Makna Jumat Agung 2026: Renungan Kasih, Solidaritas, dan Pengampunan
Ravianto April 03, 2026 04:11 PM

Renungan Jumat Agung

oleh Christiardo Sihombing

(Presidium Pengembangan Organisasi Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Sanctus Thomas Aquinas)

Jumat Agung bukan sekadar peringatan sejarah penyaliban Yesus Kristus dalam kalender liturgi Kristen.

Hari suci ini membawa pesan teologis mendalam yang menghubungkan penderitaan Ilahi dengan pengalaman nyata manusia di dunia yang tengah terpecah.

Melalui momen Jumat Agung, umat diajak menghayati belas kasih dan empati sebagai fondasi membangun solidaritas global yang lebih kuat.

Christiardo Sihombing (Presidium Pengembangan Organisasi Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Sanctus Thomas Aquinas)
Christiardo Sihombing (Presidium Pengembangan Organisasi Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Sanctus Thomas Aquinas) (Tribun Jabar/dok Christiardo Sihombing)

Salib: Simbol Kasih yang Konkret dan Relasional

Inti dari Jumat Agung adalah peristiwa salib, sebuah tindakan kasih Ilahi yang paling tinggi. Sebagaimana tertulis dalam Roma 5:8, "Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dengan ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita."

Teolog seperti Karl Barth dan Jürgen Moltmann menekankan bahwa penyaliban bukanlah bukti Tuhan yang jauh, melainkan Tuhan yang hadir intim dalam penderitaan manusia.

Melalui salib:

  • Allah memasuki keputusasaan: Tuhan tidak menghindari rasa sakit manusia, tetapi masuk ke dalamnya.
  • Paradoks Harapan: Di balik penderitaan, ada janji penebusan yang nyata.
  • Panggilan Kerentanan: Manusia diajak menyadari bahwa perjuangan mereka adalah bagian dari narasi eksistensi yang lebih luas.
  • Seruan Belas Kasih: Belajar dari 'Fratelli Tutti'

Jumat Agung mengingatkan kita bahwa penderitaan bersifat universal.

Ajaran sosial Katolik tentang solidaritas mendesak orang beriman untuk menanggapi luka sesama dengan tindakan nyata.

Paus Fransiskus dalam ensiklik "Fratelli Tutti" (2020) menegaskan, "Kita semua adalah saudara dan saudari."

Komunitas sejati adalah mereka yang tidak mengucilkan kaum miskin dan terpinggirkan. Pesan ini selaras dengan prinsip dasar iman: kasih kepada sesama tanpa batas.

Radikalisme Pengampunan di Atas Kayu Salib

Salah satu aspek paling menantang dari Jumat Agung adalah pengampunan.

Kata-kata Yesus, "Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34), adalah standar radikal yang melampaui logika manusia.

Tokoh seperti Desmond Tutu di Afrika Selatan telah membuktikan kekuatan transformatif pengampunan ini dalam menyembuhkan luka sosial pasca-apartheid.

Pengampunan adalah kunci untuk memutus siklus balas dendam dan memulai rekonsiliasi global.

Implikasi Nyata: Dari Teologi Menuju Aksi Global

Iman Kristen menuntut respons yang praktis. Teolog pembebasan seperti Gustavo Gutiérrez berpendapat bahwa penyaliban harus menjadi katalisator transformasi sosial.

Di era modern, komitmen ini diwujudkan oleh organisasi seperti Catholic Relief Services dan Caritas Internationalis yang bekerja di garda terdepan untuk:

  • Meringankan penderitaan korban konflik.
  • Mempromosikan martabat manusia tanpa memandang latar belakang.
  • Melawan kemiskinan dan ketidakadilan secara sistemik.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.