TRIBUNNEWS.COM - Sidang kasus peredaran narkoba yang menjerat Ammar Zoni kembali menjadi sorotan.
Dalam agenda pembacaan nota pembelaan (pleidoi) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026), Ammar tak hanya menyampaikan pembelaan hukum, tetapi juga meluapkan emosi dengan menyinggung masa lalu, termasuk persoalan rumah tangganya dengan mantan istrinya, Irish Bella.
Momen ini pun memicu beragam reaksi, termasuk dari sang adik, Aditya Zoni.
Aditya yang mengikuti perkembangan persidangan kakaknya mengaku memiliki pandangan berbeda terkait isi pleidoi tersebut.
Ia menilai pembelaan seharusnya fokus pada perkara hukum yang sedang dihadapi, tanpa perlu menyeret hal-hal pribadi di masa lalu.
Ia mengaku tidak sepakat dengan langkah Ammar yang menyinggung hal tersebut.
“Itu saya enggak setuju sih sebetulnya,” ujar Aditya Zoni, dikutip Tribunnews dalam YouTube Intens Investigasi, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, pembelaan mestinya cukup disampaikan secara lugas tanpa melebar ke ranah lain.
“Kayak maksudnya apa ya gimana ngomongnya ya? Maksudnya kita cukup dengan pembelaan kita aja gitu kan,” lanjutnya.
Aditya juga menegaskan bahwa persoalan masa lalu, terutama yang berkaitan dengan hubungan pribadi, seharusnya tidak diangkat dalam sidang.
“Soal masa lalu jangan enggak usah dibawa-bawa seharusnya menurut aku,” tuturnya.
Baca juga: Singgung Irish Bella dalam Pleidoi, Ammar Zoni: Kenapa Orang Sakit Dibuang Saat Butuh Rumah Pulang?
Meski demikian, Aditya tetap menghormati keputusan sang kakak dalam menyampaikan pleidoi tersebut.
Ia memahami bahwa setiap orang memiliki cara pandang masing-masing dalam menghadapi situasi sulit.
“Cuman mungkin Bang Amar punya pendapat yang lain ya silakan aja enggak masalah juga,” ucapnya.
Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak berada dalam posisi untuk menentukan arah pembelaan tersebut.
“Kan bukan aku juga yang melakukan pembelaan,” pungkas Aditya.
Mengenakan kemeja putih, aktor yang kini terjerat kasus narkoba untuk keempat kalinya itu tak kuasa membendung air mata saat menguraikan kehancuran hidupnya yang kini berada di titik nadir.
Suara Ammar bergetar menceritakan momen paling menyakitkan yang menjadi awal mula keterpurukannya. Semua dimulai dari gugatan cerai dari Irish Bella.
Kabar pahit itu ia terima justru saat dirinya sedang berjuang melawan adiksi di panti rehabilitasi pada kasus keduanya.
Bagi Ammar, perpisahan tersebut adalah pukulan telak yang meruntuhkan prinsip hidupnya.
"Sungguh menyakitkan, kabar yang saya terima datang dari mantan istri saya. Dia meminta saya memberikan talak kepadanya," ujar Ammar.
Ammar merasa dirinya ibarat orang sakit yang butuh dirawat, namun justru ditinggalkan saat paling membutuhkan dukungan.
"Kecanduan adalah penyakit otak kronis. Lalu kenapa orang yang sedang sakit dibuang? Di saat hanya dialah satu-satunya rumah tempat saya kembali pulang, tetapi malah diasingkan atas kekurangan saya," kata Ammar.
Kesedihan Ammar semakin berlipat saat mengenang kepergian sang ayah, Suhendri Zoni, ketika ia masih berada di balik jeruji besi pada kasus sebelumnya.
Ia menyebut ketidakmampuannya mendampingi sang ayah di saat terakhir sebagai dosa besar.
Momen paling menyayat hati adalah ketika ia diizinkan melihat jenazah ayahnya dalam kondisi tangan terborgol dan mengenakan rompi tahanan.
Perasaan bersalah inilah yang diakuinya menjadi pemicu depresi berat hingga ia kembali jatuh ke lubang yang sama untuk ketiga dan keempat kalinya.
Puncak emosi Ammar meledak saat ia menyampaikan pesan langsung kepada kedua buah hatinya, Air Rumi Akbar dan Amala Puti Sabai Akbar.
Ia meratapi banyaknya waktu berharga yang terbuang sia-sia di balik jeruji besi, waktu yang seharusnya ia gunakan untuk melihat mereka tumbuh besar.
"Saya minta maaf kepada anak-anak saya, Air dan Amala, maafkan Daddy ya," ucap Ammar terbata.
Ia membayangkan momen-momen sederhana sebagai ayah yang kini mustahil ia lakukan.
"Seharusnya Daddy ada melihat kalian tumbuh, mengajari kalian, membacakan cerita sebelum kalian tidur, mengantarkan kalian ke sekolah. Maafkan Daddy."
Di hadapan Majelis Hakim, Ammar menyampaikan janjinya sebagai seorang ayah.
"Daddy janji ini yang terakhir, benar-benar terakhir. Daddy janji besok lusa Daddy akan tebus semua waktu yang pernah hilang," tegasnya.
Baca juga: Pleidoi Ammar Zoni: Permintaan Cerai dari Irish Bella Bikin Hidup Saya Hancur
Meski menunjukkan penyesalan mendalam, Ammar Zoni kini harus menghadapi realitas hukum yang sangat berat.
Atas kasus dugaan peredaran narkoba di dalam Rutan Salemba, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntutnya dengan hukuman sembilan tahun penjara dan denda sebesar Rp500 juta.
Ammar memohon kepada Majelis Hakim agar memberikan putusan yang berbelas asih, mempertimbangkan perannya sebagai ayah bagi anak-anaknya yang masih kecil.
Sidang ini menjadi saksi betapa mahalnya harga yang harus dibayar Ammar Zoni atas ketergantungannya pada zat terlarang yang telah merenggut karier, keluarga, hingga martabatnya.
(Tribunnews.com, Rinanda/ M Alivio)