TRIBUNGORONTALO.COM -- Perayaan ibadah Jumat Agung di Gereja Protestan di Indonesia Gorontalo (GPIG) Jemaat Imanuel, Kota Gorontalo, berlangsung dengan penuh kekhidmatan pada Jumat (3/4/2026).
Sejak pagi hari, gereja yang berada di Jalan Pangeran Kalengkongan, Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi itu sudah dipenuhi jemaat yang datang untuk mengikuti ibadah memperingati wafatnya Yesus Kristus.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kehadiran jemaat mulai terlihat sejak pukul 09.00 Wita.
Jumlahnya terus bertambah hingga mendekati waktu pelaksanaan ibadah, membuat seluruh kursi di dalam gereja terisi.
Baca juga: Penikaman di Kota Gorontalo, Terduga Pelaku Masih Usia 21 Tahun, Diduga tak Terima Ditegur
Lonjakan jemaat yang hadir membuat panitia harus menyediakan tenda tambahan di luar gedung utama, guna menampung mereka yang tidak lagi mendapatkan tempat di dalam ruangan.
Selama ibadah berlangsung, suasana terasa tenang dan penuh penghayatan. Rangkaian kegiatan dimulai dengan doa bersama, dilanjutkan pembacaan Alkitab serta puji-pujian yang diikuti seluruh jemaat.
Sebagian jemaat terlihat membawa Alkitab pribadi, sementara lainnya mengikuti jalannya ibadah melalui perangkat telepon genggam.
Kehadiran jemaat tampak merata dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia yang turut ambil bagian dalam peringatan Jumat Agung tersebut.
Ibadah semakin menyentuh ketika pemuda jemaat Imanuel menampilkan drama tentang kisah penyaliban Yesus Kristus. Penampilan ini menambah nuansa haru dalam momen perenungan.
Ketua Panitia Hari Raya Gerejawi, Pnt Vita Karepouwan, menyampaikan bahwa Jumat Agung merupakan momen penting bagi umat Kristiani untuk mengingat pengorbanan Yesus.
Baca juga: Jemput Bola ke Pusat, Pemkab Bone Bolango Gorontalo Lobi Anggaran Irigasi hingga Jalan
“Makna dari Jumat Agung hari ini adalah pengorbanan Tuhan Yesus yang sungguh luar biasa untuk kita semua. Di mana Tuhan Yesus rela mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia,” ujarnya saat diwawancarai di sela kegiatan.
Ia menjelaskan, ibadah utama berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.00 Wita. Setelah itu, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Perjamuan Kudus yang dibagi ke dalam dua sesi.
“Untuk sesi pertama Perjamuan Kudus dilaksanakan pukul 14.00 Wita, kemudian sesi kedua pada pukul 17.00 Wita,” jelasnya.
Rangkaian perayaan tidak berhenti di Jumat Agung. Jemaat juga dijadwalkan mengikuti ibadah Paskah pada Minggu (5/4/2026) sebagai peringatan kebangkitan Yesus Kristus.
“Kami berharap seluruh rangkaian ibadah ini dapat diikuti dengan penuh penghayatan oleh jemaat,” tambahnya.
GPIG Jemaat Imanuel sendiri dikenal sebagai salah satu gereja tertua di Kota Gorontalo yang memiliki nilai sejarah panjang.
Keberadaannya bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sosial dan keagamaan masyarakat setempat sejak awal abad ke-20, ketika komunitas Kristen Protestan mulai berkembang di wilayah tersebut.
Seiring waktu, gereja ini menjadi salah satu jemaat penting dalam lingkup Gereja Protestan di Indonesia Gorontalo (GPIG), yang menaungi umat Protestan di daerah ini.
Hingga kini, berbagai kegiatan pelayanan terus dilakukan, mulai dari pembinaan rohani hingga pendidikan iman bagi jemaat dari berbagai generasi.
Dari sisi bangunan, gereja ini masih mempertahankan bentuk aslinya yang sederhana namun kokoh. Ciri khas arsitektur gereja Protestan klasik terlihat dari desain yang menekankan fungsi dan suasana ibadah yang khusyuk.
Interiornya didominasi ruang ibadah utama dengan susunan bangku yang tertata rapi, serta penggunaan material kayu yang masih terjaga dengan baik.
Selain fungsi religius, gereja ini juga menjadi tempat berkumpulnya masyarakat lintas latar belakang dalam berbagai kegiatan keagamaan.
Setiap perayaan besar seperti Natal, Jumat Agung, dan Paskah, jumlah jemaat yang hadir selalu meningkat signifikan.
Di tengah keberagaman masyarakat Kota Gorontalo, GPIG Imanuel juga mencerminkan nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
Gereja ini aktif menjalin hubungan dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan aparat keamanan, demi memastikan setiap kegiatan berjalan aman dan lancar.
Hingga saat ini, GPIG Imanuel tetap berdiri sebagai pusat pembinaan iman sekaligus bagian dari sejarah panjang perkembangan umat Kristen Protestan di Gorontalo.
(*)