Jakarta (ANTARA) - Jemaat Gereja Katolik Paroki Robertus Bellarminus, Cililitan, Jakarta Timur, memaknai pengorbanan dan kasih yang diajarkan oleh Yesus Kristus secara mendalam melalui Visualisasi Jalan Salib.
"Pesan spiritualnya sama seperti tahun-tahun sebelumnya, adanya makna pengorbanan di setiap hidup dan juga kasih yang diberikan," kata salah satu jemaat, Neri Iman (58) di Cililitan, Jakarta Timur, Jumat.
Menurut dia, seluruh jemaat diajak untuk tidak sekadar menyaksikan, tetapi juga mengambil hikmah dari setiap adegan yang ditampilkan.
"Pesan spiritualnya, bahwa orang terbaik adalah orang yang mau mengorbankan nyawanya demi orang lain," tutur Neri.
Dia pun mengaku senang dengan perayaan Paskah di Gereja Katolik Paroki Robertus Bellarminus, Cililitan, yang kembali diwarnai dengan kegiatan Visualisasi Jalan Salib yang melibatkan umat dan Orang Muda Katolik (OMK).
Tradisi tahunan itu menjadi sarana refleksi iman yang terus dikemas secara berbeda setiap tahunnya.
Apalagi, Visualisasi Jalan Salib merupakan agenda rutin yang selalu dinantikan karena menghadirkan pendekatan yang beragam dalam setiap pelaksanaannya.
Neri menilai perbedaan tema maupun pengambilan dari bacaan Kitab Suci dapat membuat jemaat melihat kisah sengsara Yesus Kristus dari sudut pandang yang lebih luas.
"Memang setiap tahun ada, dan setiap tahun berbeda-beda. Ada yang difokuskan pada tema tertentu, maupun dari bacaan yang berbeda," ujar Neri.
Hal serupa dikatakan Stefanus (44). Ia mengungkapkan tahun ini, konsep visualisasi cenderung lebih lembut dibandingkan tahun sebelumnya, yang dinilai lebih menampilkan adegan penderitaan secara intens.
Meski demikian, pesan yang disampaikan tetap kuat dan mampu menyentuh hati para jemaat.
"Kalau sekarang lebih lembut, tahun lalu lebih sadis, tapi tetap menyentuh hati," ucap Stefanus.
Dia juga mengapresiasi peningkatan kualitas para pemeran yang sebagian besar berasal dari OMK.
Dia melihat para pemeran kini tampil lebih terlatih dan mampu menghayati peran dengan lebih baik, sehingga pesan spiritual yang ingin disampaikan dapat diterima secara mendalam oleh jemaat yang menyaksikan.
"Pemerannya juga lumayan cukup terlatih, dibimbing OMK. Sekarang ini lebih bagus dan lebih baik, lebih meresapi dengan baik, misinya tercapai," ujar Stefanus.

Melalui visualisasi tersebut, jemaat diharapkan semakin memahami makna pengorbanan, kasih, dan ketulusan dalam kehidupan sehari-hari, sejalan dengan semangat Paskah yang menekankan kemenangan kehidupan atas penderitaan.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Romo Paroki Robertus Bellarminus, Paulus Andri Astanto menuturkan Visualisasi Jalan Salib tersebut mengajak umat untuk memasuki masa refleksi mendalam atas sengsara dan wafatnya Yesus Kristus.
"Visualisasi Jalan Salib ini merupakan kerja sama panitia Paskah dan anak-anak Orang Muda Katolik (OMK) untuk menghantar umat memasuki Jumat Agung. Melalui tablo ini, umat diajak untuk berkontemplasi kembali kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus," kata Andri.
Kegiatan itu dikemas dalam bentuk tablo atau drama visual yang menggambarkan perjalanan penderitaan Yesus menuju penyaliban.
Menurut Andri, visualisasi tersebut bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga sarana spiritual untuk mengajak umat merenungkan kasih Allah yang tanpa batas kepada manusia.
Kisah sengsara Yesus menjadi bukti nyata cinta Tuhan yang tidak pernah terputus, bahkan kepada manusia yang berdosa.
Dalam pelaksanaannya, sejumlah anggota OMK tampil dengan penuh penghayatan saat memerankan setiap adegan. Penjiwaan tersebut dinilai mampu membawa umat masuk dalam suasana reflektif dan mendalam.
Lebih lanjut, Andri menekankan inti dari kegiatan tersebut, yakni mempersiapkan batin umat secara pribadi. Umat diajak menyadari bahwa pengorbanan Yesus merupakan wujud kasih Allah yang maha penyayang (Maharahim) bagi seluruh umat manusia.
Sebagai penutup, umat bersama-sama memasuki gereja untuk mengantar simbolisasi Yesus yang dimakamkan.
Tema Paskah tahun ini, yaitu "Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita", yang menekankan bahwa kebangkitan Kristus tidak hanya dipahami sebagai peristiwa iman, tetapi juga memiliki dampak nyata dalam kehidupan manusia.
Tema tersebut merujuk pada ayat Alkitab dalam 2 Korintus 5:17 yang menegaskan setiap orang yang hidup di dalam Kristus menjadi ciptaan baru, meninggalkan kehidupan lama, dan memasuki kehidupan yang diperbarui.
Kebangkitan itu pun dipandang sebagai awal perubahan, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam hubungan dengan sesama.





