TRIBUNMANADO.CO.ID – Jemaat Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Bukit Hermon Kinaleosan mengikuti Ibadah Jumat Agung dan Sakramen Perjamuan Kudus, Jumat (3/4/2026).
Gereja ini berada di Desa Kinaleosan, Kecamatan Kombi, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Ibadah dimulai pada pukul 10.00 WITA dan berlangsung khusyuk serta penuh penghayatan.
Jumat Agung merupakan momen sakral bagi umat Kristen untuk mengenang momen penyaliban dan kematian Yesus Kristus sebagai penebus dosa umat manusia.
Ratusan jemaat tampak hadir, memenuhi ruang gereja dengan suasana hening dan penuh perenungan.
Mayoritas jemaat mengenakan busana serba hitam sebagai simbol duka dan penghayatan atas pengorbanan Yesus Kristus.
Meski sempat terjadi gempa saat ibadah berlangsung, jemaat tetap tenang dan fokus mengikuti rangkaian ibadah.
Pantauan Tribunmanado.co.id di lokasi, nuansa Jumat Agung langsung terasa sejak memasuki ruang gereja.
Di bagian tengah ruangan, tampak meja berbentuk salib yang ditata sebagai meja perjamuan, dibalut kain hitam dengan lapisan kain putih di atasnya.
Pada ujung meja yang menghadap pintu masuk terpasang pita kain berwarna putih.
Sementara bagian meja yang berada di depan mimbar, telah disiapkan perlengkapan Perjamuan Kudus seperti cawan, anggur, roti, hingga nampan.
Sakramen Perjamuan Kudus diikuti 123 anggota sidi jemaat yang hadir, termasuk pendeta dan pelayan khusus.
Perjamuan Kudus menjadi sakramen utama yang melambangkan persekutuan umat percaya dengan Kristus melalui roti dan anggur.
Ibadah dipimpin Ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ) GMIM Bukit Hermon Kinaleosan, Pdt DR Clement Wuysang MTh.
Dalam ibadah tersebut, pembacaan Alkitab diambil dari Kitab 1 Korintus 11:27-34 dengan tema khotbah, “Barangsiapa Makan dan Minum Tanpa Mengakui Tubuh Tuhan, Ia Mendatangkan Hukuman Atas Dirinya.”
Dalam khotbahnya, Pdt Clement menekankan bahwa kasih, kepada Tuhan dan sesama, menjadi alat frontal bagi umat percaya untuk hidup menyebarluaskan kekristenan.
"Dan kasih itulah yang menjadi identitas Allah yang juga menjadi identitas orang percaya," kata Pdt Clement.
Ia juga mengutip ayat Alkitab yang terdapat dalam Yohanes 15:13 (TB), yang berbunyi, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
“Sudahkah Anda menjadi sahabat yang setia bagi orang-orang yang ada di sekitar Anda?” kata sang khadim.
Dalam khotbahnya, Pdt Clement juga turut menyampaikan kisah perjalanan Yesus menuju Golgota yang sarat makna pengorbanan.
Yesus memilih jalan salib demi keselamatan umat manusia. Proses tersebut berkaitan dengan kasih kekal Allah yang melampaui kehidupan manusia.
Ia menegaskan bahwa persembahan dalam hukum Taurat tidak memberikan kekekalan seperti halnya pengorbanan Kristus.
“Kalau kita baca kitab Ibrani, persembahan kambing jantan dan domba jantan itu bukan hakekat untuk penghapusan dosa. Karena kambing jantan, domba jantan, lembu jantan, persembahan pun sesuai hukum Taurat tidak dapat membuat kekal," kata Ketua BPMJ GMIM Bukit Hermon Kinaleosan tersebut.
Melalui kematian dan pengorbanan Yesus di kayu salib lah umat percaya memperoleh jaminan kehidupan kekal yang tidak terbatas.
“Yang bisa membuat kekal, saya dan saudara, adalah kasih yang kekal, pribadi yang kekal, yang datang ke dunia mengosongkan diri, merengkuh saya dan saudara," tegasnya.
Dengan penghayatan Jumat Agung dan Perjamuan Kudus, jemaat diingatkan bahwa me8reka adalah bagian dari orang-orang yang telah dipersekutukan dengan Kristus.
Umat percaya pun diajak untuk terus hidup dalam kasih dan keselamatan yang telah dianugerahkan. (Yes)