TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Suara Rendy terdengar lirih saat melafalkan kalimat terakhir Yesus Kristus di kayu salib. Air mata mengalir dari beberapa orang umat yang tak kuasa menahan air mata.
Pagi itu, Jumat (3/4/2026) pagi, suasana di dalam Gereja Santa Teresia Jambi terasa berbeda. Hening, khidmat, dan penuh haru.
"Eloi, Eloi, Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku," ucap Rendy yang memerankan Yesus Kristus dalam tablo Jumat Agung, lirih.
Di sudut lain, Wilda yang memerankan Bunda Maria terduduk lemah, ratapannya membuat suasana haru. "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu,” katanya terbata, diiringi isak tangis.
Adegan itu menjadi puncak emosi dalam pertunjukan tablo kisah sengsara dan wafatnya Yesus Kristus.
Tablo merupakan sebuah pertunjukan teaterikal tanpa banyak dialog panjang. Pertunjukan itu menyajikan visualisasi perjalanan sengsara Yesus dari perjamuan terakhir hingga wafat di kayu salib.
Sejak dimulai pukul 08.00 WIB, ratusan orang umat Katolik Gereja Santa Teresia Jambi memadati gereja.
Sebagian menyaksikan dengan tangan terlipat dalam doa, sebagian lain mengabadikan momen dengan ponsel. Tak sedikit pula yang larut dalam tangis.
Adegan mengalir satu per satu. Para pemeran tampak menyatu dengan karakter masing-masing.
Dalam naskah yang ditulis Kelik dan dilatih bersama Andreas, itu hidup di atas altar, menghadirkan kembali kisah pengorbanan yang menjadi inti iman Kristiani.
Pergulatan Batin
Bagi Wilda, memerankan Bunda Maria bukan sekadar tampil di atas panggung. Ada pergulatan batin yang harus ia lalui.
"Waktu latihan, saya paling susah menampilkan ekspresi sedih. Itu bagian yang paling sering dievaluasi," ujarnya seusai pertunjukan.
Namun, justru dari proses itulah, dia merasa semakin memahami duka seorang ibu yang menyaksikan putranya wafat.
Tantangan serupa dirasakan Frater Windu yang memerankan Imam Agung tokoh yang menyudutkan Yesus hingga dihukum mati.
"Dalam tablo ini saya dituntut membuat umat 'membenci' saya, karena peran saya memang menyudutkan Yesus," katanya.
Peran antagonis itu, menurut Windu, justru mengajarkan refleksi mendalam tentang kekuasaan, keadilan, dan nurani.
Koordinator Tablo, Tamara Jessica, menjelaskan tablo Jumat Agung bukan sekadar tontonan, melainkan sarana penguatan iman.
"Tablo adalah visualisasi kisah sengsara Yesus. Melalui ini, umat diajak merenungkan kembali makna pengorbanan Tuhan," ujarnya.
Persiapan berlangsung tiga hingga empat bulan, dengan tantangan utama menyatukan karakter para pemeran yang beragam agar mampu menghadirkan kisah secara utuh.
Tirai Ditutup
Saat tirai imajiner pertunjukan ditutup, tepuk tangan tak serta-merta pecah.
Ada jeda sunyi, seolah umat masih ingin tinggal sejenak dalam permenungan. (Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)
Baca juga: Jadwal Misa Kamis Putih Jumat Agung Sabtu Suci dan Paskah 2026 Gereja Katolik di Jambi
Baca juga: Pengeroyokan di Pal 10 Kota Jambi, 4 Pengamen Pukuli Sopir Batu Bara