15 Tahun Diabaikan, Proposal 900 Lembar Roberto Baggio Kini Jadi Sorotan usai Italia Gagal ke Pildun
Drajat Sugiri April 03, 2026 02:30 PM

TRIBUNNEWS.COM - Kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun memicu gelombang kritik besar terhadap sistem sepak bola negeri tersebut.

Di tengah situasi itu, publik kembali menyoroti proposal lama milik legenda Italia, Roberto Baggio, yang sempat diabaikan lebih dari satu dekade lalu.

Laporan setebal 900 halaman yang disusun Baggio kini dianggap sebagai "cetak biru" yang terlupakan—dan mungkin relevan untuk menyelamatkan masa depan sepak bola Italia.

La Gazzetta dello Sport menyebut, laporan itu dibuat Baggio saat menjabat sebagai kepala sektor teknis di FIGC atau Federasi Sepakbola Italia.

Ia ditunjuk pada pada 2010 dan hanya butuh setahun, tepatnya Desember 2011, ia lalu menyerahkan laporan komprehensif berisi rencana reformasi total sepak bola Italia.

Baca juga: Italia Tiga Kali Gagal ke Piala Dunia, FIGC Jadi Tersangka Utama: Ikan Busuk dari Kepala Menggema

GAGAL LOLOS - Para pemain Italia menunjukkan wajah lesu setelah gagal ke Piala Dunia 2026. Italia kalah dalam drama adu penalti dari Bosnia & Herzegovina, Rabu (1/4/2026).
GAGAL LOLOS - Para pemain Italia menunjukkan wajah lesu setelah gagal ke Piala Dunia 2026. Italia kalah dalam drama adu penalti dari Bosnia & Herzegovina, Rabu (1/4/2026). (Federasi Sepakbola Italia)

Isi proposal itu sangat ambisius. Baggio mengusulkan pembangunan 100 pusat pelatihan di seluruh Italia.

Setiap pusat pelatihan nantinya akan diisi pelatih resmi federasi untuk menciptakan ekosistem pembinaan yang merata.
 
Selain itu, ia juga mengusulkan adanya peningkatan fasilitas olahraga, hingga sistem pembinaan pemain muda yang lebih terstruktur.

Penyerang legendaris itu juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelatih. 

Baggio ingin pelatih tidak hanya berpengalaman di sepak bola, tetapi juga memiliki latar belakang pendidikan yang kuat dan perspektif luas.

Selain itu, ia mengusulkan pembentukan kelompok riset permanen yang melibatkan akademisi untuk mendukung perkembangan taktik dan metode latihan secara ilmiah.

Tak kalah penting, Baggio menyoroti lemahnya pengumpulan data di sektor usia muda, serta terlalu besarnya fokus pada taktik dibandingkan teknik dasar pemain.

Namun, semua gagasan tersebut tak pernah benar-benar dijalankan. Baggio akhirnya mundur pada 2013 dengan kekecewaan mendalam karena rekomendasinya diabaikan.

Lebih dari satu dekade berlalu, kondisi sepak bola Italia justru mengalami kemunduran di level internasional.

Gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia berturut-turut menjadi bukti nyata adanya masalah struktural.

Tak heran, proposal Baggio kini dianggap sebagai “cetak biru” yang seharusnya dijalankan sejak lama.

MESSI BERTEMU IDOLA -  Lionel Messi mendapat kejutan spesial dari seorang legenda sepakbola Italia, Roberto Baggio di tengah persiapan laga Piala Dunia Antarklub 2025. Messi tak bisa menyembunyikan rasa terharunya dan langsung membagikan momen tersebut ke media sosialNYA.
MESSI BERTEMU IDOLA - Lionel Messi mendapat kejutan spesial dari seorang legenda sepakbola Italia, Roberto Baggio di tengah persiapan laga Piala Dunia Antarklub 2025. Messi tak bisa menyembunyikan rasa terharunya dan langsung membagikan momen tersebut ke media sosialNYA. (Instagram @leomessi)

Baca juga: 3 Nama Calon Presiden FIGC Pengganti Gravina: Legenda AC Milan Peraih Ballon d’Or Masuk Bursa

Kecaman Keras: Sistem Italia Dinilai Rusak

Kritik terhadap federasi semakin keras. Beberapa tokoh bahkan menilai bahwa masalah Italia bukan sekadar hasil di lapangan, melainkan kerusakan sistemik dari level dasar.

Kritik tajam datang dari berbagai tokoh. Legenda Italia dan AC Milan, Gianni Rivera menilai kegagalan Italia bukan sesuatu yang mengejutkan.

Ia menyebut ada masalah serius yang belum terselesaikan dalam sistem sepak bola Italia.

"Tidak ada alasan untuk terkejut gagal lolos ke Piala Dunia, saya harus mengatakannya dengan jujur," katanya, dikutip dari Football Italia.

"Saat ini ada masalah serius yang sulit diatasi. Kami telah menunjukkan bahwa kami belum mengatasinya," tambahnyna. 

Sementara itu, mantan petinggi sepak bola Italia Luciano Moggi melontarkan kecaman lebih keras.

Menurutnya, kegagalan timnas adalah cerminan dari sistem yang rusak dari atas.

"Tim nasional adalah cerminan sistem. Jika kami tersingkir tiga kali, berarti ada sesuatu yang benar-benar salah di dasarnya," tegas Moggi.

"Kita harus mulai dari nol. Bukan sekadar bicara, tapi revolusi nyata," jelas Moggi.

Kini, dengan kursi Presiden FIGC yang kosong dan desakan reformasi yang semakin kuat, Italia berada di persimpangan jalan; terus mengabaikan, atau mulai berbenah dari akar.

Jika ingin bangkit, Italia mungkin harus kembali membuka lembar lama, dan mendengarkan apa yang pernah disampaikan oleh salah satu legenda terbesarnya.

(Tribunnews.com/Tio)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.