Maret 2026 pukul 00.50.

Baca juga: Kemenkes: Dokter Internship di Cianjur Meninggal karena Campak, Diduga Terpapar Saat Bertugas

Diagnosis akhir adalah DBD dengan komplikasi syok atau Dengue Shock Syndrome.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.