TRIBUNMANADO.CO.ID - Suasana khidmat dan penuh perenungan menyelimuti pelaksanaan Sakramen Perjamuan Kudus dalam Ibadah Jumat Agung di GMIM Betlehem Kawangkoan Baru, Minahasa Utara, Jumat (3/4/2026).
Sekitar 478 jemaat mengikuti sakramen ini dengan tertib dan penuh penghayatan.
Dalam keheningan ibadah yang sarat makna, jemaat menerima roti dan anggur di meja perjamuan yang ditata berbentuk salib, sebagai lambang tubuh dan darah Yesus Kristus.
Momen tersebut menjadi puncak perenungan iman.
Baca juga: Khusyuk, Pesan Kasih dan Penebusan Menggema di Ibadah Jumat Agung GMIM Betlehem Kawangkoan Baru'
Dimana kita diajak untuk mengingat kembali pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai karya penebusan bagi umat manusia.
Dipimpin oleh Pendeta Fietje Vera Macawalang, S.Th, sakramen dilayankan dengan penuh kekhusyukan, sementara jemaat mengikuti setiap prosesi dengan sikap hormat dan hati yang reflektif.
Dalam khotbanya, Pdt. Fietje menjelaskan bahwa keagungan Jumat Agung tidak terletak pada nama harinya, melainkan pada peristiwa besar yang terjadi di dalamnya.
“Keagungan itu bukan pada harinya, tetapi pada peristiwa agung ketika Yesus Kristus yang tanpa noda disalibkan untuk menebus dosa manusia,” ujarnya.
Ia menegaskan, Perjamuan Kudus bukan sekadar tradisi gerejawi, melainkan momentum sakral untuk mengingat tubuh dan darah Kristus yang dikorbankan demi keselamatan manusia.
“Ketika kita mengikuti Perjamuan Kudus, kita mengingat Dia yang telah berkorban untuk menebus dosa manusia,” tambahnya.
Lebih dari sekadar seremoni, Perjamuan Kudus menjadi perjumpaan rohani yang memperteguh iman, sekaligus mengajak jemaat menghidupi nilai kasih, pengampunan, dan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari.
Jumat Agung melalui sakramen ini pun menjadi pengingat bahwa di balik penderitaan salib, terdapat kasih yang sempurna dan penebusan yang membawa harapan baru bagi setiap orang yang percaya.
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini