Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Kasus penembakan oleh aparat penegak hukum terhadap Mama Ester Pigai, seorang perempuan Lanjut Usia (Lansia) dan menderita lumpuh di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, menjadi perhatian serius berbagai kalangan, terutama kelompok perempuan Dogiyai.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun-Papua.com, Lansia ini bukan satu-satunya korban penembakan. Masyarakat melaporkan terdapat 8 korban penembakan dan 5 diantaranya meninggal di tempat karena tertembak di bagian kepala, kaki bahkan perut.
Peristiwa Dogiyai ini dinilai tidak hanya meninggalkan luka fisik bagi korban, tetapi juga menambah trauma mendalam bagi masyarakat sipil yang selama ini hidup di tengah situasi keamanan yang tidak menentu.
Baca juga: Aparat Tembak 8 Warga Dogiyai: Lansia Lumpuh dan Anak-anak Tewas di Tempat
Tokoh intelektual perempuan Dogiyai, Yusni Iyowau, mendesak agar Komnas Perempuan dilibatkan dalam tim investigasi independen guna mengusut tuntas rentetan kekerasan yang terjadi di Dogiyai.
Menurut Yusni, tim investigasi yang dibentuk harus benar-benar independen dan melibatkan berbagai unsur, mulai dari aparat keamanan, lembaga independen, pemerintah, unsur masyarakat, tokoh perempuan, tokoh adat, hingga pemuda.
“Tim yang dibentuk harus benar-benar independen, melibatkan aparat keamanan, lembaga independen, pemerintah, serta unsur masyarakat dan pemuda, sehingga kasus ini bisa ditangani secara objektif,” ujar Yusni kepada wartawan usai mengikuti dialog koalisi masyarakat Dogiyai dengan Polda Papua Tengah, Kamis (2/4/2026).
Ia menilai, keterlibatan banyak pihak sangat penting agar proses pengungkapan kasus tidak berjalan sepihak dan hasil investigasi dapat diterima semua kalangan masyarakat.
Menurut Yusni, tim dari unsur aparat keamanan maupun koalisi hukum harus bekerja secara profesional agar kasus tersebut dapat diungkap secara terang dan para pelaku dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.
Baca juga: Mobil RSUD Yowari Terbalik Usai Antar Jenazah, Dua Petugas Luka-Luka
“Tim yang dibentuk, baik dari pihak keamanan maupun koalisi hukum, harus benar-benar menangani kasus ini dengan baik dan serius,” katanya.
Yusni menyoroti kondisi korban, Ester Pigai, yang disebut sama sekali tidak mengetahui persoalan yang sedang terjadi, namun justru menjadi korban dalam insiden penembakan tersebut.
“Seorang ibu, Mama Ester Pigai yang sudah berusia 60 tahun, tidak tahu apa-apa soal persoalan ini, tetapi justru menjadi korban penembakan liar yang terjadi saat itu,” ungkapnya.
Berdasarkan informasi yang diterima, Mama Ester Pigai merupakan perempuan lanjut usia yang telah lama mengalami cacat kelumpuhan. Ia diduga ditembak di bagian badan oleh aparat keamanan saat melakukan operasi pengejaran terhadap sejumlah pemuda di Kampung Ikebo, Distrik Kamuu Induk, Kabupaten Dogiyai.
Peristiwa itu disebut terjadi di dalam rumah korban saat ia sedang beristirahat pada siang hari. Kondisi tersebut membuat keluarga dan masyarakat sekitar merasa terpukul karena korban dianggap tidak memiliki kaitan dengan peristiwa yang sedang berlangsung.
Baca juga: Persiba Gratiskan Tiket Pertandingan Lawan Persipura, Ajak Suporter Dukung Langsung di Stadion
Yusni mengatakan, insiden tersebut menjadi bukti bahwa perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya menjadi pihak yang paling terdampak dari konflik dan kekerasan yang terjadi di Dogiyai.
Karena itu, ia kembali menegaskan pentingnya pelibatan Komnas Perempuan dalam proses investigasi, agar ada perhatian khusus terhadap dampak kekerasan yang dialami perempuan dan anak-anak.
“Kami berharap Komnas Perempuan juga dilibatkan untuk turun langsung melihat kasus ini. Harus dilibatkan, karena korbannya juga perempuan,” tegasnya.
Selain korban luka dan korban jiwa, Yusni menilai situasi di Dogiyai saat ini juga telah menimbulkan trauma mendalam bagi masyarakat. Banyak warga disebut takut beraktivitas, terutama perempuan dan anak-anak.
“Banyak masyarakat mengalami trauma, apalagi perempuan dan anak-anak. Situasi ini membuat aktivitas tidak berjalan seperti biasa, bahkan Dogiyai seperti kota mati,” kata Yusni.
Baca juga: Mobil RSUD Yowari Terbalik Usai Antar Jenazah, Dua Petugas Luka-Luka
Ia menjelaskan, aktivitas ekonomi masyarakat, kegiatan pendidikan, hingga pelayanan publik ikut terganggu akibat situasi keamanan yang memanas.
Menurutnya, warga kini hidup dalam ketakutan karena khawatir sewaktu-waktu kembali terjadi kekerasan maupun operasi keamanan di tengah permukiman warga.
“Kami sendiri sebagai orang Dogiyai juga merasakan trauma dengan situasi ini,” ujarnya.
Yusni berharap proses hukum terhadap kasus tersebut dilakukan secara transparan, adil, dan terbuka guna memulihkan kepercayaan publik serta menghapus stigma negatif terhadap Dogiyai.
Ia meminta seluruh pihak, baik pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, maupun lembaga HAM, bersama-sama mencari solusi damai agar tidak ada lagi korban berjatuhan di Dogiyai.
Baca juga: Tragedi Berdarah Dogiyai, ULMWP Desak PBB Turunkan Tim Investigasi ke Papua
“Untuk menghapus stigma buruk terhadap Dogiyai, kami mohon agar tim yang dibentuk benar-benar menginvestigasi kasus ini dengan benar, serta menangkap dan mengadili para pelaku sesuai hukum yang berlaku di Indonesia,” tutupnya.(*)