Ammar Zoni Ngaku Kenal Narkoba Sejak Kelas 6 SD, Kini Rumah Tangga Hancur dan Mendekam di Sel Tikus
Rusaidah April 03, 2026 03:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Ammar Zoni mengungkapkan fakta mengejutkan terkait dirinya dan barang haram narkoba.

Berkali-kali berusuran dengan hukum karena narkoba, mantan suami Irish Bella ini seakan tak pernah kapok.

Ternyata Ammar Zoni sudah mengenal narkoba sejak saat duduk di bangku kelas 6 SD.

Akibat barang haram tersebut, rumah tangganya dengan Irish Bella harus kandas.

Ia pun kini harus mendekam di selti alias sel tikus di Lapas Cipinang, Jakarta Timur.

Selti adalah singkatan dari Sel Tikus yang merupakan sebutan populer untuk sel isolasi di penjara atau kantor polisi.

Baca juga: Sosok Hinca Panjaitan, Anggota DPR RI Sebut Kajari Danke Rajagukguk Dapat Mobil dari Bupati Karo

Sudah tiga bulan Ammar Zoni berada di dalam selti terkait kasus ini.

Pengakuan Ammar Zoni

Ammar Zoni mengungkapkan awal mula mengenal barang haram narkoba sejak usia dini.

Hal ini diungkapnya saat di sidang lanjutan kasus peredaran narkoba di Rutan Salemba, Kamis (2/4/2026) kemarin.

Ditinggal ibu sejak usia 12 tahun menjadi alasan Ammar Zoni memiliki hidup berantakan.

Ammar Zoni mengungkapkan dirinya nyaris meninggal dunia karena sakit DBD diusia sekitar tujuh tahun. Namun, ia bersyukur tubuhnya kuat melawan penyakit itu.

Namun tidak lama, Ammar Zoni menyebut sang adik, Syiffa pun terkena DBD juga. Tapi, kondisi tubuhnya tidak kuat dan akhirnya meninggal dunia.

"Di situ saya merasakan kehilangan yang sangat besar dalam hidup saya," kata Ammar Zoni di depan majelis hakim saat membaca nota pembelaan atau pleidoi, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026).

Setelah adiknya meninggal, Ammar Zoni dan keluarga melanjutkan hidup.

"Setelah melahirkan Panji (adik), kondisi ibu saya terus menurun dan mengidap leukemia stadium akhir, kondisinya sangat drop, muka pucat, dan tubuhnya lemas," ucapnya.

"Saya masih nakal, suka membantah kalau mama sering meminta salat dan sekolah," ucap Ammar Zoni.

Meski begitu, Ammar Zoni terus mendampingi ibunya berjuang melawan leukemia hingga ibunya meninggal dunia.

"Waktu itu saya masih kelas 6 SD, sedang ujian, malam harinya, ibu saya berpulang, saya sangat kehilangan ibu saya, saya kehilangan arah," jelasnya.

"Saya merasakan lagi arti kehilangan setelah adik saya meninggal," lanjut mantan suami Irish Bella ini.

Setelah ibunya berpulang, ayah Ammar Zoni pindah ke Padang, Sumatera Barat.

Saat itu Ammar Zoni memilih tinggal bersama saudaranya di Jakarta agar dekat dengan makam ibunya.

Seketika itu Ammar Zoni selalu merasakan kesepian hingga berubah jadi lelaki pemberontak dan hidup di jalan.

Baca juga: Sosok Danke Rajagukguk, Kajari Karo Dipanggil Kejati Sumut Imbas Kasus Amsal Sitepu, Kekayaan Minus

Saat itulah dirinya mengenal obat-obatan terlarang dan narkotika.

"Saya jadi anak punk, hidup di jalan, mengenal obat-obatan terlarang dan narkotika," katanya.

"Pekerjaan saya hanya berkelahi dan tawuran, SMP dan SMA saya dikeluarkan sekolah sampai 15 kali," ucap Ammar Zoni.

Ammar Zoni lalu dijemput ayah untuk tinggal di Padang.

Ia mulai mengubah sikap dan menjalani kegiatan positif hingga belajar pencak silat, sampai terjun ke panggung sinetron.

Ammar yang fokus mendalami ilmu bela diri berubah jadi atlet. Prestasinya begitu baik dan kemudian ia menjadi seorang artis.

"Dari situ saya merasa sangat bangga dan terus menjaga adik-adik saya. Meski jadi artis hati saya tetap merasa kosong. Jujur di umur saya waktu itu saya sangat marah kepada Tuhan, kepada keadaan, dan kepada semua orang melihat teman-teman saya yang mempunyai keluarga harmonis," ujar Ammar Zoni.

Menyesal Kehilangan Irish Bella

Sebelumnya, Ammar Zoni mengungkapkan penyesalannya saat membacakan pleidoi atau nota pembelaan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kasus dugaan peredaran narkoba di dalam rutan, Kamis (2/4/2026).

Baca juga: Sosok Aipda Vicky Aristo Polisi Mengundurkan Diri usai Dimutasi saat Usut Korupsi, Kini Jual Kopi

Ammar Zoni tak kuasa menahan emosinya saat menceritakan momen terberat dalam hidupnya, yakni saat ia harus menghadapi gugatan cerai dari istrinya, Irish Bella.

Momen itu terjadi justru ketika ia sedang berjuang melawan kecanduan narkoba di panti rehabilitasi akibat kasus keduanya.

