TRIBUNJAMBI.COM - Eskalasi militer di Asia Barat mencapai titik krusial setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara jemawa mengeklaim penghancuran jembatan terbesar di Iran.
Serangan udara yang menargetkan infrastruktur vital penghubung Teheran dan Karaj ini menjadi bukti nyata dari ancaman Trump untuk menyeret Iran kembali ke "zaman batu" jika kesepakatan damai versi AS ditolak.
Melalui platform Truth Social, Trump membagikan rekaman dramatis runtuhnya struktur jembatan setinggi 136 meter yang baru saja selesai dibangun tersebut.
Kepulan asap hitam membubung tinggi saat bagian tengah jembatan dihantam dua kali hingga ambruk ke jalanan di bawahnya.
“Jembatan terbesar di Iran akan mulai roboh, tak akan bisa digunakan lagi,” tulis Trump dengan nada provokatif, Jumat (3/4/2026).
Laporan dari The Guardian menyebutkan serangan ini memakan korban jiwa sebanyak 8 orang dan melukai 95 lainnya.
Meski terdapat truk di salah satu sisi jembatan saat kejadian, belum dapat dipastikan jumlah warga sipil yang tengah melintas saat rudal menghantam.
Baca juga: Jaleswari Sebut Indonesia Terjerat BoP: Kita Satu Meja dengan Penjajah
Baca juga: Kasus Haji Gus Yaqut: KPK Bidik Biro Travel Hingga ke Jambi, Diperiksa Maraton
Menanggapi aksi pamer kekuatan tersebut, Teheran menunjukkan sikap tidak gentar.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa penghancuran bangunan sipil tidak akan pernah membuat bangsanya bertekuk lutut.
“Menyerang bangunan sipil, termasuk jembatan yang belum selesai, tidak akan memaksa Iran untuk menyerah. Hal itu hanya menunjukkan kekalahan dan keruntuhan moral musuh yang sedang kacau. Setiap jembatan dan bangunan akan dibangun kembali lebih kuat. Yang tidak akan pernah pulih, kerusakan pada reputasi Amerika,” cetus Araghchi lewat akun X miliknya.
Ancaman Perang Total
Senada dengan Araghchi, Juru Bicara Militer Iran Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, menjanjikan pembalasan yang jauh lebih menghancurkan.
Ia menegaskan bahwa perlawanan Iran akan terus berlanjut hingga pihak penyerang menyesal secara permanen.
Di sisi lain, Trump justru memberikan peringatan balik bahwa ini hanyalah awal dari rangkaian serangan yang menyasar target lebih banyak jika tuntutannya tidak segera dipenuhi.
Baca juga: Viral Pedagang di Sungai Penuh Jambi Hamburkan Dagangan, Tolak Relokasi Pasar Tanjung Bajure
Baca juga: Kasus Haji Gus Yaqut: KPK Bidik Biro Travel Hingga ke Jambi, Diperiksa Maraton
Baca juga: 12 ASN dan PPPK di Batang Hari Sudah Tidak Aktif, Ternyata sudah Meninggal Dunia