TRIBUNNEWS.COM - Kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi titik balik besar dalam tubuh sepak bola Italia.
Kekalahan di babak play-off dari Bosnia dan Herzegovina membuat Italia absen untuk ketiga kalinya secara beruntun di Piala Dunia.
Buntut kegagalan itu, Presiden Federasi Sepakbola Italia (FIGC) Gabriele Gravina telah mengundurkan diri.
Tak berselang lama, keputusan untuk mundur juga dilakukan oleh Gianluigi Buffon yang menjabat sebaga Kepala delegasi Timnas.
Sejumlah media Italia menyebut posisi Gennaro Gattuso sebagai pelatih kepala Gli Azzurri juga akan segera berakhir.
Hal ini lantas membuat sejumlah nama pelatih mencuat sebagai kandidat untuk menggantikan Gattuso.
Setidaknya ada tiga hingga empat nama yang kini masuk bursa sebagai pelatih Timnas Italia yang baru, sebagaimana dilansir La Gazzetta dello Sport.
Baca juga: 15 Tahun Diabaikan, Proposal 900 Lembar Roberto Baggio Kini Jadi Sorotan usai Italia Gagal ke Pildun
Salah satu kandidat terkuat untuk menjadi allenatore Gli Azzurri adalah Roberto Mancini.
Sosok yang membawa Italia menjuarai EURO 2020 itu dikabarkan terbuka untuk kembali menangani Gli Azzurri.
Mancini sebelumnya sempat melatih Timnas Arab Saudi dan saat ini masih terikat kontrak dengan klub Qatar, Al-Sadd, hingga 2027.
Namun laporan dari media Italia menyebut ia siap kembali jika mendapat panggilan, apalagi jika kepemimpinan federasi berubah.
Nama Mancini dikaitkan dengan nama Giovanni Malago yang juga mencuat sebagai kandidat Presiden FIGC.
Menurut Calciomercato, tokoh-tokoh yang dekat dengan Mancini mengatakan dia yakin berada di urutan teratas daftar, terutama jika Malago terpilih untuk memimpin Federasi.
Malago saat ini menjabat sebagai Presiden Komite Olimpiade Italia sejak 2013 dan memiliki pengalaman besar dalam tata kelola olahraga.
Ia juga pernah mengambil alih kendali FIGC pada 2018 saat federasi mengalami kebuntuan dalam pemilihan presiden usai gagal ke Piala Dunia kala itu.
Pengalaman ini membuatnya dianggap sebagai sosok paling siap memimpin transisi di tubuh federasi sepakbola Italia.
Sementara pengalaman dan rekam jejak Mancini juga menjadi nilai plus, meski ia juga sempat gagal membawa Italia ke Piala Dunia 2022.
Selain Mancini, ada beberapa nama lain yang masuk dalam radar.
Massimiliano Allegri menjadi opsi menarik meski saat ini masih terikat kontrak dengan AC Milan.
Kemudian ada Antonio Conte, yang pernah melatih Italia periode 2014–2016.
Conte sukses membawa Italia tampil solid di EURO 2016 sebelum hengkang ke Chelsea.
Jika ingin melatih Italia, Conte harus mengakhiri kontraknya lebih cepat di Napoli agar bisa langsung bekerja, terutama menghadapi laga uji coba pada Juni.
Beberapa nama lain seperti Simone Inzaghi dan Stefano Pioli juga disebut, meski masih sebatas kandidat alternatif.
Baca juga: Italia Tiga Kali Gagal ke Piala Dunia, FIGC Jadi Tersangka Utama: Ikan Busuk dari Kepala Menggema
Di luar kandidat realistis, muncul nama mengejutkan, pelatih asal Spanyol Pep Guardiola.
Pelatih Manchester City itu disebut sebagai “dream candidate” bagi publik Italia.
Guardiola dikabarkan berpotensi meninggalkan City dalam waktu dekat dan memiliki kedekatan dengan sepak bola Italia.
Ia pernah bermain untuk Brescia dan Roma, fasih berbahasa Italia, serta dikenal mengagumi filosofi sejumlah pelatih Italia.
Meski peluangnya kecil, ide menunjuk Guardiola menjadi pelatih asing pertama Italia dalam beberapa dekade tetap menjadi wacana menarik.
Siapa pun pelatih baru nanti, ia akan memulai dari fondasi yang sudah dibangun Gattuso.
Daftar pemain yang dibawa ke Zenica saat melawan Bosnia tetap menjadi basis, karena memang itulah opsi terbaik yang tersedia.
Azzurri tidak punya pemain bintang seperti Lamine Yamal, Kylian Mbappé, atau Harry Kane yang ditinggalkan di Italia.
Pelatih baru mungkin akan mengubah sistem taktik, tetapi tidak perlu merombak total.
Tidak ada jaminan bahwa pemain seperti Barella atau Bastoni akan selalu menjadi starter, namun perubahan harus tetap rasional.
Tugas utama pelatih baru adalah membangun mentalitas. Ketakutan disebut sebagai musuh terbesar.
Saat menghadapi Bosnia, Italia terlalu defensif dan kehilangan identitas. Padahal, dengan keberanian, mereka seharusnya bisa lolos.
Pelatih baru harus memperbaiki mentalitas ini, sekaligus mendorong perubahan dalam sistem latihan di klub dan federasi.
Tanpa itu, target jangka panjang seperti Piala Eropa 2028 atau Piala Dunia 2030 akan semakin sulit dicapai.
(Tribunnews.com/Tio)