Dengan suara bergetar, Ammar Zoni mengenang kembali saat-saat ia menerima kabar yang tak pernah ia duga sebelumnya.

"Sungguh menyakitkan bukan karena rehabnya, melainkan kabar yang saya terima datang dari mantan istri saya," kata Ammar di ruang sidang, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026).

Kabar tersebut adalah keinginan Irish Bella untuk mengakhiri rumah tangga mereka.

"Yaitu keinginannya untuk bercerai, meminta saya untuk berikan talak kepadanya," lanjutnya.

Ammar mengaku sangat menentang perceraian tersebut. 

Baginya, keputusan itu bertentangan dengan nilai-nilai keluarga yang ia pegang teguh, mencontoh kesetiaan almarhum ayahnya kepada ibunya hingga akhir hayat.

"Ya tentu saja saya menolak. Untuk saya yang dibesarkan oleh keluarga yang tidak ada kata bercerai," jelasnya.

Ia mencoba segala cara untuk mempertahankan rumah tangganya, mulai dari memohon, meratap, hingga menangis meminta kesempatan. Namun, keputusannya sudah bulat.

Momen itu membuatnya merasa diasingkan dan dibuang justru di saat ia paling membutuhkan dukungan. 

Ammar memposisikan dirinya sebagai orang yang sedang 'sakit' karena kecanduan, yang seharusnya dirawat, bukan ditinggalkan.

"Kecanduan adalah penyakit otak kronis yang sulit disembuhkan. Lalu kenapa orang yang sedang sakit dibuang?" ungkapnya.

"Di saat hanya dialah satu-satunya sebagai rumah tempat saya kembali pulang, tetapi malah diasingkan atas kekurangan saya," beber Ammar Zoni.

Ammar merasa dirinya ibarat orang sakit yang butuh dirawat, namun justru ditinggalkan saat paling membutuhkan dukungan.

"Kecanduan adalah penyakit otak kronis. Lalu kenapa orang yang sedang sakit dibuang? Di saat hanya dialah satu-satunya rumah tempat saya kembali pulang, tetapi malah diasingkan atas kekurangan saya," kata Ammar.

Kesedihan Ammar semakin berlipat saat mengenang kepergian sang ayah, Suhendri Zoni, ketika ia masih berada di balik jeruji besi pada kasus sebelumnya.

Ia menyebut ketidakmampuannya mendampingi sang ayah di saat terakhir sebagai dosa besar.

Momen paling menyayat hati adalah ketika ia diizinkan melihat jenazah ayahnya dalam kondisi tangan terborgol dan mengenakan rompi tahanan.

Perasaan bersalah inilah yang diakuinya menjadi pemicu depresi berat hingga ia kembali jatuh ke lubang yang sama untuk ketiga dan keempat kalinya.

Puncak emosi Ammar meledak saat ia menyampaikan pesan langsung kepada kedua buah hatinya, Air Rumi Akbar dan Amala Puti Sabai Akbar.

Ia meratapi banyaknya waktu berharga yang terbuang sia-sia di balik jeruji besi, waktu yang seharusnya ia gunakan untuk melihat mereka tumbuh besar.

"Saya minta maaf kepada anak-anak saya, Air dan Amala, maafkan Daddy ya," ucap Ammar terbata.

Ia membayangkan momen-momen sederhana sebagai ayah yang kini mustahil ia lakukan.

"Seharusnya Daddy ada melihat kalian tumbuh, mengajari kalian, membacakan cerita sebelum kalian tidur, mengantarkan kalian ke sekolah. Maafkan Daddy."

Di hadapan Majelis Hakim, Ammar menyampaikan janjinya sebagai seorang ayah.

"Daddy janji ini yang terakhir, benar-benar terakhir. Daddy janji besok lusa Daddy akan tebus semua waktu yang pernah hilang," tegasnya.

Mendekam di Sel Tikus

Ammar Zoni saat ini ditahan di sel tikus Lapas Cipinang, Jakarta Timur.

Selti adalah singkatan dari Sel Tikus, yang merupakan sebutan populer untuk sel isolasi di penjara atau kantor polisi.

Sudah tiga bulan Ammar Zoni berada di dalam selti terkait kasus ini.

Ammar Zoni berharap bisa mendapatkan hukuman ringan, bahkan tidak dikembalikan lagi ke Lapas Nusakambangan.

Mengingat terkait kasus ini sebelumnya Ammar Zoni dan lima terdakwa lainnya ditahan di Lapas Nusakambangan, namun karena permintaan hakim maka mereka dipindahkan ke Lapas Cipinang.

"Makanya minta doanya, nanti mudah-mudahan beserta putusan kita bisa turun blok gitu kan," jelas Ammar Zoni.

"Jadi warga binaan lagi, dan enggak diterbangin ke NK (Nusakambangan), mudah-mudahan. Doain aja," lanjutnya.

Ammar Zoni berharap curahan hatinya di pleidoi kali ini dapat meringankan hukumannya. 

Ia memohon kepada Majelis Hakim mendapat hukuman ringan.

"Salah satu poin pentingnya ya, saya akan menceritakan segala macam tentang rahasia diri ini gitu kan. Tentang diri ini. Ya, mudah-mudahan ini bisa jadi bahan pertimbangan hakim," tutur Ammar Zoni.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut hukuman pidana sembilan tahun penjara dan membayar denda sebesar Rp500 juta.

(Bangkapos.com/TribunSumsel.com/TribunSeleb)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.